SAJADA.ID — Di tengah memanasnya konflik global dan derasnya arus informasi digital, Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) kembali diuji: mampukah ia tetap menjadi penjernih di tengah kabut propaganda dan kepentingan geopolitik?
Aswaja bukan sekadar manhaj keagamaan, melainkan kompas peradaban. Ia lahir dari tradisi keilmuan yang matang, mengajarkan moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan keadilan (i’tidal). Nilai-nilai inilah yang kini diuji, bukan hanya oleh dinamika internal umat, tetapi juga oleh tekanan global yang semakin kompleks.
Dunia hari ini berada dalam situasi genting. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, ancaman terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz, serta mandeknya diplomasi internasional menunjukkan bahwa rasionalitas sering kali kalah oleh kepentingan kekuasaan. Dampaknya tidak hanya pada stabilitas politik, tetapi juga pada ekonomi global dan kehidupan masyarakat sipil.
Dalam situasi seperti ini, umat Islam—khususnya warga Aswaja—tidak boleh menjadi penonton pasif, apalagi korban dari narasi yang bias dan manipulatif.
Sebab, di era digital, konflik tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi. Media sosial dipenuhi propaganda, framing sepihak, hingga penggunaan dalil agama untuk membenarkan kepentingan politik tertentu. Perang hari ini adalah juga perang persepsi.
Di sinilah Aswaja menemukan relevansinya sebagai manhaj dialektik. Prinsip tawazun mengajarkan keseimbangan antara emosi dan rasionalitas, antara solidaritas umat dan keadilan universal. Dalam membaca konflik global, termasuk ketegangan Amerika–Iran, Aswaja tidak terjebak pada logika hitam-putih. Ia mengajarkan sikap kritis: membela yang tertindas tanpa kehilangan objektivitas.
Sejarah telah memberikan teladan kuat. Tokoh-tokoh seperti Imam al-Ghazali, Abu al-Hasan al-Asy’ari, hingga KH Hasyim Asy’ari tidak pernah memisahkan ilmu dari realitas. Mereka berdialog dengan zaman, merespons dinamika sosial-politik tanpa kehilangan integritas keilmuan. Inilah ruh Aswaja: kritis, adaptif, namun tetap berakar.
Dalam konteks kekinian, Nahdlatul Ulama memiliki peran strategis untuk menghadirkan Islam yang menenangkan di tengah kegaduhan global. Ketika dunia terpolarisasi oleh konflik, Aswaja harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang—bukan provokator, tetapi penjernih.
Digitalisasi menjadi arena baru dialektika ini. Di satu sisi, ia membuka peluang dakwah yang luas: kajian kitab kuning di platform digital, bahtsul masail yang membahas isu geopolitik dan ekonomi, hingga konten edukatif yang membumikan Islam rahmatan lil ‘alamin. Namun di sisi lain, ruang digital juga menjadi medium penyebaran kebencian dan simplifikasi agama untuk kepentingan tertentu.
Karena itu, diperlukan apa yang bisa disebut sebagai Aswaja Digital Consciousness—kesadaran kolektif umat untuk bersikap bijak di ruang digital. Umat harus kritis dalam menerima informasi, tidak mudah terseret propaganda, serta mampu membedakan antara solidaritas kemanusiaan dan manipulasi politik.
Konflik Amerika–Iran memberikan pelajaran penting: dunia membutuhkan suara moderasi yang kuat. Ketika kekuatan besar saling berhadapan, yang paling rentan adalah masyarakat sipil. Di sinilah Aswaja harus hadir, bukan sekadar sebagai pembela identitas, tetapi sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Akhirnya, masa depan Aswaja tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga oleh keberaniannya merespons realitas global. Era digital dan geopolitik bukan ancaman, melainkan medan dakwah baru.
Aswaja akan tetap hidup—bahkan menjadi cahaya—selama ia mampu berdiri di tengah: tidak larut dalam ekstremitas, tidak tunduk pada propaganda, dan tetap setia pada nilai keadilan, kemanusiaan, serta kedamaian.
Di tengah dunia yang bising oleh konflik, Aswaja harus menjadi suara yang menenangkan—bukan sekadar relevan, tetapi juga penentu arah.
Bey Arifin
(Pengurus IKAPETE Jombang)






Komentar