Humor
Beranda » Berita » Nasihat Bahlul untuk Khalifah Harun Al-Rasyid

Nasihat Bahlul untuk Khalifah Harun Al-Rasyid

Ilustrasi: Bahlul menasihati Khalifah Harun Al-Rasyid.

SAJADA.ID–Bahlul, dikenal sebagai seorang yang nyeleneh, aneh, dan berperilaku tak seperti manusia umumnya. Ia seringkali menyendiri, tinggal di kuburan, menggali pasir, bermain seperti anak kecil, dan lain sebagainya. Karena perilaku demikian, banyak orang yang menganggapnya bodoh, gila, dan tidak waras.

Sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Uqala al-Majanin (Orang-Orang Gila yang Berakal), Bahlul, yang dikira gila, seseungguhnya dia adalah saudara dari Khalifah Harun Al-Rasyid, Dinasti Abbasiyah. Bedanya, kalau Harun al-Rasyid sangat menyukai kemewahan dan kekayaan, sebaliknya Bahlul suka dengan kesederhanaan dan apa adanya.

Suatu hari, diceritakan, Khalifah Harun al-Rasyid berjalan-jalan di sekitar istananya. Tak lama kemudian dia sampai di sebuah kuburan. Di sana, Harun Al-Rasyid menyaksikan saudaranya sedang tidur-tiduran di kuburan. Khalifah Harun Al-Rasyid pun menegurnya.

Tangani Aduan Jemaah, Kementerian Haji dan Umrah Kedepankan Mediasi dan Musyawarah

“Hei, Bahlul saudaraku. Apa yang kamu lakukan disini (kuburan)?” tanya khalifah Harun Al-Rasyid. “Kenapa kamu disini, kapan kamu sadar (dari kegilaanmu),” ujarnya.

Mendengar panggilan itu, Bahlul dengan serta merta berlari dan kemudian naik ke atas pohon. Sesampai di atas dahan yang kuat, Bahlul berteriak dengan keras.

“Hei Harun, kapan kamu sadar (dari kegilaanmu)?” teriaknya.

Bahlul digambarkan sebagai orang yang kurang waras, padahal dia seorang ulama sufi, (ilustrasi).
Bahlul digambarkan sebagai orang yang kurang waras, padahal dia seorang ulama sufi, (ilustrasi).

Kesal dengan sapaan itu, Khalifah Harun al-Rasyid kemudian menegurnya lagi. “Kamu yang gila dengan kelakuanmu,” ujar Khalifah.

Bagi Tukang Cukur Ini, Tuhan itu Tak Ada

“Yang gila itu, kamu, Harun,” kata Bahlul.

“Kok, kenapa saya yang gila, bukankah kamu itu yang gila, tidur di kuburan, dan perilakumu seperti orang yang tidak waras,” kata Khalifah Harun Al-Rasyid.

“Itulah kenapa kamu yang gila,” teriak Bahlul dari atas pohon.

Karpet Kecil dan Taruhan yang Berbahaya Abu Nawas

“Kenapa begitu,” Tanya khalifah.

Youtube: Tiga Hal yang Disukai Fatimah | Khutbah Jumat | @Rumah Berkah – YouTube

“Kamu bermewah-mewah, membangun istana sebagus-bagusnya, menumpuk kekayaan, dan memamerkan ke mana-mana. Itulah kenapa kamu gila,” ujarnya.

Bahlul menambahkan, “Kamu menganggapku gila, karena perilaku suka tidur di kuburan, itu karena aku sadar, aku waras. Kamu menumpuk kemewahan dan membangun istana untuk duniamu, tapi kamu lupa, kehidupan akhiratmu. Sementara diriku, aku tidur di kuburan dan membangun kuburan, karena aku mempersiapkan untuk hidupku nanti,” ujarnya.

Topi Abu Nawas dan Konspirasi Kebohongan

Mendengar hal itu, Khalifah Harun al-Rasyid menangis. Ia tersadar, ternyata apa yang dikatakan saudaranya, Bahlul, yangt dikira gila, ternyata waras, berakal, dan sedang mempersiapkan kehidupan akhiratnya.

Bergetar Khalifah Harun al-Rasyid mendengarnya. Ia menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu ia berkata; “Demi Allah, engkau benar, wahai saudaraku. Tambahkan nasihatmu, maka aku akan penuhi permintaanmu,” ujarnya.

Bahlul kemudian berkata: “Aku mempunyai tiga permintaan. Jika engkau bisa memenuhinya, maka aku akan sangat berterima kasih padamu.”

Abu Nawas “Menipu Tuhan” dan Sejarah Syair I’tirof

“Minta dan katakanlah,” kata Khalifah.

Pertama, kata Bahlul; “Tambahkan umurku.”

Khalifah menjawab: “Aku tak mampu memenuhinya karena itu bukan kewenanganku.”

Jawaban Keren Abu Nawas: Satu Pertanyaan Tiga Jawaban

Kedua, lanjut Bahlul; “Jaga diriku dari Malaikat Maut.”

Lagi-lagi, Khalifah Harun Al-Rasyid menjawab bahwa dirinya tak mampu melakukannya.

Dan ketiga, kata Bahlul, “Masukkan diriku ke dalam surga dan jauhkan diriku dari api neraka.”

Untuk ketiga kalinya, Khalifah Harun Al-Rasyid tak sanggup memenuhinya. Maka kemudian Bahlul berkata: “Ketahuilah wahai Harun, sesungguhnya dirimu adalah hamba (dimiliki) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak memerlukan apapun dari dirimu.”

“Cukup bagimu dengan AL-Quran sebagai pedoman, niscaya hidupmu akan tenang.”

Sahabat, itulah Bahlul, dia adalah seorang ulama sufi, hidupnya sangat wara, dan tawadhu. Khalifah Harun al-Rasyid suka meminta nasihat darinya.

Allahu a’lam

(Syahruddin El-Fikri/sajada.id)