Pustaka
Beranda » Berita » FLP Jakarta Ajak Penulis Lintas Generasi Merawat Bahasa Lewat Karya

FLP Jakarta Ajak Penulis Lintas Generasi Merawat Bahasa Lewat Karya

SAJADA.ID, JAKARTA — Forum Lingkar Pena (FLP) Jakarta mengajak para penulis lintas generasi untuk terus berkarya dan merawat bahasa melalui tulisan yang jujur, bermakna, serta berangkat dari pengalaman dan kearifan lokal. Ajakan tersebut mengemuka dalam kegiatan bertajuk Merawat Bahasa dengan Karya di Ruang Teater Museum Mandiri, kawasan Kota Tua, Jakarta, Ahad (18/10).

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 peserta itu menghadirkan sejumlah karya hasil proses kreatif para penulis, mulai dari peluncuran antologi Jakarta Sebelum 22.17, pemutaran perdana film pendek Hadir karya sutradara Ali Musafa, hingga peluncuran buku karya siswa SMPTQ Citra Mulia melalui kolaborasi dengan program FLP Go to School.

Antologi dan film pendek tersebut merupakan hasil inkubator kepenulisan yang mendapat pendampingan dari dua penulis, Taufan E. Pras dan Uda Ipank. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi para penulis untuk menampilkan karya dan berbagi pengalaman dalam proses kreatif.

KH Syukron Ma’mun: Sang Singa Podium dan Warisan yang Tak Pernah Padam

Ketua Panitia Aira Kimberly mengatakan, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang apresiasi bagi para penulis. Melalui kegiatan ini, FLP Jakarta ingin mempertemukan penulis dari berbagai generasi sekaligus mendorong lahirnya karya-karya baru.

Ketua FLP Jakarta Imam Bukhari menegaskan, merawat bahasa tidak cukup hanya dengan menggunakan bahasa secara baik, tetapi juga dengan terus melahirkan karya dan membangun tradisi belajar.

“Apa pun bentuk karyanya, semangatnya tetap sama, merawat bahasa. Perawatan itu tidak hanya lewat karya, tetapi juga lewat proses belajar dan bertukar gagasan,” ujarnya.

Kekuatan Cerita Berangkat dari Lokalitas

Penulis novel Negeri 5 Menara, A. Fuadi, turut hadir membagikan pengalaman dan kiat menulis kepada peserta. Penulis yang telah bersentuhan dengan FLP selama sekitar 17 tahun itu mengingatkan pentingnya keyakinan, kesungguhan, dan konsistensi dalam membangun karya.

Pimpin Kembali MT Balwan, Adie Rakasiwi Siapkan Beragam Program dan Pembenahan Organisasi

Ia mengangkat kembali mantra yang populer melalui novelnya, Man Jadda Wajada, yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Menurutnya, penulis perlu percaya pada kemampuan diri dan terus mengembangkan gagasan, meskipun perjalanan menerbitkan karya tidak selalu mudah.

Fuadi juga menekankan bahwa penulis tidak harus selalu mengikuti tren pasar. Cerita yang berangkat dari lingkungan terdekat justru dapat menghadirkan kekuatan tersendiri karena memiliki karakter dan keunikan.

Ia mencontohkan pengalamannya mengangkat kehidupan kampung dan pesantren sebagai tema cerita. Unsur lokal tersebut dapat menjadi daya tarik apabila penulis mampu mengolahnya menjadi kisah yang kuat dan relevan bagi pembaca yang lebih luas.

BCA Syariah Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah melalui Kolaborasi Strategis di ISEF 2026

Menurut Fuadi, sebuah novel setidaknya memiliki tiga fungsi, yakni entertain atau menghibur, inform atau memberikan informasi, dan escape, yakni memberi kesempatan kepada pembaca untuk sejenak keluar dari rutinitas dan memasuki dunia cerita.

Karena itu, penulis perlu memahami alasan di balik karya yang ditulisnya. Fuadi menjelaskan empat hal mendasar yang dapat membantu penulis membangun cerita, yaitu why, what, how, dan when.

Pertama, why, yakni memahami alasan dan meluruskan niat dalam menulis. Kejelasan tujuan akan menjadi sumber motivasi ketika penulis menghadapi hambatan. Kedua, what, yaitu memilih subjek yang dikenal dan dipahami agar penulis memiliki kedekatan dengan bahan cerita.

Ketiga, how, yakni memahami cara mengembangkan tulisan dengan memperkaya referensi, melakukan pengamatan, dan menggunakan bantuan visual agar ide berkembang serta penulis tidak mudah mengalami writer’s block. Keempat, when, yaitu menjaga konsistensi dan menyediakan waktu untuk terus menulis.

Saat Orang Kecil Menasihati Guru Besar

Menulis Membutuhkan Proses dan Konsistensi

Selain menemukan ide, penulis perlu membangun alur kerja yang teratur. Fuadi mendorong peserta memanfaatkan mind mapping untuk menghimpun gagasan, menyusun kerangka tulisan, memecah gagasan menjadi sejumlah poin, lalu mengembangkannya menjadi paragraf yang saling terhubung.

Melalui tahapan tersebut, penulis dapat mengelola ide secara lebih sistematis hingga menjadi naskah yang utuh dan siap diterbitkan. Proses ini juga membantu penulis menjaga arah cerita agar tetap sesuai dengan tujuan awal.

Namun, di balik berbagai teknik menulis, Fuadi mengingatkan bahwa nilai sebuah karya tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah buku yang terjual, popularitas penulis, atau seberapa luas karya itu dikenal masyarakat.

PCNU Depok Gandeng Kodim 0508, Perkuat Sinergi Sukseskan Hari Santri 2026

Ia mengajak para penulis untuk menulis dari hati agar pesan yang disampaikan dapat menyentuh hati pembaca. Kejujuran dalam mengolah pengalaman dan menyampaikan gagasan menjadi salah satu kekuatan yang membuat sebuah tulisan tetap bermakna.

Fuadi juga mengingatkan pentingnya memandang kegiatan menulis sebagai investasi amal jariyah. Karya yang bermanfaat dapat terus memberikan nilai bagi orang lain, bahkan ketika penulisnya tidak lagi hadir di tengah masyarakat.

Karena itu, penulis tidak perlu kehilangan semangat hanya karena karyanya belum dikenal luas atau belum menjadi best seller. Selama tulisan tersebut memberikan manfaat, proses berkarya tetap memiliki arti.

Hadis Arbain Nawawi ke-40: Jangan Terlena Dunia, Bekali Diri Sebelum Mati

Pesan itu menjadi salah satu penegasan penting dalam kegiatan Merawat Bahasa dengan Karya. Menulis bukan sekadar menghasilkan buku, tetapi juga menyampaikan pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai kebaikan, dan inspirasi kepada pembaca.

Melalui kegiatan ini, FLP Jakarta menunjukkan bahwa tradisi literasi dapat tumbuh melalui kolaborasi, pendampingan, dan keberanian untuk menerbitkan karya. Kehadiran penulis berpengalaman bersama generasi muda juga membuka ruang bagi pertukaran gagasan dan regenerasi penulis.

Dari kawasan Kota Tua yang sarat sejarah, kegiatan tersebut mengingatkan kembali bahwa merawat bahasa tidak selalu membutuhkan panggung besar atau karya yang laris di pasaran. Upaya itu dapat dimulai dari satu gagasan, satu cerita yang jujur, dan satu halaman yang ditulis dengan sungguh-sungguh.

Bahasa akan terus hidup ketika masyarakat menggunakannya untuk menyampaikan gagasan dan melahirkan karya yang bermanfaat. Karena itu, semangat untuk terus menulis menjadi bagian penting dalam menjaga bahasa sekaligus mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.

(Ummu Ahya Gyantie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *