Hikmah
Beranda » Berita » Kayak Wali Majdub, Dikira Hanya Seorang Budak Dekil…

Kayak Wali Majdub, Dikira Hanya Seorang Budak Dekil…

Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Maka tak layak bila merasa diri paling baik atau bahkan lebih tinggi dari orang lain.

Kisah berikut ini, layak jadi pelajaran. Jangan melihat sesuatu dari luarnya. Karena bisa jadi dia lebih baik dari seseorang yang merasa sempurna.

Dikisahkan, ada seorang budak meminta kepada laki-laki yang membelinya. “Wahai tuanku, sesungguhnya aku ingin membuat perjanjian denganmu, sebelum tuan membawaku.”

Syukur dan Istighfar, Jalan Datangnya Keberkahan Hidup

“Katakanlah, apa keinginanmu,” jawab laki-laki tersebut.

Pertama, tuan jangan menghalangiku menunaikan shalat fardhu, apabila telah datang waktunya. Kedua, tuan boleh memerintahku sekehendak hati tuan pada siang hari, tapi tidak boleh memerintahkanku di waktu malam. Ketiga, tuan menyediakan sebuah tempat khusus untukku di rumah tuan, dan tidak boleh ada seorang pun yang boleh memasukinya,” kata si budak ini.

 

Ruangan Khusus

“Baik, aku menyetujuinya,” jawab si laki-laki tersebut.

Mengajar Tanpa Komputer, Menginspirasi Dunia: Kisah Guru dari Ghana

Sesampainya di rumah si majikan, si budak ini dipersilahkan memilih ruangan yang dia inginkan. “Lihatlah kamar-kamar itu dan silahkan pilih untukmu,” ujar laki-laki yang telah menjadi tuannya.

Maka, si budak ini kemudian berkeliling dan menemukan sebuah ruangan yang tidak terawat dan dalam keadaaan rusak parah. “Saya memilih kamar yang ini saja,” ujarnya.

Baca Juga: Istri Ngambek Karena Suaminya Suka Menerima Tamu, Endingnya..

Barokah Itu Bukan Sekadar Banyak: Hikmah Ibrahim bin Adham dari Kambing dan Anjing

Tuannya ini pun kaget dengan pilihan si budak tersebut. “Mengapa engkau memilih ruangan yang tak terawat dan kotor ini,” tanyanya.

“Tidak mengapa tuan, saya rela menempati tempat tersebut,” ujarnya.

Maka sejak saat itu, resmilah si budak ini tinggal bersama tuannya. Sesuai dengan perjanjian, si budak akan taat mematuhi perintah tuannya di siang hari, dan di malam harinya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah.

Setelah sekian lama berjalan, suatu malam si empunya rumah berkeliling di sekitar rumah hingga ia melewati kamar si budak. Alangkah kagetnya ketika ia menyaksikan di kamar itu penuh dengan cahaya. Sementara itu, ia melihat si budak itu tengah bersujud kepada Allah.

Nasihat Mbah Moen: Jangan Bercerai Hanya Karena Takut….

“Wahai Tuhanku, Engkau wajibkan diatas pundakku ini hak tuanku dan aku melayaninya di siang hari. Seandainya tidak ada kewajiban itu, tentu aku akan menggunakan waktu malam dan siangku untuk mengabdi ke hadirat-Mu. Maka, sekarang terimalah alasanku itu sebagai uzur bagi hamba,” doa si hamba terdengar di telinga majikannya.

Maka segeralah si majikannya ini pergi ke kamarnya sendiri. Di kamar, ia menceritakan kejadian yang baru saja diperhatikannya.

Keesokan malamnya, ia bersama istrinya kembali menuju ruangan si hamba sahaya. Keduanya kembali mendapati ruangan si hamba ini penuh dengan cahaya yang bersinar terang.

Tetap Beristighfar Usai Berbuat Baik: Menyadari Keterbatasan Amal Manusia

Baca Juga: istri Ngambek Karena Suaminya Suka Menerima Tamu, Endingnya..

Dibebaskan dari Perbudakan

Di pagi hari, dipanggillah si hamba sahaya ini. “Mulai sekarang, kamu telah bebas dan merdeka, karena Allah. Engkau dapat beribadah kepada Allah sekehendakmu,” ujar majikannya.

Si budak ini pun lantas menengadahkan wajah ke langit seraya mengucapkan syukur dan berdoa. “Wahai pemilik rahasia, sesungguhnya rahasia ini benar-benar telah tersingkap. Aku tidak menghendaki hidupku setelah rahasia ini terungkap.”

Menutup Ramadan dengan Al-Qur’an, Majelis Taklim Balai Wartawan Depok Gelar Khataman dan Buka Bersama

Kemudian, dia berkata lagi. “Ya Allah, aku memohon kematian.” Dia kemudian roboh dan akhirnya meninggal dunia.

Demikianlah keadaan orang-orang yang saleh, dan senantiasa merindukan Allah. Mereka tidak takut kepada siapapun. Yang mereka takut dan khawatirkan hanyalah Allah.

(Syahruddin El Fikri, dikutip dari Kitab Karamatil Auliya an-Nabhani).