Nasional
Beranda » Berita » 132 Lulusan STID Mohammad Natsir Siap Terjun ke Pelosok, Jawab Kebutuhan Dai di Indonesia

132 Lulusan STID Mohammad Natsir Siap Terjun ke Pelosok, Jawab Kebutuhan Dai di Indonesia

SAJADA.ID, BEKASI — Indonesia masih kekurangan dai. Tahun ini, kebutuhan penempatan dai mencapai lebih dari 300 orang. Namun, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir baru mampu meluluskan 132 kader. Seluruhnya siap diterjunkan ke pelosok, daerah perbatasan, kawasan minoritas Muslim, hingga wilayah suku terasing.

Komitmen itu ditegaskan dalam Wisuda XVI STID Mohammad Natsir yang dirangkaikan dengan Tasyakuran 56 Tahun Sekolah Kaderisasi Dakwah di Pusdiklat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Tambun, Bekasi, Sabtu (25/7).

Sebanyak 132 mahasiswa dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) resmi diwisuda.

MK: Operator Tak Boleh Hanguskan Kuota Sepihak, Hak Konsumen Kini Dilindungi Konstitusi

Berbeda dengan perguruan tinggi pada umumnya, wisuda di STID Mohammad Natsir bukan akhir perjalanan akademik. Justru sejak itulah para lulusan memulai masa pengabdian. Mereka diwajibkan menjalankan tugas dakwah selama satu hingga dua tahun di daerah-daerah yang membutuhkan kehadiran dai.

Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I., mengatakan kampus yang dipimpinnya terus memperkuat sistem kaderisasi untuk mewujudkan Visi STID 2035 sebagai sekolah tinggi unggul dalam mencetak kader yang mampu membangun ketahanan umat.

Menurutnya, keunggulan STID terletak pada proses pembinaan yang berlangsung berjenjang sejak mahasiswa masuk hingga terjun ke masyarakat.

Dua tahun pertama, mahasiswa dibina melalui Program Pesantren Mahasiswa (Pesma/Pesmi). Mereka tinggal di asrama untuk memperdalam bahasa Arab dan Inggris, menghafal Al-Qur’an dan hadis, mempelajari ilmu dakwah, serta membentuk karakter seorang dai.

BULOG Serap 3,4 Juta Ton Beras, Perkuat Cadangan Pangan dan Jaga Kesejahteraan Petani

Pada tahun ketiga dan keempat, pembinaan berlanjut melalui Pengkaderan Berbasis Masjid (KPM) bagi mahasiswa dan Pengkaderan Berbasis Majelis Taklim (KPMT) bagi mahasiswi. Mereka menjalani praktik dakwah, membina masyarakat, mengelola majelis taklim, magang di masjid, hingga mengikuti Program Kafilah Dakwah ke berbagai daerah.

Puncak kaderisasi diwujudkan melalui program pengabdian masyarakat. Seluruh lulusan wajib menjalankan amanah dakwah selama dua tahun bagi mahasiswa dan satu tahun bagi mahasiswi. Program ini menjadi ruang penerapan ilmu sekaligus pembuktian kesiapan mereka sebagai kader umat.

Sejarah Panjang Kaderisasi

Ketua Senat STID Mohammad Natsir, Dr. Imam Zamroji, M.A., memaparkan sejarah panjang kaderisasi dakwah oleh Mohammad Natsir.

Forkabi Kota Depok Tolak LGBTQ, Minta Pemkot Bertindak Tegas

Tradisi itu bermula dari Sekolah Tinggi Islam Indonesia (STII) di Yogyakarta, yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), kemudian berkembang melalui Akademi Bahasa Arab dan Dakwah (AKBAR), Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aqabah di Sumatera Barat, Lembaga Pendidikan Dakwah Islam (LPDI) Jakarta, hingga berdirinya STID Mohammad Natsir pada 1999 di bawah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Meski lahir pada masa berbeda, seluruh lembaga tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menyiapkan kader dakwah yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi kepada umat.

Imam Zamroji menegaskan, pendidikan di STID dibangun di atas tiga nilai utama. Pertama, dididik dengan adab dan ilmu. Kedua, dibina melalui keteladanan. Ketiga, diberi ruang untuk mengabdi dan berdakwah di tengah masyarakat.

Suasana wisuda semakin khidmat saat Dr. Fathurahman, M.Pd., menyampaikan tausiyah kepada para wisudawan. Ia mengingatkan agar para dai selalu menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

PWI Kota Depok Dorong Keterbukaan Dana Komunikasi Media, Diskominfo Paparkan Realisasi Anggaran

مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

“Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).

Menurutnya, ayat tersebut menjadi bekal bagi para dai ketika menghadapi berbagai tantangan di medan dakwah.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Dr. Adian Husaini, M.Si., menegaskan bahwa kebutuhan dai di Indonesia masih jauh lebih besar dibanding jumlah kader yang tersedia.

Forkabi Kota Depok Matangkan Persiapan Musda 2026

“Tahun ini permintaan penempatan dai mencapai lebih dari 300 orang. STID baru mampu mengirimkan 132 lulusan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi itu menunjukkan tidak ada dai yang menganggur. “Yang terjadi justru kebutuhan umat terhadap dai masih jauh lebih besar daripada jumlah kader yang tersedia,” tegasnya.

Adian juga berpesan agar para lulusan memegang tiga prinsip utama dalam berdakwah, yaitu beriman, beramal saleh, dan berjihad di jalan Allah. Menurutnya, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah mereka terjun ke tengah masyarakat.

Santunan Yatim dan Dhuafa UPZIS NU Cipayung, Tebar Kebaikan dan Raih Keberkahan Muharam

Wisuda XVI sekaligus Tasyakuran 56 Tahun STID Mohammad Natsir menjadi penegasan bahwa kampus ini tidak sekadar meluluskan sarjana. STID menyiapkan kader-kader dakwah yang siap ditempatkan di garis depan untuk menjawab kebutuhan umat di berbagai penjuru Indonesia.

(Ummu Ahya Giyanti/Staff Pengajar di STID Mohammad Natsir).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *