Agama
Beranda » Berita » Tasawuf NU: Spirit Sunyi yang Mengguncang Dunia Modern

Tasawuf NU: Spirit Sunyi yang Mengguncang Dunia Modern

SAJADA.ID–Di tengah dunia yang bising oleh ambisi, kompetisi, dan kecepatan tanpa jeda, tasawuf kerap disalahpahami sebagai jalan sunyi yang menjauh dari realitas. Ia dituduh sebagai pelarian ruang eskapisme bagi mereka yang lelah menghadapi dunia. Namun dalam perspektif ulama Nahdlatul Ulama (NU), tasawuf justru sebaliknya: bukan pelarian dari dunia, melainkan cara paling jernih untuk menaklukkan dunia.

Sejak berabad-abad lalu, Imam Al-Ghazali telah meletakkan fondasi bahwa tasawuf adalah inti agama. Ia bukan sekadar ritual dzikir atau wirid yang repetitif, melainkan proses serius membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin: riya’, hasad, ujub, dan cinta dunia yang berlebihan. Dalam kerangka ini, tasawuf adalah revolusi internal sebuah gerakan sunyi yang mengubah orientasi hidup manusia dari sekadar Memiliki” menjadi Mengabdi”.

Rumusan ini dipertegas oleh Syekh Ahmad Zarruq yang menyatakan bahwa tasawuf adalah disiplin untuk memperbaiki hati dengan tetap tunduk pada syariat. Di sinilah garis tegas ditarik: tidak ada tasawuf tanpa hukum, dan tidak ada spiritualitas yang sah jika ia menabrak Al-Qur’an dan Sunnah. Bagi ulama NU, tasawuf yang tercerabut dari syariat bukan hanya keliru, tetapi berpotensi menyesatkan.

Filosofi Alfiyah dalam Halal Bihalal Jatman Depok: KH. Fatkhuri Wahmad Tekankan Marwah Organisasi

Pandangan ini diwarisi secara kokoh oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Beliau menegaskan bahwa tasawuf harus berdiri di atas tiga pilar: ilmu, syariat, dan akhlak sosial. Tasawuf bukan ruang eksklusif bagi mereka yang mengasingkan diri, tetapi jalan hidup bagi mereka yang tetap terlibat dalam realitas mengajar, berdagang, memimpin, bahkan berjuang tanpa kehilangan kesadaran ilahiyah.

Karena itu, ukuran seorang mutaṣawwif sejati tidak pernah terletak pada simbol lahiriah. Bukan jubah, bukan gelar, apalagi klaim-klaim spiritual.

Ukurannya jauh lebih sunyi dan lebih berat: keikhlasan, kerendahan hati, kesabaran, dan konsistensi menjalankan syariat. Seorang sufi sejati justru sering tak dikenali ia hadir di tengah masyarakat, bekerja seperti biasa, tetapi hatinya terpaut kuat kepada Allah.

Sayangnya, di era digital yang serba instan, tasawuf juga mengalami distorsi. Muncul fenomena Spiritualitas cepat saji” klaim ma’rifat tanpa proses, merasa dekat dengan Tuhan tanpa disiplin ibadah, bahkan menjadikan tasawuf sebagai komoditas. Kritik ulama NU terhadap fenomena ini sangat tegas.

Cak Nun dan Sufisme yang Membumi

Dalam pandangan Syekh Ahmad Zarruq, tasawuf tanpa fikih adalah kebatilan, sementara fikih tanpa tasawuf adalah kekeringan.

Di titik ini, tasawuf NU tampil sebagai jalan tengah yang kokoh. Ia tidak membunuh dunia, tetapi menundukkan dunia di bawah kendali ruhani. Seorang sufi bukan orang yang meninggalkan kehidupan, tetapi orang yang tidak diperbudak oleh kehidupan. Dunia tetap digenggam, tetapi hati tetap tertambat kepada Allah.

Lebih dari itu, tasawuf dalam tradisi NU tidak berhenti pada kesalehan individual. Ia bergerak menjadi kesalehan sosial. Gagasan ini diperkuat oleh KH Sahal Mahfudz yang menekankan bahwa spiritualitas harus melahirkan keberpihakan kepada keadilan, kepada kaum lemah, dan kepada kemaslahatan umat.

Sabar Tanpa Tepi, Ikhlas Tanpa Tapi

Dalam kerangka ini, tasawuf bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tanggung jawab horizontal terhadap manusia.

Relevansi tasawuf semakin terasa di tengah krisis modern: kegelisahan eksistensial, kehampaan makna, dan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Teknologi memang mendekatkan jarak, tetapi tidak selalu mendekatkan hati.

Di sinilah tasawuf hadir sebagai penyeimbang mengajarkan bahwa kecepatan bukan segalanya, dan kedalaman adalah kunci ketenangan.

Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) pernah mengingatkan bahwa kesalehan tidak cukup berhenti pada ritual, tetapi harus menjelma menjadi energi kemanusiaan. Pesan ini menjadi gema kuat dalam tasawuf NU: menghadirkan Tuhan bukan hanya di sajadah, tetapi juga dalam tindakan sosial, dalam keadilan, dan dalam keberpihakan kepada sesama.

PDIP dan NU Depok Eratkan Silaturahim, Soroti Perda Pesantren hingga Evaluasi Bimroh

Pada akhirnya, tasawuf dalam perspektif ulama NU adalah jalan sunyi yang justru mengguncang dunia. Ia bukan tentang menjauh dari kehidupan, tetapi tentang menata ulang makna kehidupan itu sendiri.

Tasawuf adalah proses panjang menjadi manusia utuh yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jernih secara spiritual dan nyata kontribusinya bagi kemanusiaan.

Tasawuf bukan pelarian. Ia adalah perlawanan paling dalam melawan ego, melawan keserakahan, dan melawan kehampaan zaman.

Eksotisme dan Esoterisme: Menjaga Bentuk, Menghidupkan Makna

Semoga mencerahkan.

Bey Arifin

Pengurus IKPT Jombang

Antara Kesalehan Spiritual dan Kesalehan Sosial

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *