
Perbedaan Tafsir Antara Kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim
sajada.id/–Dalam Al-Qur’an terdapat banyak kata yang sama atau berulang. Di antaranya adalah Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm. Secara umum, kedua kata itu memiliki makna yang sama dari huruf ra, ha, dan mim. Maknanya adalah menyayangi, kuat (kokoh), dan mengasihi.
Secara istilah, masing-masing kata itu memiliki makna yang berbeda. Perbedaan maksud dan majna ini tentu saja ada tujuannya.
1. Ar-Rahmān: Menunjukkan rahmat Allah yang luas, meliputi seluruh makhluk, baik yang beriman maupun kafir.Rahmat ini bersifat umum, menyeluruh, dan langsung dari Allah kepada semua ciptaan-Nya. Sifat dzatiyyah (melekat pada Dzat Allah).
2. Ar-Rahīm: Menunjukkan rahmat Allah yang khusus, yaitu kepada orang-orang beriman, terutama kelak di akhirat.Rahmat ini terkait dengan amal dan ibadah, serta konteks balasan dan kasih sayang khusus. Sifat fi'liyyah (berkaitan dengan perbuatan Allah).
Namun demikian, secara jumlah, kata Ar-Rahmān dan Ar-Rahim dalam Al-Qur’an iru berbeda. Kata Ar-Rahmān (الرَّحْمَٰن) disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 57 kali. Sedangkan kata Ar-Rahīm (الرَّحِيم) disebut sebanyak 114 kali, termasuk dalam setiap Basmalah di awal surah (kecuali Surah at-Taubah).
Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Mengapa kata Ar-Rahīm disebut lebih banyak dibandingkan kata Ar-Rahmān.
1. Al-Qurthubi dalam Tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur’an berkata:
“Ar-Rahmān adalah nama yang khusus bagi Allah dan tidak boleh digunakan untuk selain-Nya. Karena itulah penggunaannya dalam Al-Qur’an terbatas. Adapun Ar-Rahīm lebih luas penggunaannya, karena juga bisa digunakan untuk makhluk (sebagai sifat), dan karena itu disebut lebih banyak.” (Al-Qurthubi, Tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur’an, Juz 1, hlm. 95).
2. Ibnul Qayyim dalam Bada’i’ al-Fawa’id:
“Ar-Rahmān menunjukkan sifat rahmat yang menyeluruh kepada seluruh makhluk. Adapun Ar-Rahīm menunjukkan rahmat-Nya yang khusus kepada orang-orang beriman. Karena pembicaraan dalam Al-Qur’an banyak berkaitan dengan orang-orang beriman dan amal mereka, maka Ar-Rahīm lebih sering disebut.” (Ibnul Qayyim, Bada’i’ al-Fawa’id, Juz 1, hlm. 24).
3. Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib (Tafsir ar-Razi):
“Penyebutan Ar-Rahīm lebih banyak karena ia juga digunakan dalam konteks balasan rahmat, sedangkan Ar-Rahmān bersifat dzati dan tidak dikaitkan dengan amal manusia. Maka ketika berbicara tentang pahala, surga, ampunan, lebih banyak digunakan Ar-Rahīm.” (Ar-Razi, Tafsir Mafatih al-Ghaib, Juz 1, hlm. 158).
4. As-Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman:
“Ar-Rahmān adalah pemilik rahmat yang luas, sedangkan Ar-Rahīm adalah pelaksana rahmat itu kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Oleh karena itu, dalam banyak ayat yang berbicara tentang rahmat kepada mukmin, nama Ar-Rahīm lebih dominan.” (As-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalami al-Mannan, hlm. 33).
Lalu apa hikmahnya dari perbedaan penyebutan itu?
Ar-Rahmān lebih agung dan lebih global, oleh karena itu penyebutannya dijaga untuk konteks tertentu, seperti dalam ayat:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
"Ar-Rahmān bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaha: 5)
Adapun Ar-Rahīm lebih berkaitan dengan interaksi langsung Allah kepada hamba-Nya dalam bentuk balasan atas keimanan, sehingga lebih sering digunakan dalam konteks ibadah, pahala, dan akhirat.
Perbedaan jumlah antara "ar-Rahmān" dan "ar-Rahīm" mengandung hikmah kebahasaan dan teologis yang dalam. Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan kebijaksanaan dan kesempurnaan sifat Allah dalam membagikan rahmat-Nya, baik kepada semua makhluk (rahmat umum) maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman (rahmat khusus).
Wallahu a'lam.
(Syahruddinsajada.id/)


