SAJADA.ID, JAKARTA— Variasi ukuran produk tekstil menjadi tantangan dalam menjaga ketepatan proses quality control. Menjawab kebutuhan tersebut, dua mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) merancang alat bantu untuk mempercepat pemeriksaan kesesuaian ukuran seragam.
Mereka adalah Muhammad Fajar Ikhlas dan Daven Trihasanaki Dersa. Keduanya merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Logistik UPER.
Alat tersebut dikembangkan untuk membantu pemeriksaan produk dalam jumlah besar. Seragam cukup dibentangkan pada alat ukur untuk mengetahui kesesuaian ukuran dan deviasinya dari standar.
Gagasan tersebut lahir saat keduanya terlibat dalam program PF SESAMA. Mereka menghadapi kebutuhan pemeriksaan ribuan seragam dengan ukuran dan spesifikasi yang beragam.
“Jumlah seragam yang harus diperiksa cukup banyak dengan ukuran dan spesifikasi yang beragam. Dari situ, kami mencoba membuat alat sederhana yang dapat membantu pengecekan menjadi lebih cepat dan tetap sesuai standar,” ujar Fajar.

Periksa Ribuan Paket BantuanDalam program tersebut, Teknik Logistik UPER menangani quality control, pengemasan, hingga pengiriman 6.888 paket bantuan. Paket itu berisi seragam dan perlengkapan sekolah bagi siswa SD dan SMP sederajat.
Distribusi bantuan menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah wilayah 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terluar, juga menjadi sasaran distribusi.
Kondisi tersebut membutuhkan pengelolaan logistik yang tepat. Jarak dan keterbatasan akses menjadi tantangan dalam memastikan bantuan tiba sesuai kebutuhan.
Alat yang dikembangkan Fajar dan Daven kemudian digunakan dalam proses quality control. Alat tersebut juga diberikan kepada vendor untuk membantu mendeteksi ketidaksesuaian ukuran sebelum barang dikirim ke UPER.
Penggunaan alat yang sama membuat tim dan vendor memiliki acuan pengukuran lebih konsisten. Pemeriksaan pun dapat dilakukan dengan standar yang sama pada setiap tahapan.
“Kami mencoba membuat tools yang tidak hanya mempercepat pengukuran, tetapi juga memberikan acuan yang sama bagi setiap orang,” kata Daven.
Menurutnya, kesesuaian ukuran tidak lagi hanya bergantung pada cara pemeriksaan masing-masing orang. Standar pengukuran dapat diterapkan secara lebih seragam.
Solusi dari Mahasiswa untuk Industri
Dosen Teknik Logistik UPER sekaligus pembimbing pengembangan alat tersebut turut mendukung inovasi ini. Mereka adalah Adji Candra Kurniawan, Iwan Sukarno, dan Yelita Anggiane Iskandar.
Laboran Nanda Ruswandi juga terlibat dalam proses pengembangan. Mereka menilai alat tersebut membantu menyederhanakan pemeriksaan ribuan seragam dengan spesifikasi berbeda.
“Alat ini membantu mempercepat proses pengukuran. Seragam cukup dibentangkan untuk mengetahui kesesuaian ukuran dan melihat sejauh mana deviasinya dari standar,” ujar Yelita.
Menurutnya, alat tersebut juga diberikan kepada vendor. Langkah itu agar potensi kesalahan dapat diminimalkan sejak awal.

Pembelajaran
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan pengalaman menyelesaikan persoalan nyata merupakan bagian penting pembelajaran mahasiswa.
Menurutnya, dunia logistik terus mengalami perkembangan. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi persoalan industri secara langsung.
“Logistik saat ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana barang berpindah dari satu titik ke titik lain. Rantai pasok juga harus dikelola secara efisien, adaptif, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Ichsan.
Ia mengatakan mahasiswa Teknik Logistik UPER dibekali pembelajaran yang dekat dengan persoalan nyata. Materinya meliputi rantai pasok global, logistik energi berkelanjutan, hingga logistik maritim.
Pengalaman tersebut akan mampu melahirkan solusi yang relevan. Baik untuk kebutuhan industri maupun masyarakat.
Inovasi mahasiswa UPER tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pendidikan dan persoalan nyata. Kampus tidak hanya menjadi ruang pengembangan teori, tetapi juga tempat melahirkan solusi praktis bagi berbagai tantangan industri.
(SFR/sajada.id)
Foto-foto: Dok. UPER.






Komentar