Agama
Beranda » Berita » Daya Spiritualitas “Hari Arafah”

Daya Spiritualitas “Hari Arafah”

Padang Arafah (dok). Heru Siswanto (insert)
Padang Arafah (dok). Heru Siswanto (insert)

Daya Spiritualitas Hari Arafah

Oleh Dr. Heru Siswanto, M.Pd.I

sajada.id/– jama'ah haji setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, dengan tubuh yang lelah, letih menjadi satu akan tetapi hati tetap dengan tulus penuh harapan besar untuk mendapatkan ridho-Nya semata.

Penuh Haru, Jamaah Rumah Berkah Beri Kejutan untuk Ustadz di Acara Santunan Yatim dan Dhuafa

Dan, alhamdulillah pada akhirnya para jama'ah haji sampai juga ke Mekah dengan penuh haru. Mekah yang kita kenal sebagai rumah suci, pusat kiblat, tanah yang disebut Allah sebagai “Umm al-Qura.” Sebagaimana tersebutkan dalam berbagai referensi sejarah peradaban Islam.

Namun pada puncaknya ibadah haji, mereka tidak tinggal di Masjidil Haram. Justru mereka disuruh untuk keluar, menjauh dari Masjidil Haram tersebut. Yakni, meninggalkan Ka’bah untuk pergi ke Arafah (sebuah padang luas di luar kota suci).

Kenapa demikian?

Jawabannya adalah karena ibadah haji bukanlah sekadar ziarah ke Ka’bah semata. Ibadah Haji adalah perjalanan menuju nilai kesadaran yang sesungguhnya. Dan, kita harus ingat "Arafah" yang berasal dari akar kata "Arafa" (mengenal) adalah tempat di mana manusia harus mengenali dirinya, Tuhannya, termasuk juga sesama manusia terutama yang ada di sekitarnya.

Penyelenggaraan Wartawan Mengaji PWI Depok Berlangsung Sukses dan Lancar

Terkait hal itu, Kanjeng Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “al-Ḥajju Arafah” inti haji adalah wukuf di Arafah. Bukanlah intinya haji itu thawaf, bukan juga mencium Hajar Aswad dan seterusnya.

Akan tetapi dalam hal ini adalah berdiri dalam suatu keheningan spiritual, dalam kerendahan diri dan pengakuan di hadapan Allah Yang Maha Melihat, Maha kuat, dan Maha Atas Segalanya.

Oleh karena itu, dalam satu kesempatan Syekh Ali Shariati melihat haji sebagai drama teologis dan sosial. Sebab baginya, dengan keluarnya ke Arafah adalah sebagai simbol eksodus spiritual. keluar dari pusat ritual ke padang eksistensi. Sebagaimana ia pernah menulis sebagaimana berikut ini: “Pergi ke Arafah adalah keluar dari rumah Tuhan untuk bertemu Tuhan di alam semesta. Disana manusia berdiri, bukan di hadapan Ka’bah, tapi di hadapan diri sendiri.”

Sari Ramada Arafah Siap Beradaptasi dengan Program Umrah Mandiri


Sedangkan dalam perspektif sufistik, perjalanan ke Arafah adalah fana’ sirna dari ilusi bentuk-bentuk luar. Dalam hal ini, para sufi melihat Ka’bah bukanlah sebagai titik akhir, akan tetapi sebagai panggilan awal.

Dan, dalam konteksnya ini Arafah sebagai maqam ma’rifah tingkatan dimana sang salik melepaskan egonya dan topeng dunianya untuk mendapatkan ridho-Nya semata.

Di sana juga, jiwanya tajalli tersingkap dari hijab. Dari sini tergambarkan dengan jelas untuk mengenal Allah SWT dengan sebenar-sebenarnya, seorang hamba harus lebih dulu mengenal dirinya dengan baik. Sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad Saw bersabda: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.”

Sedangkan pemandangan yang kita dapat di Arafah, hanyalah luasnya langit, desiran tiupan angin, dan jiwa yang telanjang dengan relasi kesadarannya.

Bukber TK Islam Nuurusysyifaa’ Tanamkan Kepedulian Sosial Sejak Dini

Oleh karena itu, jangan heran jika setelah sampai ke rumah Allah Swt, kemudian justru kita disuruh keluar. Sebab hanya mereka yang pernah berdiri di Arafah dalam keadaan penuh harap, sunyi, jujur, dan menemukan kesadaranlah yang layak kembali ke Ka’bah dengan hati yang telah pulang lebih dulu tentunya.

Untuk itu, jangan lupa menyelipkan do'a yang terbaik di hari tersebut, agar kita dibebaskan dari Api Neraka sebagaimana berikut ini:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

Sari Ramada Arafah Berangkatkan Umroh Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H

Artinya: "Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka lebih banyak daripada pada hari Arafah," (HR Muslim).

Mengingat dalam sabdanya Kanjeng Nabi Muhammad Saw, do'a pada hari Arafah disebut sebagai yang paling baik, sebagaimana berikut ini:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

UIN Ar-Raniry Targetkan Perolehan Dana Riset MoRA 2026 Meningkat

Artinya: "Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan, sebaik- baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, 'La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli sya-in qadir' (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Allah semata; tidak ada sekutu bagi-Nya, miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu)" (HR Tirmidzi).


Terakhir, semoga Allah Swt senantiasa memberikan semangat, kekuatan, petunjuk, perlindungan, kebaikan, kemudahan dan keberkahan kepada kita semua dalam segala hal. Baik dalam urusan dunia maupun akhirat kelak. Aamiin…..

Semoga Bermanfaat…..

*Ketua Program Studi dan Dosen PAI-BSI (Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner) Pascasarjana IAI Al-Khoziny Sidoarjo; Dosen PAI-Terapan Poltek Pelayaran Surabaya; Pengurus Lembaga Takmir Masjid PCNU Sidoarjo; Ketua Lembaga Dakwah MWCNU Krembung.