Al Quran
Beranda » Berita » Rusaknya Hutan dan Terjadinya Banjir, Karena Rusaknya Lisan dan Hati

Rusaknya Hutan dan Terjadinya Banjir, Karena Rusaknya Lisan dan Hati

SAJADA.ID-Hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Intensitasnya teramat lebat, hingga mengakibatkan bencana di berbagai daerah. Yang cukup besar, terjadi di wilayah Sumatera seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan rumah hanyut, jalan rusak, fasilitas umum hancur, serta ribuan warga mengungsi dan terdampak kesehatan. Bahkan, ratusan jiwa dikabarkan meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Musibah ini menjadi duka bersama bagi bangsa Indonesia. Namun bagi seorang Muslim, setiap peristiwa selalu mengandung pesan dan pelajaran dari Allah SWT. Bencana bukan semata fenomena alam, tetapi juga peringatan agar manusia melihat kembali bagaimana mereka memperlakukan bumi ini.

Allah SWT berfirman:

Astrofisikawan Harvard Buktikan “Jejak” Keberadaan Tuhan Melalui Matematika

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Dalam Tafsir Kementerian Agama RI dijelaskan, kerusakan alam terjadi karena perilaku manusia: eksploitasi berlebihan, penebangan liar, pencemaran, peperangan, hingga percobaan senjata yang membahayakan ekosistem. Semua itu dilakukan oleh mereka yang lalai bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Meski demikian, Allah masih menahan sebagian besar akibat buruk perusakan itu. Alam memiliki sistem pemulihan alami yang merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bila seluruh dampak itu dilepaskan, niscaya manusia akan musnah dari muka bumi.

Allah SWT berfirman pula:

Waspada, Siklon Tropis Senyar Merupakan yang Tertinggi Sejak 1991

وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُوا۟

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun ” (QS. Fatir: 45)

Musibah yang terjadi mengingatkan kita agar kembali kepada jalan yang lurus: menjaga alam, mematuhi aturan ekosistem yang ditetapkan-Nya, serta menjauhi kesombongan dan kemusyrikan. Sebab kemusyrikan itu sendiri begitu besar dosanya, hingga alam pun hampir tak sanggup menopangnya.

Allah berfirman:

Dialektika Sawit dan Perubahan Iklim: Akademisi, BMKG, dan Industri Dorong Solusi Kolaboratif

تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ

“Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan syirik itu).” (QS. Maryam: 90)


Tafsir Abu Bakar: Daratan Adalah Lisan, Lautan Adalah Hati

Dalam Nashaih al-‘Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani, disebutkan tafsir Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA tentang ayat Ar-Rum: 41:

البر هو اللسان والبحر هو القلب

“Daratan adalah lisan dan lautan adalah hati. Ketika lisan rusak, manusia menangisinya. Tetapi ketika hati rusak, para malaikat yang menangisinya.”

Lisan yang rusak terlihat pada makian, fitnah, menyebar kebencian, dan ujaran dosa lainnya. Sedangkan hati yang rusak tampak dalam sifat riya, sombong, dengki, serta kerusakan aqidah. Bila hati rusak, seluruh anggota tubuh mengikuti kerusakannya.

Warek USU: Antisipasi Bencana Perlu Kolaborasi Semua Pihak

Karena itu syariat mengingatkan, manusia memiliki dua mata dan dua telinga, agar lebih banyak melihat dan mendengar ketimbang berbicara. Lisan hanya satu—maka hendaknya ia dijaga sebaik mungkin.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seutama-utama Islam adalah seorang Muslim yang kaum Muslimin selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

BMKG: Perubahan Iklim Global Picu Lonjakan Bencana Hidrometeorologi di Sumatra

Hadits ini menegaskan bahwa menjaga lisan dan perbuatan adalah inti dari kesempurnaan iman. Tidak mencelakai sesama, tidak menyebar kebencian, tidak merusak ciptaan Allah—baik manusia maupun alam.


Menjaga Bumi, Menyelamatkan Diri

Kerusakan alam sering kali berawal dari kerusakan hati dan etika manusia dalam mengelola karunia bumi. Maka memperbaiki bumi harus dimulai dari memperbaiki diri: akhlak, ibadah, dan kepatuhan kepada Sang Pencipta. Karena bumi adalah amanah. Dan setiap amanah kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Sawit Dinilai Berkontribusi Besar Dorong Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana

Saat bencana datang, kita tidak hanya dituntut bersimpati, tetapi juga berbenah diri, menolong sesama, dan menjadikan alam sebagai sahabat, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT.

Semoga musibah ini menjadi peringatan yang menyadarkan. Semoga Allah menjaga negeri ini, memberi kekuatan kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana, dan menjadikan Indonesia kembali aman, lestari, dan penuh keberkahan. Aamiin.

(Syahruddin/sajada.id/)