
Awal Puasa Ada Perbedaan, Bagaimana Menyikapinya?
Oleh Syahruddin El Fikri
sajada.id/–Perbedaan awal puasa Ramadhan dan awal Idul Fitri Indonesia, beberapa kali terjadi. Perbedaan itu di antaranya karena berbeda pandangan mengenai kriteria tinggi hilal (bulan). Dampak perbedaan itu, akhirnya umat Islam di Indonesia pun berbeda pula melaksanakan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri.
Jika hal ini terus terjadi, maka bagaimana umat harus mengikuti? Atau siapa yang akan diikuti oleh umat?
Bagi umat Islam, sebenarnya Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan dan panduan dalam hal ini. Di antaranya:
Pertama, dalil dan dasar dari Al-Quran.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)
Dalam ayat di atas, umat harus menaati Allah dan rasul-Nya, serta ulil amri. Ulama sepakat, ulil amri adalah pemerintah, selama tidak menyalahi ketentuan syariat.
Kedua, hadits Nabi.
Dalam sebuah riwayat disebutkan;
فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ مَعَ الْحَقِّ وَ أَهْلِهِ
Fa idzakhtalaftum fa alaikum bis sawadil a'zham maal haqqi wa ahlihi.
“Kalau kalian berbeda pendapat (dalam satu persoalan atau permasalahan), maka ikutilah golongan terbanyak, yang benar dan ahlinya.” (Al Hadits).
Dalam riwayat lain, disebutkan:
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا مُعَانُ بْنُ رِفَاعَةَ السَّلَامِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو خَلَفٍ الْأَعْمَى قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَم
Telah menceritakan kepada kami Al 'Abbas bin 'Utsman Ad Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Ma'an bin Rifa'ah As Salami, telah menceritakan kepadaku Abu Khalaf Al A'ma dia berkata, aku mendengar Anas bin Malik berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu di atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian harus berada di sawadul a'dzam (kelompok yang terbanyak; maksudnya yang sesuai sunnah). (HR. Ibnu Majah No. 3940).
Dalam kedua hadits di atas, tidak spesifik menyebutkan kepada pemerintah, tetapi hanya menyebutkan sawadil a’zham yakni kelompok yang banyak. Sebab, umat tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Selain banyak, mereka juga ahli (pakar) dalam bidang keilmuan tertentu yang sedang dibahas.
(sajada.id/)


