SAJADA.ID, BOGOR — Indonesia saat ini dihadapkan pada tiga tantangan strategis nasional secara simultan: ketahanan pangan, kemandirian energi, dan ketahanan iklim. Sebagai negara beriklim tropis yang hanya memiliki dua musim, Indonesia pada dasarnya memiliki keunggulan komparatif pengelolaan lingkungan yang lebih efisien dibandingkan negara-negara dengan empat musim.
Namun, keberhasilan mengatasi ketiga tantangan geopolitik dan ekonomi ini sangat bergantung pada kepastian tata kelola ruang serta bentang alam secara berkelanjutan.
Pendiri Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia, Dr. Petrus Gunarso, menegaskan bahwa akar tantangan ekologi dan pembangunan nasional tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan sektoral yang terpisah. Melainkan harus dipandang sebagai satu kesatuan bentang alam (lanskap).
“Pendekatan kita harus bergeser. Persoalan hari ini bukan sekadar tentang kebun sawit semata, melainkan persoalan tata kelola bentang alam secara utuh dan terintegrasi,” ujar Dr. Petrus Gunarso dalam Forum Diskusi Terbatas (FDT) yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI) di IPB University, Bogor, Senin (31/8/2026).
Petrus memaparkan bahwa tata kelola lanskap berkelanjutan wajib mengintegrasikan seluruh elemen ruang secara proporsional dan memiliki kepastian hukum, yang mencakup: kawasan konservasi, hutan produksi, perkebunan kelapa sawit, pertanian pangan, dan sungai serta daerah aliran sungai.

“Penetapan proporsi area perlindungan ekosistem harus jelas dan terlindungi. Juga perlu optimalisasi budidaya sektor kehutanan yang lestari,” kata Petrus dalam FDT bertema “Membangun Ketahanan, Kemandirian Pangan dan Energi Melalui Nexus Baru Tata Kelola Sawit Berkelanjutan” tersebut.
Terkait perkebunan sawit, kata Petrus, perlu kepastian luas area komoditas strategis nasional secara presisi. Perlindungan dan peningkatan produktivitas lahan pangan berbasis kekuatan 7 juta hektar sawah nasional juga harus diperhatikan.
Petrus mengatakan, penataan ruang pemukiman yang tumbuh seiring dinamika demografi, ditopang jaringan jalan dan jembatan yang terencana juga menjadi bagian dari strategi yang dilakukan. Ia menambahkan bahwa kepastian ruang merupakan prasyarat mutlak untuk menjalankan aksi iklim yang terukur dan efisien.
“Ketika ruang telah pasti, maka konservasi dapat dijalankan, potensi serapan karbon dapat dihitung secara akurat, biodiversitas dapat dilindungi, ketahanan iklim dapat dibangun, dan industri sawit dapat berkontribusi nyata bagi kedaulatan pangan serta energi nasional,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Petrus menekankan bahwa integrasi antar-komponen ini memerlukan komitmen lintas sektor. Semua fungsi strategis—mulai dari penataan ruang, konservasi hayati, perhitungan karbon, hingga transformasi sawit—hanya dapat dilakukan jika bentang alam dikelola dalam satu kerangka tata kelola yang pasti, inklusif, dan berkelanjutan.

Para Pakar dan Akademisi
Selain Dr. Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., M.Sc. (Pakar dan Pengamat Senior Tata Kelola Kelapa Sawit), FDT ini turut menghadirkan narasumber lainnya seperti Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S (Kepala Pusat Studi Kelapa Sawit IPB University), Ir. Kacuk Sumarto, MBA (Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia/RSI).
Kemudian ada juga Dr. Ir. Muhammad Abdul Ghani, M.Si (Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara), Dr. Ir. Tungkot Sipayung (Founder dan Direktur Eksekutif PASPI), Prof. Dr. Ir. Soerjo Adi Wibowo (Guru Besar IPB University), danProf. Dr. Ir. Budi Mulyanto, M.Sc (Guru Besar IPB University).
(Syahruddin/sajada.id)






Komentar