Nasional
Beranda » Berita » Eksplorasi Konsep Nexus Baru, Solusi Holistik Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Indonesia

Eksplorasi Konsep Nexus Baru, Solusi Holistik Tata Kelola Sawit Berkelanjutan Indonesia

SAJADA.ID, BOGOR— Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di tengah besarnya kontribusi ekonomi, sektor ini juga dituntut memenuhi standar keberlanjutan dan keterlacakan pasar global.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, MS, menawarkan pendekatan tata kelola yang lebih terintegrasi. Gagasan tersebut disebut sebagai konsep Nexus Baru (7 TAS+).

Prof Hariyadi memaparkan konsep ini pada Forum Diskusi Terbatas yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI) di Bogor, Senin (31/8/2026). Forum Diskusi Terbatas tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara dan pakar kelapa sawit. Mereka adalah Ir. Kacuk Sumarto, MBA, selaku Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI).

​Satu Kelola Bentang Alam: Kunci Indonesia Atasi Tantangan Pangan, Energi, dan Iklim​

Hadir pula Dr. Ir. Muhammad Abdul Ghani, M.S., Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, serta Dr. Ir. Tungkot P. Sihombing, Founder dan Direktur Eksekutif PASPI.

Pembicara lainnya adalah Prof. Dr. Ir. Soerjo Adi Wibowo, Guru Besar IPB University, dan Prof. Dr. Ir. Budi Mulyanto, M.Sc., Guru Besar IPB University, dan Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., M.Sc., Pakar dan Pengamat Senior Tata Kelola Kelapa Sawit.

Menurut Prof. Hariyadi, pendekatan parsial tidak lagi memadai untuk menjawab persoalan industri kelapa sawit. Pengelolaan sawit harus melihat keterkaitan berbagai dimensi secara utuh.

“Keberlanjutan bukan lagi sekadar persoalan produksi minyak sawit atau isu lingkungan semata,” ujar Prof. Hariyadi.

Duet KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Diharapkan Bawa NU Lebih Baik

“Keberlanjutan adalah tentang keterkaitan dinamis dan saling memengaruhi antara aspek ekonomi, lingkungan, sosial, tata ruang, hingga kelembagaan,” lanjutnya.

Tantangan Sawit Semakin Kompleks

Prof. Hariyadi menjelaskan, industri sawit saat ini menghadapi berbagai persoalan. Mulai dari konflik agraria, legalitas lahan, isu deforestasi, hingga tuntutan keterlacakan rantai pasok.

Efisiensi energi juga menjadi perhatian penting. Demikian pula standar keberlanjutan yang semakin ketat di pasar internasional.

RSI Tegaskan Peran Strategis Industri Sawit dalam Kemandirian Pangan dan Energi Nasional

Menurutnya, kompleksitas tersebut tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan. Setiap persoalan memiliki hubungan dengan dimensi lainnya.

Kerangka Nexus Baru hadir sebagai pendekatan transformatif. Konsep tersebut mendorong lahirnya kebijakan yang mempertimbangkan dampak lintas sektor.

Tata kelola sawit, kata dia, perlu memperhatikan keterkaitan lingkungan, ekonomi, sosial, tata kelola, dan tata ruang. Semua aspek tersebut harus berjalan secara seimbang.

Dalam aspek lingkungan, perhatian mencakup penanganan deforestasi dan perlindungan keanekaragaman hayati. Pengurangan emisi karbon serta pemulihan tanah dan air juga menjadi bagian penting.

Reuni Jamaah Haji Khusus 2026, Sari Ramada Arafah dan Gaido Travel Ajak Jaga Haji Mabrur

Pengelolaan limbah juga harus menjadi perhatian dalam industri sawit.Seluruh proses perlu diarahkan untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

Pada aspek ekonomi, pendekatan Nexus Baru mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi. Penguatan daya saing industri juga menjadi bagian penting.

Selain itu, diperlukan peningkatan nilai tambah melalui sektor hilirisasi. Ekspansi pasar ekspor harus berjalan seiring dengan keberlanjutan pendapatan pelaku usaha dan petani.

Peringati Kemerdekaan, Puluhan Wartawan Ikuti Turnamen Tenis Meja Antarmedia

“Aspek lingkungan terkait pengelolaan limbah. Ekonomi tentang peningkatan produktivitas dan efisiensi,” katanya.

“Termasuk penguatan daya saing, penyerapan nilai tambah downstream, ekspansi ekspor, serta jaminan keberlanjutan pendapatan pelaku usaha dan petani,” lanjutnya.

Sementara itu, aspek sosial berkaitan erat dengan kesejahteraan petani swadaya. Perlindungan hak tenaga kerja dan pemenuhan hak masyarakat adat maupun masyarakat lokal juga harus mendapat perhatian.

Pakar UPER Soroti Komunikasi di Tengah Gempa NTT, Informasi Akurat Jadi Kunci Keselamatan

Penyelesaian konflik agraria menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola yang berkelanjutan. Pembangunan wilayah juga harus memberikan manfaat secara inklusif.

Prof. Hariyadi menambahkan, kepastian hukum menjadi fondasi penting dalam pengelolaan industri sawit. Termasuk pula legalitas lahan dan transparansi rantai pasok.

“Penegakan kepastian hukum, penyelesaian legalitas lahan, transparansi rantai pasok atau traceability, dan akuntabilitas kelembagaan sangat penting,” ujarnya.

Partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan juga diperlukan. Pemerintah, pelaku industri, petani, masyarakat, dan berbagai pihak harus memiliki peran.

Sawit, Pangan, dan Energi

Menurut Prof. Hariyadi, tata kelola sawit juga harus memperhatikan kebutuhan pangan dan energi nasional. Keseimbangan keduanya perlu dijaga dalam setiap kebijakan.

Kelapa sawit memiliki peran dalam mendukung ketahanan energi. Salah satunya melalui pengembangan energi terbarukan dan program biodiesel.

Namun, kebijakan tersebut tidak boleh mengabaikan tata ruang dan kebutuhan pangan. Pemanfaatan lahan harus terencana secara cermat dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan Nexus Baru, setiap keputusan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap berbagai sektor.

Penentu kebijakan dan pelaku industri, kata Prof. Hariyadi, perlu melihat hubungan antardimensi secara menyeluruh. Dengan demikian, regulasi yang diterapkan dapat menghasilkan dampak yang lebih seimbang.

Pendekatan tersebut dapat memperkuat masa depan industri kelapa sawit Indonesia. Tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat

(Syahruddin/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *