Home > Agama

Kisah Putra Mbah Moen, di Mesir tak ada Polemik Perbedaan Awal Puasa dan Hari Raya

Menjaga Kebersamaan Lebih Penting Ketimbang Pendapat Pribadi
KH. Abdul Ghafur Maimoen (istimewa)
KH. Abdul Ghafur Maimoen (istimewa)

Kisah Putra Mbah Moen, di Mesir tak ada Polemik Perbedaan Awal Puasa dan Hari Raya

Menjaga Kebersamaan Lebih Penting Ketimbang Pendapat Pribadi

.

SAJADA.ID—Sahabat yang dirahmati Allah SWT. Polemik perbedaan awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha hampir selalu menjadi bagian perdebatan masyarakat Islam di Indonesia setiap tahun. Entah yang berbeda awal puasa, Idul Fitri, atau bahkan Idul Adha (hari raya kurban). Seolah setiap tahun selalu ramai. Yang sebagian bingung adalah umat Islam.

Tentu banyak yang bertanya, apakah tidak bisa disamakan perbedaan itu, agar tidak terjadi kebingungan di kalangan umat. Banyak juga yang berpendapat, perbedaan itu adalah rahmat yang harus disyukuri, sehingga menjadi harmoni dalam perbedaan. Intinya, adalah saling menghargai dan menghormati. Sebab, semua didasarkan pada dalil dan pandangan yang komprehensif mengenai sebuah permasalahan.

Ada cerita menarik dari Gus Ghafur, lengkapnya KH. Abdul Ghafur Maimoen, putra dari Mbah Moen. Dalam sebuah artikelnya yang berseliweran di media sosial, Gus Ghafur menceritakan pengalamannya saat berada di Mesir, negeri piramida, mengenai awal puasa dan idul fitri.

Baca Juga: Kisah Mbah Hasyim Asyári Menegur Menantunya yang Ahli Falak

Kisahnya begini dengan sedikit perbaikan seperlunya tanpa mengubah esensi;

Di Al Azhar Mesir, saya bertemu dengan sejumlah guru yang mengesankan. Salah satunya adalah Syekh Prof. Dr. Musa Syāhīn Lāsyīn. Ia adalah guru besar di bidang Hadis. Di antara karyanya yang populer adalah Fat al Mun’īm fī Syar aī Muslim dan Al Manhal al adī fī Syar Aādī al Bukhāriyy. Penampilannya bersahaja, ramah, dan terbuka saat memberi kuliah.

Pagi itu adalah awal Ramadhan. Saya ke kampus dan masuk di ruang perkuliahannya. Ia bertanya kepada santri-santrinya, kapan memulai puasa Ramadhan. Tentu saja kami memulai puasa di hari itu. Tak ada tradisi berbeda memulai puasa di sini. Semua seragam, sesuai dengan pengumuman Pemerintah. Hal yang tak saya duga, tiba-tiba ia menyampaikan bahwa menurutnya puasa Ramadhan seharusnya dimulai kemarin sesuai perhitungan hisab. Ia tampak lebih menyetujui metode hisab ketimbang rukyah. Akan tetapi, Pemerintah mengumumkan puasa hari ini, dan ia lebih memilih mengikutinya ketimbang mempertahankan pendapat pribadinya.

Baca Juga: Menghisabkan NU Merukyatkan Muhammadiyah

Sikapnya ini ia sampaikan juga dalam karyanya, Fat al Mun’īm fī Syar aī Muslim. Dalam karyanya ini, setelah menyampaikan argumentasinya yang tampak sangat jelas membela metode hisab ia mengakhirnya dengan pernyataan bahwa pada akhirnya masyarakat diharuskan mengikuti keputusan hakim (pemerintah). Hakim yang (kelak akan) mempertanggung jawabkan ijtihad dan keputusannya di hadapan Allah. Selain yang melihat hilal dan pengguna hisab harus mengikuti pemerintah. (Lihat: Fatḥ al Mun’īm fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 4, hal. 507).

وأولاً وأخيراً الناس ملزمون بحكم الحاكم، والحاكم مسئول أمام الله عن اجتهاده وحكمه، فإن استقر عنده صحة شهادة الشاهد المثبت حكم بثبوت الهلال وإن نفاه أهل الحساب، وإن استقر عنده صحة إثبات الحساب لوجود الهلال حكم بثبوته وإن نفاه المتراءون. والأمر في استقرار النفي عنده كذلك. وحكم الحاكم واجب الطاعة في حق غير الرائي وفي حق غير الحاسب باتفاق العلماء، أما الرائي والحاسب فيلزمان بالعمل بعلمهما. والله أعلم.

Sepertinya, Indonesia membutuhkan banyak tokoh seperti beliau. Harapan banyak masyarakat agar kita memiliki lebaran yang sama, Ramadhan yang sama dan Idul Adha yang sama saya kira sangat besar. Rasanya itu hanya bisa terwujud jika tokoh-tokohnya memiliki kerendahan hati bahwa ijtihadnya bukanlah kebenaran mutlak yang harus dipertahankan mati-matian meski harus mengorbankan kebersamaan umat yang tentu saja jauh lebih penting.

Baca Juga: Mengapa Muhammadiyah Bersikukuh Memakai Hisab Ketimbang Rukyat?

× Image