SAJADA.ID, JAKARTA— Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) meneguhkan kembali komitmen dakwah pedalaman. Momentum tersebut ditandai dengan pelepasan para dai pengabdian dalam kegiatan Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman.
Kegiatan tasyakkur ini berlangsung di Aula Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta, Sabtu (15/8/2026). Acara menjadi momentum mengenang perjalanan dakwah pedalaman sekaligus memperkuat kaderisasi dai.
Ketua Umum DDII, Ustadz Dr. Adian Husaini, M.Si., mengungkapkan kebutuhan dai masih sangat besar. Menurutnya, permintaan dai dari berbagai daerah kini mencapai lebih dari 300 orang.
Sementara itu, DDII baru mampu menyiapkan sekitar 132 dai. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kaderisasi untuk memenuhi kebutuhan dakwah masyarakat.
“Alumni STID Mohammad Natsir telah mencapai sekitar 1.400 orang,” ujar Adian. Ia menegaskan, potensi tersebut perlu terus diperkuat untuk menjawab kebutuhan dakwah.
Dai Bagian dari Pembangunan Masyarakat
Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan, keberadaan dai memiliki peran penting dalam pembangunan masyarakat.
“Dai adalah bagian dari pembangunan masyarakat,” ujar Zulkifli Hasan. Menurutnya, dai pedalaman perlu menguatkan keagamaan sekaligus mendorong kemandirian masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap ekonomi dan ketahanan pangan. Karena itu, dakwah di pedalaman perlu bersinergi dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Arie Wibowo Khurniawan, S.Si., M.Ak., turut mengapresiasi peran para dai. Ia juga menyoroti kontribusi dai dan guru ngaji dalam pendidikan masyarakat.
Arie berpesan agar para dai senantiasa menjaga niat dan keteladanan. Mereka juga diharapkan terus membangun harapan masyarakat di daerah pengabdian.
Sementara itu, perwakilan Kementerian Pertanian menegaskan pentingnya sinergi dakwah. Menurutnya, dai dapat berperan dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, termasuk bidang pertanian.

Belajar dari Pengalaman Dai Pedalaman
Sejumlah dai senior turut berbagi pengalaman dalam kegiatan tersebut. Mereka merupakan dai yang pernah dididik dan dikirim langsung oleh pendiri Dewan Dakwah.
Di antaranya Ustaz Aswan dari Atambua dan Ustaz Safrudin Zakaria dari Bengkulu. Keduanya menggambarkan beratnya tantangan dakwah di wilayah pedalaman.
Dakwah pedalaman membutuhkan ketangguhan dan kemampuan beradaptasi. Selain itu, dai harus mampu membangun kedekatan dengan masyarakat setempat.
Menurut Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Sofwan, Lc., dakwah harus dilakukan melalui pendekatan sosial. Dai perlu membaur dan membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Dai juga harus memahami karakter dan kebutuhan masyarakat setempat. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan.
Dakwah harus hadir dalam kehidupan nyata masyarakat. Kehadiran dai diharapkan mampu memberikan pembinaan sekaligus solusi.
Dakwah Adalah Jalan Pengabdian
Menutup kegiatan, KH. Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., M.M., mengingatkan hakikat perjalanan dakwah. Menurutnya, dakwah bukan jalan untuk mencari popularitas, melainkan jalan pengabdian.
Para dai harus siap menghadapi berbagai kesulitan. Mereka juga harus mampu menikmati setiap proses perjalanan dakwah.
“Nikmati perjalanan sebagai dai. Jangan fokus pada kesulitan, tetapi lihatlah ada dua kemudahan,” pesannya.
Pesan tersebut mengingatkan para dai terhadap firman Allah SWT:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٥ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٦
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 5–6).
Ayat tersebut menjadi penguat bagi para dai dalam menjalankan pengabdian. Kesulitan dalam perjalanan dakwah hendaknya tidak menjadi alasan untuk berhenti.
Melanjutkan Estafet Dakwah
Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman menjadi momentum mengenang jejak panjang pengabdian. Kegiatan tersebut sekaligus meneguhkan kembali komitmen DDII dalam melahirkan dai yang siap hadir di tengah masyarakat.
Pelepasan dai pengabdian menjadi penanda bahwa perjalanan dakwah tidak berhenti pada sejarah. Estafet tersebut terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya di berbagai pelosok negeri.
Para dai diharapkan hadir untuk mendidik dan membina masyarakat. Mereka juga diharapkan mampu memberdayakan serta membangun harapan masyarakat.
Dengan demikian, dakwah pedalaman bukan sekadar pengiriman tenaga dai. Dakwah merupakan ikhtiar panjang untuk menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
(Ummu Ahya Giyanti/Staf Pengajar STID Mohammad Natsir)






Komentar