SAJADA.ID–Dalam kehidupan, manusia sering kali baru menyadari betapa berharganya sebuah nikmat ketika nikmat itu telah hilang. Waktu yang terbuang, kesehatan yang menurun, hingga kesempatan berbuat baik yang terlewat menjadi penyesalan nantinya.
Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat berharga agar setiap Muslim pandai memanfaatkan kesempatan sebelum datang keadaan yang membatasinya. Dalam hadits yang bersumber dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Ightanim khamsan qabla khamsin: syabâbaka qabla haramika, wa shihhataka qabla saqamika, wa ghinâka qabla faqrika, wa farâghaka qabla syughlika, wa hayâtaka qabla mautika.
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 7846) dan dinilai sahih sesuai syarat Imam Muslim, dan disepakati kesahihannya oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih al-Jami’.
Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap nikmat memiliki batas waktu. Karena itu, seorang Mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan untuk beribadah dan beramal saleh sebelum kesempatan tersebut hilang.
- Masa Muda Sebelum Masa Tua
Masa muda adalah fase ketika tenaga, semangat, dan peluang masih terbuka luas. Pada usia inilah seseorang lebih mudah menuntut ilmu, memperbanyak ibadah, berdakwah, berkarya, serta memberi manfaat kepada masyarakat.
Tidak sedikit orang yang baru menyadari berharganya masa muda ketika usia senja telah tiba. Karena itu, masa muda hendaknya diisi dengan amal yang bernilai di sisi Allah SWT.
- Sehat Sebelum Sakit
Kesehatan merupakan nikmat yang sering kali baru terasa nilainya ketika seseorang jatuh sakit. Selama tubuh masih kuat, kesempatan beribadah, bekerja, menuntut ilmu, hingga membantu sesama masih terbuka lebar.
Menjaga kesehatan juga termasuk bentuk syukur kepada Allah SWT, sebab tubuh adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
- Kaya Sebelum Miskin
Harta yang ada bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di antaranya melalui zakat, infak, sedekah, dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu…” (QS. Surah Al-Munafiqun: 10).
Ayat ini menjadi penguat bahwa kesempatan beramal dengan harta tidak berlangsung selamanya.
- Waktu Luang Sebelum Sibuk
Setiap manusia memperoleh waktu yang sama, tetapi tidak semua mampu memanfaatkannya dengan baik. Kesibukan dunia sering membuat seseorang menunda membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, maupun memperbanyak amal ibadah.
Padahal, waktu luang merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis lain bahwa terdapat dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
- Hidup Sebelum Mati
Bagian terakhir dari hadis ini merupakan puncak nasihat Rasulullah ﷺ. Selama seseorang masih hidup, pintu taubat tetap terbuka dan amal saleh masih dapat dilakukan. Namun ketika kematian datang, seluruh kesempatan itu terputus.
Karena itu, setiap Muslim hendaknya menjadikan setiap hari sebagai bekal menuju kehidupan akhirat dengan memperbanyak istighfar, menjaga salat, mempererat silaturahmi, serta terus meningkatkan kualitas ibadah.
Hikmah Hadis
Hadis “Jagalah Lima Sebelum Datang Lima” mengajarkan bahwa seluruh nikmat yang Allah SWT berikan hanyalah titipan. Masa muda akan berganti tua, sehat akan berganti sakit, kaya dapat berubah menjadi miskin, waktu luang akan dipenuhi kesibukan, dan kehidupan pasti berakhir dengan kematian.
Orang yang cerdas menurut pandangan Islam adalah mereka yang mampu memanfaatkan seluruh nikmat tersebut sebagai bekal menuju akhirat. Sebab, kesempatan yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai mensyukuri nikmat, memanfaatkan setiap kesempatan untuk beramal saleh, dan mengakhiri kehidupan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
(Syahruddin/sajada.id)






Komentar