Oleh Syahruddin El Fikri
SAJADA.ID–Dalam 10 tahun terakhir, perkembangan perbankan syariah menunjukkan grafik dan tren yang cukup menggembirakan. Secara aset dan market share (pangsa pasar), geliat itu terus meningkat. Perbankan syariah tubuh pesat.
Salah satu bank syariah yang menggeliat dan makin tumbuh itu adalah BCA Syariah. Berdiri sejak 5 April 2010, BCA Syariah pelan namun pasti, menunjukkan eksistensinya. Dalam laporan triwulanan per Agustus 2026, portofolio pembiayaan BCA Syariah tumbuh 11,5% atau menjadi Rp. 13,5 triliun secara tahunan (yoy).
Pertumbuhan signifikan berasal dari pembiayaan segmen konsumer dan komersial. Direktur BCA Syariah Pranata, dalam laporannya menyebutkan, segmen konsumer menjadi penopang utama pertumbuhan dengan pembiayaan mencapai Rp. 2,5 triliun atau meningkat 34,7% (yoy). Dan pertumbuhan lainnya melalui pembiayaan komersial yang tumbuh sebesar 6% (yoy) menjadi Rp. 9,9 triliun.
“Kami optimistis, tren pertumbuhan pembiayaan BCA Syariah dapat tumbuh double digit hingga akhir tahun,” ujar Pranata, di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Sejumlah produk pembiayaan dan layanan konsumer menunjukkan pertumbuhan. Investasi emas tumbuh 81,76 persen, KPR 24,17 persen, KKB 32,59 persen, sedangkan segmen konsumer tumbuh 34,69 persen.
Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah, Bukit Mas Siahaan, mengatakan, BCA Syariah terus mencatatkan pertumbuhan, baik dari sisi jumlah nasabah, aset maupun produk yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain memperkuat sektor pembiayaan, kata Bukit, BCA Syariah juga terus mengembangkan kanal digital untuk memperluas akses masyarakat atas perbankan syariah. BCA Syariah menghadirkan BSya sebagai aplikasi layanan keuangan syariah yang memudahkan masyarakat mengakses berbagai kebutuhan transaksi.
“Melalui BSya, nasabah dapat menggunakan sejumlah layanan seperti transfer, pembiayaan emas, QRIS, e-wallet, saku valas, serta berbagai fitur Islami lainnya,” ujar Bukit Mas Siahaan, Rabu (30/9/2026) di Jakarta.
Penguatan layanan digital tersebut menjadi bagian dari inovasi BCA Syariah dalam merespons perubahan kebutuhan masyarakat sekaligus memperluas akses terhadap layanan perbankan syariah.
Inovasi BCA Syariah ini mendapat apresiasi dari Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (KPKS/OJK), Dian Masyita. “Bank syariah termasuk BCA Syariah, harus bekerja keras dan melakukan inovasi agar semakin mendapat tempat di hati masyarakat,” ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Dian Masyita mengatakan, inovasi dapat dilakukan melalui penguatan layanan digital, kampanye yang lebih luas mengenai pentingnya menggunakan layanan keuangan syariah, serta menghadirkan diferensiasi produk dan layanan.
Menurutnya, perkembangan industri keuangan syariah tidak hanya membutuhkan pertumbuhan dari sisi bisnis, tetapi juga edukasi yang mampu menjelaskan manfaat dan karakteristik keuangan syariah kepada masyarakat.
Selain itu juga, kata dia, kemudahan akses bagi masyarakat akan kebutuhan bank syariah membuat perhatian terhadap layanan perbankan syariah semakin luas.
Peran Media
Dian Masyita menambahkan, agar market share semakin besar, aset terus meningkat, media berperan penting dalam menyebarkan informasi, potensi, dan literasi mengenai perbankan syariah pada masyarakat.
“Media dapat membantu masyarakat memahami perkembangan, produk, serta inovasi dari industri keuangan syariah,” ujarnya terkait Journalist Writing Competition (JWC) BCA Syariah ini.
Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum menyambut baik gerakan JWC ini dalam memperluas informasi perbankan syariah ke khalayak umum. Ia menyebutkan, JWC ini sudah berlangsung sejak tahun 2023. Dan pada 2026 ini JWC memasuki batch ke-4.
“Semakin banyak jurnalis yang berpartisipasi dalam kegiatan Journalist Writing Competition (JWC) ini, maka informasi mengenai industri perbankan syariah makin luas dan dapat sampai ke masyarakat,” ujar Yuli.
Tak hanya melalui Bsya, BCA Syariah juga berkembang di luar angka keuangan. Dalam kanal bcasyariah.co.id disebutkan, banyak program yang terus dilkakukan untuk terus tumbuh dan menjadi mitra masyarakat. Setidaknya ada tiga perkembangan strategis yang layak mendapat perhatian.
Pertama, penguatan merek Sahabat Berkahmu. Melalui program ini, BCA Syariah mendorong positioning sebagai mitra keuangan yang selalu mendampingi nasabah dalam berbagai kebutuhan hidup, sekaligus memperluas kemitraan dengan komunitas muslim dan generasi muda.
Kedua, program pembangunan 99 masjid. Pada Juli 2026, BCA Syariah mendukung pembangunan Masjid Ar-Rahman di Aceh Tamiang, masjid pertama dalam program 99 Masjid Asmaul Husna. Program ini diarahkan agar masjid juga berfungsi sebagai pusat Pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketiga, pemberdayaan UMKM dan literasi halal. BCA Syariah mengembangkan WEpreneur, memfasilitasi akses pasar bagi UMKM, serta kolaborasi sertifikat halal. Hal ini membuka peluang kemitraan yang tidak hanya berorientasi pada transaksi perbankan, tetapi juga peningkatan kapasitas usaha.
Peluang dan Tantangan
Dian Masyita menjelaskan, peluang perbankan syariah untuk terus tumbuh sangat besar. Setidaknya dengan populasi (masyarakat) muslim Indonesia yang mencapai 87% lebih, pangsa pasar (market share) keuangan syariah akan terus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun.
Berkaca dari potensi yang ada, setidaknya ada beberapa peluang dan tantangan perbankan syariah untuk terus tumbuh. Pertama, market share perbankan syariah mencapai 11,4%. Kedua, aset perbankan syariah menembus angka Rp. 1.000 triliun lebih (tumbuh sekitar 8,92%).
Ketiga, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,6% secara tahunan. Pembiayaan kepemilikan rumah, pembiayaan kendaraan bermotor, pembiayaan kepemilikan emas, dan usaha produktif lainnya, memiliki potensi yang sangat besar.
Keempat, digitalisasi menjadi keunggulan kompetitif. Mobile banking, pembayaran QRIS, transfer digital, internet banking, pembukaan rekening, dan layanan pembiayaan elektronik, semakin penting untuk menjangkau generasi muda, pelaku usaha, serta nasabah yang membutuhkan transaksi praktis.
Kelima, peluang ekonomi (industri) halal masih besar. Pembiayaan UMKM, perdagangan halal, makanan dan minuman halal, fesyen (fashion) muslim, pariwisata ramah muslim, Pendidikan islam, serta ekosistem masjid dan pesantren menjadi sumber pertumbuhan berikutnya.
Dengan upaya tersebut, Dian Masyita menyebutkan, perbankan syariah tidak lagi hanya dipandang sebagai alternatif layanan keuangan bagi umat Islam, tetapi juga bagian dari sistem keuangan nasional yang berpotensi mendukung pembiayaan UMKM, industri halal, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dian Masyita optimistis, angka tersebut dapat terus ditingkatkan, mengingat Indonesia memiliki populasi muslim lebih dari 87 persen lebih. Namun demikian, bila dibandingkan dengan industri perbankan secara nasional, bank syariah harus terus tumbuh. Market share harus meningkat, aset bertambah, dan layanan semakin baik. Semoga.
(Jurnalis sajada.id)






Komentar