Agama
Beranda » Berita » Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Momentum Muhasabah dan Meningkatkan Ibadah Serta Shalat Khusuf

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Momentum Muhasabah dan Meningkatkan Ibadah Serta Shalat Khusuf

SAJADA.ID – Umat Islam di Indonesia akan menyaksikan fenomena gerhana Bulan total pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 H. Selain menjadi peristiwa astronomi yang menakjubkan, gerhana dalam pandangan Islam merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang mengandung pesan spiritual.

Berdasarkan data Lembaga Falakiyah PBNU, fase-fase gerhana (WIB) adalah sebagai berikut:

  • Awal fase gerhana sebagian: 16.50.01
  • Awal fase gerhana total: 18.04.28
  • Puncak gerhana: 18.33.37
  • Akhir fase gerhana total: 19.02.24
  • Akhir fase gerhana sebagian: 20.17.13

Secara keseluruhan, gerhana Bulan berlangsung sekitar 3 jam 27 menit. Wilayah Maluku dan Papua dapat menyaksikan fase totalitas secara lebih utuh dibandingkan wilayah barat Indonesia.

Kolaborasi Antara Humas UI dan Media di Kota Depok

Gerhana adalah Tanda Kebesaran Allah

Dalam Islam, gerhana bukanlah peristiwa yang berkaitan dengan mitos atau pertanda kematian seseorang. Rasulullah SAW meluruskan pemahaman tersebut dalam hadits sahih.

Dari Abu Mas‘ud Al-Ansari RA, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahirannya. Apabila kalian melihat keduanya (gerhana), maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai (gerhana itu) berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan dua hal penting: pertama, gerhana adalah ayat kauniyah (tanda kebesaran Allah); kedua, ketika terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa dan melaksanakan shalat.

Muslimat NU Anak Ranting RW 15 Rangkapan Jaya Baru Berbagi 200 Takjil untuk Ojol dan Warga

Anjuran Shalat Gerhana

Dalam riwayat lain dari Aisyah RA disebutkan:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِالنَّاسِ، فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ…

“Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW, lalu beliau shalat bersama manusia. Beliau berdiri lama, kemudian rukuk lama…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain ditegaskan:

Pentingnya Bersedekah

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ

“Apabila kalian melihat gerhana itu, maka bersegeralah menuju shalat.” (HR. Bukhari)

Meskipun sebagian riwayat menyebut gerhana matahari, para ulama sepakat bahwa hukum dan anjuran tersebut juga berlaku untuk gerhana Bulan (shalat khusuf), berdasarkan keumuman sabda Nabi SAW tentang matahari dan bulan.

Waktu dan Pelaksanaan Shalat Khusuf

Menurut fikih, shalat gerhana Bulan (khusuf) dilaksanakan ketika gerhana terlihat secara kasat mata dan masih berlangsung. Waktu Shalat Gerhana dimulai sejak awal gerhana hingga berakhirnya fase gerhana.

Adapun untuk wilayah Indonesia bagian Barat, pelaksanaan shalat gerhana dapat dimulai sejak awal gerhana hingga pukul 20.17 WIB. Wilayah WITA dan WIT menyesuaikan dengan perbedaan waktu masing-masing.

Inilah Keutamaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Adapun niat shalat Gerhana Bulan adalah sebagai berikut:

(Artinya: Aku niat melakukan shalat sunnah gerhana Bulan dua rakaat, ikut imam karena Allah SWT).

Mau Bayar Zakat, Infak & Sedekah? Ke Sini Aja

Shalat gerhana dilaksanakan dua rakaat. Setiap rakaat terdiri atas dua kali berdiri membaca Al-Fatihah dan surat, dua kali rukuk, serta dua kali sujud. Disunnahkan memperpanjang bacaan, memperbanyak doa, istighfar, dzikir, serta sedekah.

Muhasabah

Gerhana Bulan total yang bertepatan dengan bulan Ramadhan ini menjadi momentum bagi umat islam untuk bermuhasabah. Di tengah kekhusyukan menjalankan ibadah puasa, umat Islam diimbau untuk semakin menyadari bahwa alam semesta tunduk kepada kehendak Allah SWT. Maka ketika Bulan menggelap, hati pun hendaknya semakin terang oleh iman, doa, dan ketundukan kepada-Nya.

(Syahruddin El Fikri/sajada.id)

Ramadan 1447 H, MT Balai Wartawan Depok Gelar Pengajian dan Buka Puasa Bersama

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *