SAJADA.ID—Para ulama sejak dahulu mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat menanam amal untuk kehidupan yang kekal di akhirat. Sebuah ungkapan hikmah menyebutkan:
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، وَالْفَائِزُ مَنْ أَطَاعَ رَبَّهُ وَكَفَّا عَنِ الْمَعَاصِي وَالْمُحَرَّمَاتِ
“Dunia adalah ladang akhirat. Orang yang beruntung adalah mereka yang taat kepada Rabb-nya dan menahan diri dari perbuatan maksiat serta hal-hal yang diharamkan.”
Makna ini sejalan dengan firman Allah Ta‘ala:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat, Kami tambahkan baginya keuntungan itu. Dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, namun tidak ada baginya bagian di akhirat.” (QS. Asy-Syūrā: 20)
Kesadaran bahwa dunia adalah ladang akhirat mendorong seorang mukmin untuk memperbanyak ketaatan, baik di waktu malam maupun di siang hari. Allah Ta‘ala memuji orang-orang yang istiqamah dalam ibadah (QS. As-Sajdah: 16):
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16).
Dan juga:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ
“Dan pada sebagian malam bertahajud-lah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu…” (QS. Al-Isrā’: 79)
Ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan dzikir merupakan buah dari ilmu agama yang benar. Namun, ilmu agama tidak lahir dari dugaan atau pencarian serampangan. Ia harus dipelajari melalui jalur yang sahih. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُوَ بِالتَّعَلُّمِ
Artinya, “Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar.” (HR. Ath-Thabrani)
Belajar ilmu agama bukan sekadar dengan membaca buku tanpa bimbingan, bukan pula hanya dari media sosial, mesin pencari, atau kecerdasan buatan. Semua itu tidak dapat menggantikan peran guru yang memiliki sanad keilmuan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, tetapi dengan mewafatkan para ulama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa ilmu agama terjaga melalui para ulama, yang mewariskannya dari generasi ke generasi. Karena itu, para sahabat dan ulama salaf sangat menekankan pentingnya sanad. Abdullah bin Mubarak Rahimahullah berkata:
الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa saja bebas berkata apa saja.”
Maka, metode yang benar dalam menuntut ilmu agama adalah talaqqi dan musyāfahah, belajar langsung dari guru yang tsiqah dan memiliki mata rantai keilmuan yang jelas hingga para sahabat Rasulullah ﷺ. Inilah jalan aman untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dan mengamalkannya dengan benar.
Dengan ilmu yang sahih, seorang muslim akan mampu memperbanyak ketaatan, menjauhi maksiat, dan menjadikan hidupnya di dunia sebagai ladang subur untuk kebahagiaan akhirat.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
وَاللَّهُ تَعَالَىٰ أَعْلَمُ وَأَحْكَمُ
(Syahruddin El Fikri/SAJADA.ID)



Komentar