Hikmah
Beranda » Berita » Memilih Teman Saleh, Menjauhi Sahabat yang Merusak Hati

Memilih Teman Saleh, Menjauhi Sahabat yang Merusak Hati

SAJADA.ID, DEPOK– Memilih teman bukan sekadar mencari orang yang nyaman untuk berbincang atau bersenang-senang. Dalam Islam, teman memiliki pengaruh besar terhadap akhlak, kebiasaan, bahkan arah kehidupan seseorang.

Karena itu, Islam mengajarkan umatnya agar selektif dalam memilih sahabat. Teman yang baik akan mengingatkan ketika lalai, menasihati ketika salah, serta mendorong kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).

Setelah 35 Tahun, Indonesia Akhirnya Juara pada FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Taklukkan Thailand Lewat Adu Penalti

Teman Saleh seperti Pembawa Minyak Wangi

Rasulullah SAW menggambarkan pengaruh teman melalui perumpamaan yang sangat indah. Beliau bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pembawa minyak kasturi dan peniup alat pandai besi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Teman saleh seperti pembawa minyak wangi. Meski tidak selalu memberikan sesuatu secara langsung, kehadirannya membawa kebaikan. Sebaliknya, teman buruk dapat meninggalkan pengaruh negatif, bahkan tanpa kita sadari.

Karena itu, ukuran teman baik bukan sekadar menyenangkan ketika berkumpul. Teman terbaik adalah orang yang membuat kita semakin baik dalam agama, akhlak dan kehidupan.

Puncak Hari Santri 2026, Kota Depok Hadirkan Gus Kautsar

Lima Tipe Teman yang Perlu Diwaspadai

Ada lima tipe teman yang perlu diwaspadai.

Pertama, The User, yakni orang yang hanya memanfaatkan temannya. Ia datang ketika membutuhkan bantuan, tetapi menghilang ketika temannya membutuhkan pertolongan.

Kedua, The Complainer, yaitu orang yang selalu mengeluh. Mengeluh sesekali tentu manusiawi, tetapi jika setiap pertemuan selalu banyak keluhan, prasangka dan pesimisme, pengaruhnya dapat ikut membebani orang di sekitarnya.

Bukan Sekadar Rekreasi, 180 Warga RW 15 RJB-Depok, Perkuat Silaturahim di Anyer

Ketiga, The Blamer, orang yang selalu menyalahkan orang lain. Ketika menghadapi masalah, ia sulit mengakui kesalahan sendiri dan selalu mencari kambing hitam.

Keempat, The Competitor, teman yang menjadikan persahabatan sebagai persaingan. Persaingan dalam kebaikan tentu baik, tetapi iri, tidak senang melihat keberhasilan teman, dan keinginan untuk selalu lebih unggul justru dapat merusak persahabatan.

Kelima, The Abuser, orang yang menyakiti, menipu atau memanfaatkan kelemahan orang lain. Hubungan seperti ini perlu diwaspadai karena persahabatan seharusnya menghadirkan rasa aman, bukan penderitaan.

Jangan Berteman dengan Pendusta

Peringatan untuk berhati-hati memilih teman juga banyak dalam nasihat ulama terdahulu. Di antaranya:

SMKN 3 Kediri Rintis Bakeri, 144 Siswa Dapat Pembekalan dari Bogasari

لَا تَصْحَبَنَّ كَذَّابًا؛ فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَةِ السَّرَابِ، يُبْعِدُ مِنْكَ الْقَرِيبَ، وَيُقَرِّبُ مِنْكَ الْبَعِيدَ

“Janganlah engkau berteman dengan seorang pendusta. Ia seperti fatamorgana; menjauhkan orang yang dekat darimu dan mendekatkan kepadamu orang yang jauh.” (Al-Muntakhab, 41).

Ada pula nasihat:

لَا تَصْحَبَنَّ فَاسِقًا؛ فَإِنَّهُ بَائِعُكَ بِأَكْلَةٍ فَمَا دُونَهَا

“Janganlah engkau berteman dengan orang fasik. Ia dapat menjualmu hanya demi sesuap makanan atau sesuatu yang lebih rendah dari itu.” (Al-Muntakhab, 14).

Perpusnas dan Kementerian Kebudayaan Perkuat Sinergi Pemajuan Warisan Budaya

Sementara dalam Rabi’ al-Abrar disebutkan:

إِيَّاكَ وَصَاحِبَ السُّوءِ، فَإِنَّهُ كَالسَّيْفِ يُعْجِبُكَ مَنْظَرُهُ، وَيَقْبَحُ أَثَرُهُ

“Waspadalah terhadap teman yang buruk. Ia seperti pedang; penampilannya mungkin mengagumkan, tetapi dampaknya sangat buruk.” (Rabi’ al-Abrar, 1/363).

Pesan tersebut mengingatkan bahwa penampilan, kepandaian berbicara atau kesuksesan seseorang tidak otomatis menjadikannya sahabat yang baik. Ukuran utamanya adalah akhlak dan pengaruh yang ditimbulkannya.

MT Balwan dan Rutan Depok Jajaki Sinergi Pembinaan Keagamaan dan Sosial

Teman Bisa Menjadi Penolong atau Penyesalan

Al-Qur’an bahkan menggambarkan penyesalan seseorang akibat salah memilih teman. Allah SWT berfirman:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي

“Aduhai, kiranya dahulu aku tidak menjadikan orang itu sebagai teman akrab. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku.” (QS. Al-Furqan: 28–29).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa salah memilih teman bukan perkara ringan. Kedekatan yang salah dapat menyeret seseorang kepada kebiasaan buruk dan menjauhkannya dari jalan Allah.

Karena itu, pilihlah teman yang ketika bersamanya kita semakin rajin beribadah, lebih jujur, rendah hati dan peduli kepada sesama. Teman yang baik bukan yang selalu membenarkan kita, tetapi yang berani mengingatkan ketika kita berada di jalan yang salah.

Sebab, sahabat terbaik bukan hanya yang membuat kita nyaman di dunia, tetapi juga yang membantu kita selamat menuju akhirat.

(Syahruddin El Fikri/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *