Home > Agama

Syekh Abdullah: Penyebar Islam di Suku Banjar dan Dayak (Part 1)

Setiap hari, makamnya diziarahi ratusan jamaah dari berbagai daerah di seputar Kalimantan Timur.

Karomah

Kejadian yang tak diinginkan pun akhirnya terjadi. Karena perjalanan dakwahnya yang luas, adakalanya beliau berdakwah seorang diri tanpa santri atau pengikut. Sampai suatu ketika, saat akan kembali menyusuri pedalaman daerah Seram, di Muara Kedang, beliau berjumpa dengan sebagian warga suku pedalaman. Komunikasi yang tak lancar, membuat dakwah terhambat karena berbeda antara maksud dan yang dipahami.


Kesalahanpahaman komunikasi itu membuat beliau harus merelakan diri beliau dihunus pedang oleh warga suku tersebut hingga menghembuskan napas yang terakhir. Saat itu, beliau bermaksud mau ke belakang rumah, tetapi yang dipahami oleh warga suku beliau mau mencari sesuatu, sehingga saat beliau lengah, tombak langsung dihunuskan ke tubuh beliau.
Darah pun menetes. Dan anehnya, bukan darah merah yang keluar dari tubuhnya yang mulia, melainkan darah berwarna putih. Hal itu membuat warga suku kaget. Dan yang makin membuat mereka makin tercengang, sebagaimana informasi yang penulis dapatkan, darah putih yang keluar itu kemudian membentuk tulisan Arab berbunyi Allah dan Muhammad.


Sebelum Syekh Abdullah menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau sempat menyampaikan bahwa akan ada kesulitan yang dialami warga atau siapapun yang berusaha di daerah Seram hingga tujuh keturunan mereka kelak. Dan kejadian itu benar-benar dirasakan warga Seram maupun warga luar yang berusaha mencari nafkah di daerah tersebut selalu merasa kesulitan. "Intinya ngalih, sulit mencari nafkah di situ, dan sudah pernah membuktikannya," ujar Iskandar meyakini apa yang diucapkan Syekh Abdullah dulu sebelum wafatnya.


Hal serupa juga diungkapkan Saiman (39 tahun), warga Jantur. Menurutnya karomah atau kekeramatan Syekh Abdullah sudah banyak diketahui. Di antara kekeramatan lainnya adalah saat air Danau Jempang. "Kalau air pasang (dalam), dan rumah-rumah di Jantur banyak yang calap (kebanjiran), tetapi komplek makam Datuk Syekh Abdullah tak pernah kebanjiran, padahal makam beliau ada di pinggir sungai," ujar suami dari Noriah tersebut.


Iskandar menambahkan, Syekh Abdullah walau wafat puluhan atau hampir satu abad lamanya, namun namanya tetap ada di hati penduduk Desa Jantur dan sekitarnya.
Ia menyebutkan, saat Danau Jempang mengering hingga bisa dilewati atau dilintasi kendaraan roda empat maupun roda dua, yang kondisi itu dapat membuat warga di sekitar Danau Jempang kesulitan mencari ikan, tetapi berkat karomah dari Syekh Abdullah yang merupakan Auliya Allah, maka warga Desa Jantur dan sekitarnya masih bisa mendapatkan ikan dalam jumlah yang cukup.

"Kami akui karena beliau adalah seorang wali Allah yang senantiasa diberikan keistimewaan oleh Allah, sehingga warga di Jantur khususnya masih mendapatkan ikan," ujarnya.

(Syahruddin El Fikri, Jurnalis Republika, Khadimul Rumah Berkah).

× Image