Tahap Awal Membahas tentang Wudhu dan keutamaannya.
SAJADA.ID, DEPOK – Bulan suci Ramadhan menjadi momentum peningkatan kualitas ibadah dan keilmuan. Hal itu tampak dalam kegiatan Pengajian Ramadhan dan Ngaji Kitab Kuning yang digelar PC. Pagar Nusa Kota Depok di Jl. H. Dimun, RT 04/02, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, mulai pukul 21.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan ini menghadirkan Ketua PC. Pagar Nusa Kota Depok, Ustadz Eko Mustopa, sebagai narasumber. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren Al Basyariyah, Pilang Kenceng, Madiun.
Dalam kajiannya, Ustadz Eko membahas tema penting tentang keutamaan berwudhu dan relevansinya dalam kehidupan seorang muslim, termasuk dalam praktik pencak silat Pagar Nusa.
Wudhu sebagai Pondasi Ibadah
Dalam pemaparannya, Ustadz Eko Mustopa menegaskan bahwa wudhu bukan sekadar aktivitas membersihkan anggota tubuh, melainkan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Wudhu adalah pintu gerbang menuju sah dan sempurnanya shalat.
Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
“Awalu ma yuhasabu bihi al-‘abdu yaumal qiyamah sholatuhu.”
“Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya shalat sebagai tolok ukur amal seorang hamba. Jika shalatnya baik dan sempurna, maka amalan lainnya akan mengikuti menjadi baik. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka rusak pula amalan lainnya.
Dan shalat yang baik, tegasnya, harus diawali dengan wudhu yang benar dan sempurna.
Wudhu dimulai dengan niat yang tulus karena Allah Ta’ala, dilanjutkan dengan membasuh anggota tubuh sesuai tuntunan syariat: berkumur, membersihkan hidung, membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki.
Setiap gerakan memiliki doa dan makna tersendiri, yang menunjukkan bahwa wudhu bukan sekadar rutinitas, tetapi sarat nilai pendidikan ruhani.
Keterkaitan Wudhu dan Gerakan Pagar Nusa
Menariknya, Ustadz Eko juga mengaitkan gerakan wudhu dengan gerakan awal dalam pencak silat Pagar Nusa. Menurutnya, beberapa gerakan dalam wudhu memiliki kemiripan dengan gerakan dasar saat memulai latihan silat, khususnya saat membasuh kedua tangan dari ujung jari hingga siku.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Pagar Nusa—yang merupakan badan otonom di bawah Nahdlatul Ulama—unsur spiritual dan fisik berjalan beriringan. Silat bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga pembinaan akhlak, kesucian diri, dan kedisiplinan ibadah.

“Gerakan membasuh tangan itu seperti kita sedang mempersiapkan diri. Dalam silat, sebelum bergerak kita siapkan sikap. Dalam ibadah, sebelum shalat kita sucikan diri,” jelasnya.
Ramadhan: Saatnya Naik Kelas
Dalam suasana santai namun penuh makna, Ustadz Eko sempat menyampaikan sindiran ringan kepada para jamaah. Ia menyinggung bacaan niat wudhu yang sering diucapkan secara tergesa dan kurang tepat.
“Dari pertama kita belajar bab wudhu, niatnya selalu digabung, nawaitul wudhu’a lirof’il hadasil asghori fardholillahi ta’ala, masih saja seperti anak TK,” ujarnya sambil tersenyum, disambut tawa jamaah.
Namun di balik candaan itu, tersimpan pesan mendalam. Bulan Ramadhan adalah bulan peningkatan kualitas diri. Tidak selayaknya seorang muslim terus berada pada level pemahaman yang sama tanpa ada perbaikan.
“Ramadhan ini bulan peningkatan. Kita harus naik kelas. Jangan TK terus. Karena itu pentingnya kita mengaji, menuntut ilmu,” tegasnya.
Melalui pengajian kitab kuning ini, PC. Pagar Nusa Kota Depok berharap para anggota dan jamaah tidak hanya kuat secara fisik dalam bela diri, tetapi juga kokoh dalam ilmu dan ibadah.

“Wudhu yang benar akan melahirkan shalat yang khusyuk, dan shalat yang baik akan membentuk pribadi muslim yang tangguh lahir dan batin.”
Pengajian Ramadhan ini menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan pesantren tetap hidup dan terus diwariskan, bahkan di tengah aktivitas organisasi kepemudaan dan bela diri. Sebab pada akhirnya, kekuatan sejati seorang muslim terletak pada kedekatannya kepada Allah SWT.
Kontributor: Nasir Yusuf M.M (Anggota PC Pagar Nusa, Kota Depok.



Komentar