
Al-Qur’an sebagai Pusaka Abadi
Rasulullah SAW mengecam umatnya yang meninggalkan Al-Quran.
sajada.id/, Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, pembeda antara yang hak dan batil, serta sebagai penyembuh bagi penyakit hati dan jasmani. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan akan terus berlaku hingga hari kiamat.
Allah ﷻ berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Namun, sungguh ironis, banyak di antara umat Islam yang mengaku mencintai Al-Qur’an, namun lalai terhadapnya. Mereka tidak membaca, tidak memahami, dan tidak mengamalkannya. Bahkan, ada yang tidak menyentuh mushaf Al-Qur’an selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Tahukah kita bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengeluhkan umatnya kepada Allah karena meninggalkan Al-Qur’an?
Simak firman Allah dalam QS. Al-Furqan ayat 30:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورا
“Berkatalah Rasul, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’” (QS. Al-Furqan: 30)
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan bahwa yang dimaksud “mahjura” (ditinggalkan) itu mencakup:
1. Tidak membacanya.
2. Tidak mentadabburinya.
3. Tidak mengamalkannya.
4. Tidak menjadikannya hukum dalam kehidupan.
5. Tidak menjadikannya sebagai pedoman dan referensi.
Bentuk-Bentuk Meninggalkan Al-Qur’an
Para ulama menjelaskan, meninggalkan Al-Qur’an bisa dalam berbagai bentuk:
1. Tidak membaca atau sangat jarang membacanya.
2. Membacanya tanpa memahami isinya.
3. Tidak mengamalkan kandungannya.
4. Tidak menjadikannya pedoman hidup.
5. Mengabaikan hukum-hukumnya dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dan menghinakan kaum yang lainnya karena mengabaikannya.: (HR. Muslim no. 817)
Akibat Meninggalkan Al-Qur’an
Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya dosa besar, tetapi juga mendatangkan kehinaan dan bencana dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا ۖ وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan bangkitkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)
Ibnu Abbas menafsirkan “hidup sempit” itu bukan soal harta saja, tapi hatinya sempit, jiwanya gelisah, hidupnya tak tenang, dan masa depannya penuh ketakutan.
Keutamaan Menjalin Hubungan dengan Al-Qur’an
Mari kita bandingkan: orang yang menjalin hubungan erat dengan Al-Qur’an akan merasakan cahaya dalam hidupnya. Mereka menjadi pribadi yang tenang, kuat, sabar, dan penuh hikmah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Bahkan kelak di akhirat, Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Dan dikatakan kepada orang yang akrab dengan Al-Qur’an:
“Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena kedudukanmu akan berada pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Abu Dawud)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
"Barangsiapa yang ingin berbicara kepada Allah, maka hendaklah ia shalat. Dan barangsiapa ingin Allah berbicara kepadanya, maka bacalah Al-Qur’an."
(Syahruddinsajada.id/)


