Al Quran
Beranda » Berita » Hatinya Surat Al An’am, Dahsyat Kandungannya

Hatinya Surat Al An’am, Dahsyat Kandungannya

Hatinya Surat Al-An'am, Dahsyat Kandungannya

sajada.id/–Sahabat yang dirahmati Allah SWT. Setiap makhluk hidup punya hati, dan Al-Qur'an juga punya hati. Para ulama menyatakan, hatinya (jantungnya) Al-Qur'an adalah Surat Yasin.

Pun demikian halnya dengan surat lainnya. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Surat Al-An'am yang terdiri atas 165 ayat juga punya hati. Konon, surat yang bermakna hewan ternak (Al-An'am) ini punya hati yang terdapat pada ayat ke-103.

Bunyi ayatnya adalah sebagai berikut:

Dompet Dhuafa dan Gramedia Sebar 30 Ribu Al-Qur’an untuk Sumatera dan Nusantara

لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَـٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَـٰرَ ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

Laa tudrikuhul Absharo wa huwa yudrikul Abshara wa Huwal lathiful khabir.

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am [6]: 103).

Keistimewaan dari ayat ini adalah sebagai berikut:

1. Ketika dia wafat, maka jenazahnya akan senantiasa berbau wangi dan bahkan kain kafannya tidak akan rusak bahkan terlihat seperti baru. Syaratnya dibaca setiap hari sebanyak 300 kali.

2. Ayat ini sering dipakai sebagai perisai atau perlindungan diri dari gangguan-gangguan non-materi, seperti jin dan iblis yang akan menggoda.

Belum Datangkah Waktunya Hati Kita Tunduk?

3. Ayat ini juga dipakai untuk rukyah.

4. Akan senantiasa memancarkan cahaya kebaikan dalam dirinya.

5. Diberikan penglihatan mata batin, sehingga dimudahkan menjaga diri dari perbuatan negatif.

Astrofisikawan Harvard Buktikan “Jejak” Keberadaan Tuhan Melalui Matematika


Dalam tafsir tahlili mengenai kandungan ayat di atas dijelaskan sebagai berikut:

Allah menjelaskan hakikat dan keagungan diri-Nya sebagai penegasan dari sifat-sifat-Nya yang telah dijelaskan pada ayat yang baru lalu, yaitu bahwa Allah di atas segala-galanya. Zat-Nya Yang Agung itu tidak dapat dijangkau oleh indera manusia, karena indera manusia itu memang diciptakan dalam susunan yang tidak siap untuk melihat zat-Nya. Sebabnya tidak lain karena manusia itu diciptakan dari materi, dan inderanya hanya menangkap materi-materi belaka dengan perantaraan materi pula; sedangkan Allah bukanlah materi. Maka wajarlah apabila Dia tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

Yang dimaksud dengan Allah tidak dapat dijangkau dengan indera manusia, ialah selama manusia masih hidup di dunia. Sedangkan pada hari Kiamat, orang-orang beriman akan dapat melihat Allah. Nabi Muhammad bersabda: Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu di hari Kiamat seperti kamu melihat bulan di malam bulan purnama, dan seperti kamu melihat matahari di kala langit tidak berawan." (Riwayat al-Bukhari dan Jarir, shahih al-Bukhari IV: 283).

Allah berfirman: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya. (al-Qiyamah/75: 22-23).

Perangi Buta Aksara Al-Qur’an, TP PKK Depok Gandeng Mahasiswa UID

Kemungkinan melihat Tuhan di hari Kiamat, khusus bagi orang-orang mukmin sedangkan orang-orang kafir kemungkinan melihat Allah tertutup bagi mereka. Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya. (al-Muthaffifin/83: 15).

Allah menegaskan bahwa Dia dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat, dan basirah (penglihatan)-Nya dapat menembus seluruh yang ada, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, baik bentuk maupun hakikat-Nya.

Di akhir ayat ini Allah menegaskan lagi bahwa Zat-Nya Mahahalus, tidak mungkin dijangkau oleh indera manusia apalagi hakikat-Nya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu betapa pun halusnya, tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya. (104).

Tarhib Ramadan, Kauny Dorong Budaya Menghafal Al-Qur’an Sepanjang Tahun

Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwasanya tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat telah datang kepada mereka dari-Nya. Tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat itu dapat diketahui oleh mereka baik berupa tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya maupun petunjuk Allah yang diberikan kepada mereka dengan perantaraan Nabi Muhammad berupa wahyu.

Kedua bukti itu dapat memperkuat keyakinan mereka tentang adanya Allah. Sesudah itu Allah menandaskan bahwa barang siapa yang dapat melihat kebenaran dengan jalan memperhatikan kedua bukti itu, dan meyakini adanya Allah serta melakukan amal yang baik, maka manfaat dari semuanya itu adalah untuk dirinya sendiri. Akan tetapi sebaliknya barang siapa yang tidak mau melihat kebenaran atau berpura-pura tidak mengerti, maka akibat buruk dari sikapnya itu akan menimpa dirinya sendiri.

Allah berfirman: Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. (Fussilat/41: 46. Perhatikan pula al-Isra'/17: 7).

Al-Hasan dan Al-Husayn Talaqqi Al-Qur’an kepada Abu Abdirrahman As-Sulami

Di akhir ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada kaumnya bahwa Muhammad sekali-kali bukanlah pemelihara mereka, yakni Nabi Muhammad sekali-kali tidak ditugaskan mengawasi amal-amal mereka dan tidak dapat membuat mereka menjadi mukmin.

Dia hanyalah seorang utusan Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang telah diterimanya. Sebenarnya yang mengawasi amal mereka ialah Allah. Dia mempunyai pengawasan yang tak terbatas terhadap semua amal mereka baik yang mereka lakukan secara terang-terangan ataupun yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Semua amal itu akan diberi balasan yang setimpal. (Syahruddin El Fikrisajada.id/)