
Begini Rancangan Posisi Tempat Wudhu Duduk yang Baik
Oleh Syahruddin El Fikri
sajada.id/—Sahabat yang dirahmati Allah SWT.
Wudhu merupakan salah satu amalan ibadah yang agung di dalam Islam. Secara bahasa, wudhu berasal dari kata Al-Wadha’ah, yang mempunyai arti kebersihan dan kecerahan. Sedangkan menurut istilah, wudhu adalah menggunakan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu (yaitu wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki) untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau ibadah lain (Albatawy, 2012).
Kesempurnaan shalat sangat tergantung dengan kesempurnaan wudhu dan dilakukan sebelum melaksanakan ibadah shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima apabila ia berhadas sehingga ia berwudhu.” (HR. Abu Hurairah).
Baca Juga: Rahasia Keutamaan Wudhu
Menurut penelitian Qurtubi dan Hari Purnomo, agar diperoleh kualitas wudhu yang baik diperlukan fasilitas wudhu yang bisa menjamin kesempurnaan dalam berwudhu. Pada umumnya masyarakat di Indonesia berwudhu dengan posisi berdiri. Rancangan tempat wudhu dengan posisi duduk relatif sedikit di Indonesia dan tempat wudhu tersebut belum memperhatikan aspek ergonomi dalam perancangannya.
Melakukan aktivitas dengan posisi duduk lebih baik daripada berdiri karena pada saat duduk kaki tidak menerima beban tubuh dimana tubuh dibebankan pada tempat duduk (Anies dalam Suparwoko, 2010). Bekerja dengan duduk pergerakaan tangan akan terkontrol dengan baik (Wickens, et al., 2004). Hal ini juga berlaku untuk berwudhu.
Qurtubi dan Hari Purnomo menjelaskan, wudhu dengan posisi duduk memberikan kebersihan dan kenyamanan yang lebih dibandingkan wudhu dengan posisi berdiri. Wudhu dengan posisi duduk bisa terhindar dari kelelahan punggung akibat membungkuk khususnya bagi orang yang lanjut usia.
“Sedangkan wudhu dengan posisi berdiri bisa menyebabkan tubuh tidak seimbang ketika harus berdiri dengan satu kaki pada saat mencuci kaki,” ujar Qurtubi dan Hari Purnomo. Hal lain yang menjadi perhatian bahwa wudhu dengan posisi duduk juga menjadikan suasana berwudhu lebih tenang dan santai sehingga kualitas wudhu bisa lebih terjaga.
Baca Juga: A to Z Masalah Wudhu
Lebih lanjut Qurtubi dan Hari Purnomo menjelaskan, hal ini selaras dengan pernyataan Pheasant dan Haslegrave (2006) yang menyatakan bahwa beraktivitas dengan posisi duduk otot terasa lebih rileks karena badan didukung oleh tempat duduk. Aktivitas dengan posisi duduk tubuh menjadi terjaga keseimbangannya dan lebih aman (Purnomo, 2012).
Tempat wudhu dengan duduk telah banyak di gunakan di beberapa masjid di Indonesia, akan tetapi tempat wudhu tersebut menimbulkan masalah dan keluhan bagi para pengguna. Persoalan utama adalah tempat wudhu duduk tidak dirancang sesuai dengan dimensi tubuh pengguna.
Rancangan fasilitas yang sering menjadi masalah pagi pengguna adalah posisi keran yang terlalu tinggi dan jarak antara tempat duduk dengan keran, sehingga menyebabkan cipratan air mengenai tubuh. Persoalan tersebut menyebabkan pengguna tidak memanfaatkan tempat duduk dan melakukan wudhu dengan berdiri.
Penelitian sebelumnya terkait dengan tempat wudhu dilakukan oleh Suparwoko (2010). Hasil penelitian tersebut lebih menekankan pada aspek tata ruang sedangkan ukuran yang digunakan dengan analogi berdasarkan rancangan yang telah ada.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Saktiwan (2010) yaitu perancangan ulang tempat wudhu lansia meliputi penambahan tempat duduk wudhu, penambahan pijakan kaki, merancang ketinggian keran sesuai posisi duduk, mengganti keran yang mudah dibuka dengan pegangan keran yang panjang dan penambahan hand rail, perancangan komponen ini berdasarkan pendekatan antropometri lansia pengguna tempat wudhu.
Hardian (2011) melakukan penelitian terkait dengan kajian secara ergonomi tempat wudhu umum dalam lingkungan virtual. Sedangkan pada penelitian ini lebih ditekankan pada rancangan tempat wudhu dengan posisi duduk yang ditinjau dari aspek ergonomi.
Berdasarkan pada permasalahan yang terjadi pada tempat wudhu duduk dan beberapa penelitian terdahulu, maka pada penelitian ini akan dilakukan rancangan ulang tempat wudhu duduk dengan mengevaluasi tempat wudhu yang telah ada. Rancangan tempat wudhu duduk ini lebih ditekankan pada tinjauan ergonomi dengan menggunakan data antropometri.
Baca Juga: Bukan Berdiri, Begini Posisi Wudhu yang Baik
Sander & Mc.Cormick (1987) mendefinisikan antropometri sebagai pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai orang.
Panero dan Zelnik (1979) menjelaskan bahwa perancangan tempat duduk harus memungkinkan untuk melakukan perubahan variasi, disesuaikan dengan antropometri pengguna dan fleksi lutut membentuk 90o dengan telapak kaki. Antropometri juga dapat digunakan sebagai dasar perancangan stasiun kerja yang menjadi lebih aman dan nyaman (Prado-Lu, 2007).
Penerapan data antropometri dewasa ini telah digunakan pada semua aspek kehidupan. Ketidaksesuaian hasil rancangan dengan dimensi tubuh manusia akan berdampak pada ketidaknyamanan dalam penggunaannya.
Rancangan Tempat Wudhu
Untuk memudahkan masyarakat atau pengurus masjid maupun mushola membuat tempat wudhu duduk, Qurtubi dan Hari Purnomo membuat rancangan tempat wudhu duduk. Rancangan tempat wudhu dilakukan dengan konsep parsipatori dengan melibatkan pihak tekait seperti ahli ergonomi, arsitek maupun pengguna tempat wudhu. Langkah-langkah yang dilakukan adalah :
1. Penyamaan persepsi terhadap anggota tim tentang rancangan tempat wudhu dengan posisi berdiri untuk membahas konsep tempat wudhu yang ergonomis.
2. Pemilihan data antropometri yang digunakan untuk perancangan tempat wudhu. Data antropometri yang digunakan adalah Tinggi bahu berdiri (Tbb), Tinggi bahu duduk (Tbd), Tinggi popliteal (Tpo), Lebar pinggul (Lp), Panjang popliteal-pantat (Ppp), Jangkauan horisontal duduk (Jhd), dan lebar bahu (Lb).
3. Menentukan nilai persentil yang disesuaikan dengan kebutuhan rancangan. Aturan yang digunakan adalah : (a) Tempat barang menggunakan dimensi Tbb dengan persentil ke-95; (b) Tinggi keran menggunakan dimensi Tbd dan Tpo dengan persentil ke-5 (Tinggi keran = Tbd +Tpo); (c) Tinggi tempat duduk menggunakan dimensi Tpo dengan persentil ke-5; (d) Lebar tempat duduk menggunakan dimensi Lp dengan persentil ke-95; (e) Panjang tempat duduk menggunakan dimensi Ppp dengan persentil ke-5; (f) Jarak antara tempat duduk dengan keran menggunakan dimensi Ppp dengan persentil ke-5; (g) Jarak antar tempat duduk menggunakan dimensi Lb dengan persentil ke-95; dan (h) Tempat sabun menggunakan dimensi Tbd dengan persentil ke-5 ditambah dengan 10 cm diatas Tbd (10 cm di atas keran).
Implementasi data antropometri terhadap rancangan peralatan dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Tbb digunakan untuk merancang tempat barang dengan menggunakan persentil ke-95. Penggunaan persentil ini ditujukan agar tidak terlalu pendek namun masih dalam kenyamanan untuk menaruh dan mengambil barang. Tempat menaruh barang dianjurkan tidak terlalu lebar agar pengguna tidak terbentur pada saat berdiri setelah berwudhu;
(2) Tbd digunakan untuk menentukan ketinggian keran tempat wudhu dengan menggunakan persentil ke-5 dengan tujuan agar jarak keran dengan kaki dekat untuk menghindari cipratan air ke tubuh (Tinggi keran = Tbd +Tpo);
(3) Tpo digunakan untuk menetapkan ketinggian tempat duduk dengan menggunakan persentil ke-5 agar terjadi kemudahan penggunaan antara orang yang tungkainya pendek untuk duduk,
(4) Lp digunakan untuk merancang lebar tempat duduk dengan menggunakan persentil ke-95. Pertimbangan mengambil persentil ini agar pengguna yang paling besar pinggulnya dapat menggunakan tempat duduk tersebut;
(5) Ppp digunakan untuk menentukan panjang tempat duduk dengan menggunakan persentil ke-5 dengan pertimbangan panjang tempat duduk tidak boleh terlalu panjang agar nyaman digunakan;
(6) Jhd digunakan untuk menentukan jarak antara tempat duduk ke keran, dengan menggunakan persentil ke-5, hal ini diharapkan pengguna mudah menjangkau keran tanpa harus membungkuk atau memiringkan badan;
Baca Juga: Begini Posisi Wudhu yang Baik
(7) Lb digunakan untuk menetapkan jarak antar tempat duduk, persentil yang digunakan adalah persentil ke-95 dengan pertimbangan orang yang bahunya paling besar dapat melewati ruang antar tempat duduk;
(8) Tinggi pijakan kaki diasumsikan setengah dari tinggi popliteal, dengan tinggi ini diharapkan kaki tidak terangkat terlalu tinggi agar masih jadi keseimbangan tubuh dalam duduk. Tinggi pijakan kaki jangan terlalu rendah yang menyebabkan membungkuk terlalu dalam. Jarak antar keran dihitung dari jarak antar tempat duduk ditambah dengan Lp. Sedangkan tinggi tempat sabun diasumsikan 10 cm diatas tinggi keran.
Dengan demikian ukuran tempat wudhu duduk adalah tinggi tempat barang 149 cm, tinggi tempat sabun 98,4 cm, tinggi keran 88,4 cm, tinggi tempat duduk 36,4 cm, panjang tempat duduk 37,6 cm, lebar tempat duduk 43,9 cm, jarak antara tempat duduk ke keran 58,4 cm, jarak antar tempat duduk 51,7 cm dan jarak antar keran 95,6 cm untuk laki-laki.
Sedangkan untuk perempuan tinggi tempat barang 138,2 cm, tinggi tempat sabun 90 cm, tinggi keran 80 cm, tinggi tempat duduk 29,5 cm, panjang tempat duduk 37,3 cm, lebar tempat duduk 40,2 cm, jarak antara tempat duduk ke keran 57,3 cm, jarak antar tempat duduk 46,1 cm dan jarak antar keran 86,3 cm.
Rancangan tempat wudhu duduk laki-laki dan perempuan ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2 berikut.

Demikianlah rancangan tempat wudhu dengan posisi duduk yang dibuat oleh Qurtubi dan Hari Purnomo. Semoga bermanfaat. (sajada.id/)
Artikel Terkait:
Kisah Isam bin Yusuf dalam Masalah Wudhu Batin
Wanita Ahli Surga, Fatimah Dibuat Kagum
Kirimkan artikel keislaman Anda melalui email: infosajada.id@gmail.com


