SAJADA.ID, DEPOK– Sebanyak 360 perempuan dari 14 grup angklung se-Jabodetabek akan menyatukan bunyi bambu dalam Harmoni Angklung 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap angklung sekaligus memperkuat semangat kebersamaan melalui seni budaya. Harmoni Angklung 2026 akan berlangsung di Mal Depok Town Square (Detos), Minggu (11/10/2026).
Antusiasme peserta terlihat saat mengikuti technical meeting yang digelar di lokasi kegiatan, Senin (28/9/2026). Para peserta mendapatkan penjelasan teknis terkait pelaksanaan dan penilaian sebelum tampil dalam ajang tersebut.
Ketua Panitia Harmoni Angklung 2026, Wien, mengatakan kegiatan ini diikuti 14 grup dari berbagai komunitas dan organisasi di wilayah Jabodetabek.
“Harmoni Angklung 2026 akan diikuti 360 peserta ibu-ibu dari 14 group angklung se-Jabodetabek. Panitia akan menebar banyak doorprize untuk memacu semangat para peserta,” ujarnya.
Ke-14 grup tersebut terdiri atas Paguyuban Angklung Semanggi, Suluk Nusantara, Srikandi, Simfoni Gladio, Puspasri, Harmoni Senja, Sanggar Budaya Matahari, Kenanga, Hermosa Angklung & Choir, Aisyiyah Cabang Sawangan, Selasih, Happy Rivaria, Gersumas, dan Alumni Bank Mandiri Depok.
Wien menjelaskan, Harmoni Angklung 2026 dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai unsur masyarakat melalui musik tradisional.
“Harmoni Angklung 2026 merupakan kegiatan yang mempertemukan sanggar seni, komunitas, organisasi, instansi, dan masyarakat dalam semangat kebersamaan melalui seni musik angklung,” jelasnya.
Angklung merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat dan lekat dengan kebudayaan masyarakat Sunda. Alat musik berbahan bambu tersebut dimainkan dengan cara digoyangkan hingga menghasilkan bunyi yang khas.
Dalam perkembangannya, angklung tidak hanya menjadi bagian dari tradisi masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai seni pertunjukan dan sarana pendidikan serta kebersamaan.
Warisan Budaya Takbenda
UNESCO menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 16 November 2010. Momentum tersebut kemudian menjadi bagian dari peringatan Hari Angklung Sedunia setiap 16 November.
Dalam Harmoni Angklung 2026, peserta akan dinilai berdasarkan sejumlah aspek, antara lain kekompakan dan harmonisasi, kreativitas dan ekspresi, serta penampilan dan penguasaan panggung.
PWI Kota Depok bersama Pemerintah Kota Depok mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan seni dan budaya, khususnya angklung sebagai warisan budaya masyarakat Jawa Barat.

Ketua PWI Kota Depok Rusdy Nurdiansyah mengatakan harmonisasi dalam permainan angklung dapat menjadi simbol penting bagi kehidupan masyarakat.
“Harmonisasi angklung adalah paduan nada yang dimainkan berkelompok yang menghasilkan alunan musik yang indah dan selaras. Tentu, kami berharap juga harmonisasi terjalin di tengah kehidupan masyarakat Kota Depok,” tuturnya.
Ia berharap Harmoni Angklung 2026 dapat menjadi pijakan menuju Festival Angklung 2027 yang direncanakan menjadi agenda tetap di Kota Depok.
Rencananya, Harmoni Angklung 2026 yang juga mendapat dukungan Badan Komunikasi Kepresidenan Republik Indonesia (Bakom RI) akan dibuka Wali Kota Depok Supian Suri.
Sejumlah pihak turut mendukung kegiatan tersebut, di antaranya Toko Daging Nusantara, PT Tirta Asasta Depok, PT Karabha Digdaya, PLN Icon Plus, PLN, Bank BJB, Evenciio Apartment Margonda, Padel Lago & Luna Coffee Eatery, Bonte Holistik Nusantara, The Margo Hotel, Hotel Santika Depok, dan Savero Hotel Depok.
(Syahruddin/sajada.id)






Komentar