Maksud hati ingin mencari kesalahan dan kekeliruan dalam Al-Qur’an, sebaliknya Gamal justru menemukan kebenaran dan akhirnya masuk Islam.
SAJADA.ID—Hidayah Allah dapat datang melalui jalan yang sama sekali tidak disangka. Kisah ini datang dari Mesir, tentang seorang mantan pelayan gereja bernama Gamal Arminius, yang kemudian dikenal dengan nama Gamal Zakaria Ibrahim setelah memeluk Islam.
Gamal merupakan seorang diakon gereja dan penganut Kristen yang taat. Dalam suatu kesempatan, ia ditugaskan oleh gereja untuk membaca Al-Qur’an secara mendalam. Tugas tersebut bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menemukan kesalahan dan kontradiksi dalam Al-Qur’an agar dapat digunakan sebagai bahan bantahan dalam perdebatan dengan kaum Muslimin.
Namun, apa yang terjadi justru di luar dugaan. Gamal membaca Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan dan kejujuran intelektual. Ia membuka mushaf, membaca ayat demi ayat, dan merenungkannya secara serius. Hasilnya justru mengguncang keyakinan lamanya.
Dalam sebuah pertemuan besar di gereja, Gamal mengambil mikrofon dan menyampaikan pernyataan yang mengejutkan banyak orang. Ia berkata,
“Saudara-saudaraku terkasih, kalian meminta saya melakukan tugas khusus: menemukan kontradiksi dalam Al-Qur’an. Saya telah meletakkan Al-Qur’an di hadapan saya, membacanya dengan jujur, dan saya tidak menemukan kontradiksi di dalamnya. Saudara-saudaraku, saya memeluk Islam.”
Saudara-saudaraku terkasih, kalian meminta saya melakukan tugas khusus: menemukan kontradiksi dalam Al-Qur’an. Saya telah meletakkan Al-Qur’an di hadapan saya, membacanya dengan jujur, dan saya tidak menemukan kontradiksi di dalamnya. Saudara-saudaraku, saya memeluk Islam.
–Gamal Zakaria Ibrahim–
Pernyataan itu sontak menimbulkan keheranan dan kegemparan di lingkungan gereja. Tidak mudah bagi seorang pelayan gereja yang dikenal taat untuk secara terbuka menyatakan keislamannya. Namun bagi Gamal, kebenaran yang ia temukan dalam Al-Qur’an tidak dapat lagi disangkal.
Setelah itu, Gamal menemui ibunya dan menyampaikan keputusannya. Ia berkata bahwa setelah membaca Al-Qur’an, ia meyakini bahwa kebenaran sejati ada dalam Islam. Sang ibu justru menjawab dengan tenang dalam bahasa Arab Mesir, “Kamu terlambat sekali, Gamal.”
Jawaban tersebut membuat Gamal tersentak. Ia menyadari bahwa ibunya ternyata telah lebih dahulu mengenal kebenaran Islam sebelum dirinya. Hal ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa langkah yang ia ambil bukanlah sebuah kesalahan.
Setelah resmi memeluk Islam, Gamal mengganti namanya menjadi Gamal Zakaria Ibrahim sebagai simbol perubahan hidup dan keimanan. Ia kemudian pergi ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah umrah atas nama ibunya, sebagaimana wasiat yang pernah disampaikan sang ibu kepadanya.
Dalam perjalanan hidupnya, Gamal juga menuliskan kisah hidayah yang ia alami dalam sebuah buku berjudul Why I Chose Islam, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Buku tersebut menjadi saksi perjalanan seorang pencari kebenaran yang akhirnya menemukan ketenangan dalam Islam.
Kisah Gamal Zakaria Ibrahim menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan hanya dibaca oleh orang-orang yang beriman, tetapi juga oleh mereka yang awalnya datang dengan niat menolak. Namun ketika dibaca dengan hati yang jujur, Al-Qur’an mampu menuntun siapa pun kepada cahaya kebenaran.
(Syahruddin El Fikri/SAJADA.ID)





Komentar