SAJADA.ID, DEPOK — Rasa syukur dan istighfar menjadi dua amalan penting yang dapat membuka pintu keberkahan dalam kehidupan. Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Sedangkan istighfar menjadi sebab datangnya ampunan, kelapangan rezeki, dan kemudahan urusan.
Pesan itu disampaikan Ust. H. Syahruddin El Fikri, pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah, dalam tausiyah pada acara tasyakuran Sentosa Band Depok di Saung Mak Sani, Cilodong, Kota Depok, Sabtu (23/5/2026).
Hadir dalam kesempatan ini sejumlah anggota Majelis Taklim Balai Wartawan Kota Depok. Mulai dari jajaran pengurus inti hingga anggota. Tak ketinggalan juga sebagian besar anggota keluarga MT. Balai Wartawan.
Dalam ceramahnya, Syahruddin menegaskan bahwa banyak orang mengejar kebahagiaan, namun melupakan kunci utama keberkahan hidup, yakni syukur dan istighfar.
“Kadang nikmat kita banyak, tetapi terasa sempit karena kurang bersyukur. Sebaliknya, ada orang sederhana hidupnya, namun penuh ketenangan karena pandai bersyukur dan memperbanyak istighfar,” ujarnya.
Ia kemudian membacakan firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7).
Menurutnya, ayat tersebut menjadi jaminan langsung dari Allah bahwa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi jalan bertambahnya nikmat dan keberkahan.
Istighfar Membuka Pintu Rezeki
Selain syukur, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak istighfar. Syahruddin menjelaskan, istighfar bukan hanya permohonan ampun, tetapi juga sebab datangnya kemudahan hidup.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Nuh ayat 10-12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10-12)
“Dalam ayat ini jelas sekali. Istighfar bukan membuat orang miskin, justru membuka pintu rezeki, kesehatan, keturunan, dan keberkahan,” katanya.

Ia juga mengutip hadits Rasulullah
ﷺ:مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, memberikan kelapangan dari setiap kegundahan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Tukang Roti
Dalam tausiyahnya, Syahruddin turut menyampaikan kisah terkenal tentang Ahmad bin Hanbal dan seorang tukang roti.
Pada suatu malam Imam Ahmad melakukan perjalanan hingga tiba di sebuah kota. Ia hendak beristirahat di masjid, namun penjaga masjid tidak mengenalinya dan memintanya keluar.
Imam Ahmad akhirnya duduk di depan masjid. Seorang tukang roti yang melihat keadaan itu kemudian mengajak beliau menginap di tempat usahanya.

Selama berada di sana, Imam Ahmad memperhatikan tukang roti tersebut terus-menerus beristighfar sambil membuat adonan roti.
Imam Ahmad lalu bertanya, “Apakah engkau mendapatkan manfaat dari kebiasaan istighfarmu itu?”
Tukang roti menjawab, “Semua doa saya dikabulkan Allah, kecuali satu.”
“Apa itu?” tanya Imam Ahmad.
“Saya ingin sekali bertemu Imam Ahmad bin Hanbal,” jawab tukang roti itu.
Mendengar jawaban tersebut, Imam Ahmad tersenyum seraya berkata, “Allah telah mendatangkan Ahmad bin Hanbal kepadamu.”
Syahruddin menjelaskan, kisah tersebut banyak terdapat dalam kitab-kitab ulama sebagai pelajaran tentang keutamaan istighfar dan ketulusan hati. Di antaranya dalam sejumlah karya ulama tarikh dan kitab nasihat para salihin.
“Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa beristighfar dengan ikhlas, bisa mendatangkan pertolongan Allah dengan cara yang luar biasa,” katanya.
Syukur Menjaga Nikmat
Menurut Syahruddin, syukur tidak hanya terucap dengan lisan, tetapi juga bisa berwujud dalam ketaatan dan penggunaan nikmat di jalan yang benar.
Ia mengutip penjelasan Ibn Qayyim al-Jawziyya dalam kitab Madarijus Salikin bahwa syukur terdiri dari tiga hal, yakni mengakui nikmat dalam hati, memuji Allah dengan lisan, dan menggunakan nikmat untuk kebaikan.
“Kalau diberi kesehatan, gunakan untuk ibadah. Diberi harta, gunakan membantu sesama. Diberi ilmu, gunakan untuk manfaat. Itulah hakikat syukur,” ujarnya.
Ia pun mengajak jamaah untuk membiasakan kalimat hamdalah dan istighfar dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang yang pandai bersyukur akan ditambah nikmatnya. Orang yang rajin istighfar akan dimudahkan urusannya. Maka jangan lepas dari dua amalan ini,” tuturnya.
(SFR/SAJADA.ID)






Komentar