SAJADA.ID–Sejarah pendidikan Indonesia menyimpan satu mata rantai penting yang sering terlewatkan. Tiga tokoh besar—KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan R.A. Kartini—ternyata berguru pada satu sosok yang sama: KH Sholeh Darat.
Ini bukan sekadar kebetulan. Dari satu sumber ilmu, lahir tiga arus besar yang membentuk wajah pendidikan dan peradaban Indonesia hingga hari ini.
KH Sholeh Darat dan Terobosan Ilmu yang Membumi
KH Sholeh Darat bukan hanya seorang ulama, tetapi juga pelopor perubahan. Di tengah keterbatasan akses ilmu karena kendala bahasa, beliau menerjemahkan ajaran Islam ke dalam bahasa lokal dengan aksara pegon.
Langkah ini sederhana, tetapi berdampak besar. Ilmu yang sebelumnya sulit dijangkau menjadi lebih dekat dan mudah dipahami. Dari sini, pendidikan mulai menjadi milik semua kalangan, bukan hanya kelompok tertentu.
Pesantren: Warisan Moral dari KH Hasyim Asy’ari
KH Hasyim Asy’ari melanjutkan semangat gurunya melalui penguatan pesantren. Baginya, pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter.
Di pesantren, santri tidak hanya belajar kitab, tetapi juga adab, sanad, dan tanggung jawab sosial. Ilmu dan akhlak berjalan seiring, membentuk manusia yang utuh dan beradab.
Sekolah Modern: Pembaruan KH Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan menempuh jalur berbeda, namun tetap searah tujuan. Ia mengembangkan sistem pendidikan modern yang lebih terstruktur dan responsif terhadap zaman.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga sarana perubahan sosial. Ia memadukan nilai keimanan dengan ilmu pengetahuan, serta menghubungkan tradisi dengan kebutuhan modernitas.
Emansipasi: Kesadaran Baru dari R.A. Kartini
R.A. Kartini menemukan titik balik pemikirannya melalui pemahaman agama yang membumi. Dari sana, lahir kesadaran bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan.
Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi. Ia memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan, menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan dari kebodohan dan ketidakadilan.
Tiga Jalan, Satu Visi Pendidikan
Tiga murid, tiga jalan, tetapi satu tujuan yang sama. Pendidikan dijadikan sarana untuk memanusiakan manusia dan mendekatkannya kepada nilai-nilai ketuhanan.Pesantren, sekolah modern, dan gerakan emansipasi adalah tiga wajah dari satu visi besar: membebaskan manusia melalui ilmu.
Relevansi di Tengah Krisis Pendidikan
Warisan KH Sholeh Darat tetap hidup hingga hari ini. Di tengah pendidikan yang sering terjebak pada angka, gelar, dan formalitas, gagasan beliau terasa semakin penting.
Banyak orang menjadi cerdas secara intelektual, tetapi kehilangan arah hidup. Ilmu berkembang, namun nilai-nilai justru melemah.
Kembali ke Akar Pendidikan yang Utuh
Sudah saatnya pendidikan kembali pada akarnya. Pendidikan harus tetap kontekstual, tetapi tidak kehilangan ruh spiritualnya.
Modernitas perlu berjalan bersama tradisi. Rasionalitas harus tetap terhubung dengan nilai-nilai keimanan.
Dari Pengajian Sederhana, Lahir Perubahan Besar
KH Sholeh Darat menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari tempat besar. Ia tumbuh dari pengajian kecil, dari kitab sederhana, dan dari keberanian menerjemahkan ilmu untuk umat.
Dari satu guru, lahir tiga gelombang besar: pesantren, sekolah modern, dan emansipasi perempuan.
Peta Jalan Pendidikan Indonesia
Ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah peta jalan yang layak dibaca ulang di tengah perubahan zaman.
Jika pendidikan ingin kembali menemukan jiwanya, maka jejak KH Sholeh Darat adalah salah satu jawabannya.
Bey Arifin
Pengurus IKAPETE Jombang






Komentar