
Makna Spiritual Haji Menurut Syekh Junaidi Al Baghdadi
Oleh Syahruddin El Fikri
sajada.id/–Melaksanakan ibadah haji dan mendapat predikat haji mabrur adalah impian setiap muslim yang mengerjakan haji. Mabrur artinya selalu istiqomah dalam menjalankan kebaikan (Al-Birru). Bukan sebaliknya, hajinya tertolak (mardud).
Perjalanan haji dalam setiap lakunya mengandung makna spiritual. Syekh Al Junaid Al Baghdadi, sebagaimana dikutip oleh Al Hujwiri dalam kitabnya Kasyf Al Mahjub, menjelaskan laku spiritual ibadah haji.
Diceritakan, ada seorang laki-laki datang kepada Syekh Al-Junaid. Beliau lalu bertanya pada si pemuda, dari mana ia datang. "Saya baru saja pulang berhaji," jawab laki-laki itu.
Lalu, Syekh Al Junaid memperdalam pertanyaannya;
"Dari saat pertama engkau meninggalkan rumahmu, apakah engkau sudah meninggalkan seluruh dosa?" tanya Al Junaid.
"Tidak," jawab si pemuda itu.
"Kalau begitu," sambung Junaid, "kau belum pergi pada setiap pelabuhan di mana engkau bermalam."
Al Junaid bertanya lagi; "Apakah engkau juga telah melewati sebuah maqam di jalan Allah?"
"Tidak," jawab si pemuda. "Kalau begitu," lanjut Al Junaid, "kau belum melalui jalan tahap demi tahap."
Kemudian pertanyaan dilanjutkan; "Ketika engkau mengenakan baju ihram pada tempat yang telah ditentukan, apakah engkau sudah meninggalkan sifat kemanusiaan, sebagaimana engkau telah meninggalkan baju sehari-harimu?"
"Tidak," kata si pemuda. "Berarti, engkau belum mengenakan pakaian haji," kata Al Junaid.
"Ketika engkau berdiri di Padang Arafah untuk wukuf, apakah engkau melakukan kontemplasi kepada Tuhan?" tanya Al Junaid. "Tidak," jawab pemuda.
"Maka pada hakikatnya, engkau belum berwukuf di Arafah," ujar Al Junaid.
Ia melanjutkan; "Ketika engkau bermalam di Muzdalifah dan mendapatkan semua yang kau inginkan, apakah engkau sudah mencampakkan semua nafsu syahwatmu?" Si pemuda menjawab; "Tidak."
"Maka engkau, belum bermalam di Muzdalifah."
Al Junaid melanjutkan; "Ketika engkau bertawaf mengelilingi Ka'bah dan berlari-lari antara Safa dan Marwah, apakah engkau sudah mencapai tingkat kesucian (Safa) dan kebaikan (muruwah)?"
"Tidak," jawab si pemuda.
"Kalau begitu, engkau belum melakukan sa'i."
"Kemudian, ketika engkau pergi ke Mina, apakah semua ingin munajatnya berakhir?" tanya Al Junaid. "Tidak," jawab pemuda itu.
"Maka engkau belum pergi ke Mina."
Al Junaid melanjutkan; "Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan untuk melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan semua obyek hewani?"
"Tidak," jawab si pemuda. "Maka engkau," kata Al Junaid, "belum berkurban."
"Ketika engkau melempar jumrah (batu-batu), apakah engkau juga telah mencampakkan segala pikiran jahat yang menyertaimu?"
"Tidak," jawab pemuda itu. "Maka engkau," kata Al Junaid, "belum melempar dan melakukan haji."
Atas seluruh pertanyaan yang disampaikan, maka Syekh Al-Junaid al Baghdadi mememerintahkan pada si pemuda. "Kembalilah dan lakukan haji sebagaimana telah aku uraikan sehingga engkau akan mencapai Maqam Ibrahim." (Kasyf al-Mahjûb).
Dari cerita ini, jelaslah bahwa melaksanakan haji bukan sebatas ibadah fisik jasmani, tapi juga perlu laku batin atau spiritual. Sebab, seperti diuraikan di atas, praktik jasmani tanpa laku spiritual hakikatnya seseorang belum berhaji. Wallahu a’lam.
(Syahruddin El Fikrisajada.id/)





