SAJADA.ID–Seorang astrofisikawan yang lama berkiprah di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Dr. Willie Soon, kembali memantik perdebatan publik setelah menyatakan bahwa formula matematika dalam hukum fisika dapat menjadi petunjuk rasional atas keberadaan Tuhan.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara di Tucker Carlson Network, sebagaimana dikutip sejumlah media internasional. Dalam perbincangan tersebut, Soon mengangkat kembali apa yang dikenal dalam filsafat sains sebagai fine-tuning argument—gagasan bahwa alam semesta tampak “terkalibrasi secara presisi” untuk memungkinkan kehidupan.
Menurut Soon, konstanta-konstanta fundamental dalam fisika—seperti gravitasi, gaya elektromagnetik, hingga konstanta kosmologis—berada pada nilai yang sangat spesifik. Perubahan yang sangat kecil saja pada angka-angka tersebut, katanya, bisa membuat kehidupan mustahil terjadi.
“Ada begitu banyak contoh kekuatan yang selalu ada yang memungkinkan kita menerangi hidup kita. Tuhan telah memberi kita cahaya ini, untuk mengikuti cahaya dan melakukan yang terbaik yang kita bisa,” ujar Soon dalam wawancara tersebut.
Alam Semesta yang “Disetel” dengan Presisi
Gagasan fine-tuning bukanlah hal baru dalam diskursus ilmiah dan teologis. Teori ini menyatakan bahwa hukum-hukum alam dan konstanta fisika tampak berada dalam rentang yang sangat sempit agar materi, bintang, planet, dan pada akhirnya kehidupan, dapat terbentuk.
Sebagai ilustrasi, jika gaya gravitasi sedikit lebih kuat, alam semesta bisa runtuh lebih cepat sebelum bintang terbentuk. Sebaliknya, jika terlalu lemah, materi tidak akan pernah menyatu membentuk galaksi. Presisi ini, menurut Soon, sulit dijelaskan semata-mata sebagai kebetulan kosmik.
Ia berpendapat bahwa keteraturan matematis dalam struktur kosmos bisa dipandang sebagai “jejak rasional” dari suatu rancangan.
Persamaan Dirac dan Keindahan Matematika
Untuk memperkuat argumennya, Soon merujuk pada fisikawan teoretis Cambridge, Paul Dirac. Pada 1928, Dirac merumuskan persamaan matematika yang kemudian memprediksi keberadaan antimateri—sesuatu yang saat itu belum pernah diamati. Empat tahun kemudian, pada 1932, prediksi tersebut terbukti secara eksperimental dengan ditemukannya positron.
Bagi Soon, kisah ini menunjukkan bahwa matematika tidak sekadar alat deskriptif, tetapi memiliki kemampuan “mengungkap realitas” bahkan sebelum realitas itu teramati secara empiris.
Dirac sendiri pernah menyatakan bahwa hukum-hukum fisika dijelaskan melalui “teori matematika yang sangat indah dan dahsyat.” Ia bahkan menulis, “Tuhan adalah seorang ahli matematika tingkat tinggi,” sebuah metafora yang menggambarkan keseimbangan kosmos sebagai hasil dari struktur matematis yang elegan.
Soon melihat hal ini sebagai indikasi bahwa alam semesta tidak bersifat acak, melainkan memiliki pola dan harmoni yang luar biasa.
Kontroversi di Dunia Ilmiah
Meski demikian, pernyataan Soon tidak lepas dari kritik. Sejumlah ilmuwan menilai bahwa argumen fine-tuning belum cukup kuat untuk dijadikan bukti keberadaan Tuhan. Sebagian lainnya menunjuk hipotesis multiverse—gagasan bahwa mungkin ada banyak alam semesta dengan konfigurasi berbeda, dan kita kebetulan berada di salah satu yang memungkinkan kehidupan.
Sebaliknya, para pendukung fine-tuning argument melihat teori ini sebagai jembatan potensial antara sains dan spiritualitas. Bagi mereka, keteraturan matematis yang ekstrem justru membuka ruang refleksi metafisik, bukan menutupnya.
Sebagaimana dikutip The Economic Times, diskusi ini kembali menghidupkan perdebatan lama di Barat: apakah hukum-hukum matematika yang menopang alam semesta hanyalah hasil kebetulan kosmik, atau justru pertanda adanya kecerdasan yang lebih tinggi?
Sains dan Spiritualitas: Dialog yang Tak Pernah Usai
Terlepas dari pro dan kontra, pernyataan Willie Soon menegaskan bahwa perdebatan tentang hubungan sains dan agama belum pernah benar-benar selesai. Di satu sisi, sains berupaya menjelaskan “bagaimana” alam semesta bekerja. Di sisi lain, pertanyaan tentang “mengapa” hukum-hukum itu begitu presisi tetap menjadi ruang diskusi filosofis dan teologis.
Apakah matematika hanyalah bahasa alam? Ataukah ia adalah tanda dari perancang agung?
Pertanyaan itu mungkin belum menemukan jawaban final. Namun satu hal pasti: semakin dalam manusia menyelami kosmos, semakin besar pula pertanyaan eksistensial yang muncul tentang asal-usul dan makna keberadaan itu sendiri.
(Syahruddin/sajada.id)



Komentar