Hadits
Beranda » Berita » 12 Jenis Penyakit Lisan yang Bisa Membinasakan Manusia

12 Jenis Penyakit Lisan yang Bisa Membinasakan Manusia

Pentingnya Menjaga Lisan untuk Selalu Berkata Jujur. (Ilustrasi by Chatgpt/AI)

SAJADA.ID, DEPOK— Lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Dengan lisan, seseorang dapat berdzikir, membaca Al-Qur’an, mengajarkan ilmu, dan menyampaikan nasihat.

Namun, lisan juga dapat menjadi sumber petaka. Satu kalimat yang keluar tanpa dipikirkan bisa melukai hati, merusak persaudaraan, bahkan menyeret seseorang kepada dosa.

Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Mukhtaṣar Minhāj al-Qāṣidīn memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini. Beliau menjelaskan berbagai penyakit lisan yang harus diwaspadai seorang Muslim.

Lima Penyebab Ilmu Tidak Bermanfaat

Berikut 12 penyakit lisan yang beliau bahas dan penting kita renungkan.

1. Berbicara tentang sesuatu yang tidak perlu

Penyakit pertama adalah al-kalāmu fīmā lā ya‘nī, yakni membicarakan sesuatu yang tidak memiliki manfaat.

Manusia sering menghabiskan waktunya dengan membicarakan kehidupan orang lain. Tidak jarang pembicaraan tersebut sama sekali tidak memberikan manfaat bagi agama maupun kehidupannya.

Rasulullah SAW bersabda:

Kemenag Luncurkan 40 Buku Digital PAI Terintegrasi AI, Bisa Diakses Gratis Lewat Smart PAI

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi).

Karena itu, sebelum berbicara, seorang Muslim sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri, Apakah perkataan ini benar, bermanfaat, dan memang perlu disampaikan? Jika tidak, lebih baik diam saja. Dan diam sering kali menjadi pilihan yang lebih selamat.

Rasul SAW menyampaikan: ‘Fal yaqul Khairan aw Liyasmut (Katakanlah yang baik atau lebih baik diam).

Bogasari Jadi Rujukan Praktik Sustainability, IS2P Gelar Studi Banding

2. Membicarakan perkara batil

Penyakit kedua adalah al-khawḍu fil-bāṭil, yakni tenggelam dalam pembicaraan yang batil. Termasuk di dalamnya membicarakan kemaksiatan sebagai hiburan. Termasuk pula perdebatan yang bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menunjukkan kehebatan diri.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ

ۦ”Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. Al-An‘am: 68).

Diskusi untuk mencari kebenaran tentu berbeda. Yang menjadi penyakit adalah ketika lisan digunakan untuk mempertahankan ego dan memenangkan perdebatan.

ASHURI Bangun Kemitraan Indonesia-Arab Saudi untuk Perkuat Ekosistem Haji

3. Berbicara dengan dibuat-buat

Penyakit ketiga disebut at-taqa‘ur fil-kalām. Yakni kebiasaan berbicara secara berlebihan dan dibuat-buat. Seseorang sengaja memperlihatkan kefasihan, menggunakan istilah yang sulit, atau memaksakan gaya bahasa tertentu agar dianggap pintar.

Masalahnya bukan pada kemampuan berbicara dengan baik. Bahasa yang indah justru merupakan nikmat. Yang tercela adalah ketika kemampuan tersebut digunakan untuk kesombongan dan mencari pengakuan manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

Bogasari Sulap Bantaran Kali Kresek Jadi Ruang Terbuka Hijau

إِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara, orang yang suka berlebih-lebihan dalam berbicara, dan orang-orang yang menyombongkan diri dalam perkataan.” (HR. Tirmidzi).

4. Berkata kotor, mencaci dan memaki

Penyakit berikutnya adalah al-fuḥsy, was-sabb, wal-badzā’. Yakni perkataan keji, cacian, makian, hinaan, dan ucapan kotor.

Seorang Muslim harus menjaga kehormatan lisannya. Bahkan ketika sedang marah, ia tidak boleh menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk mengeluarkan kata-kata yang buruk.

ASHURI Buka Peluang Ekspor Pangan Indonesia ke Arab Saudi

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi).

Karena itu, jangan menganggap ringan kata-kata kasar. Bisa jadi satu kalimat yang menurut kita hanya candaan justru menjadi dosa di sisi Allah.

5. Terlalu banyak bercanda

Penyakit kelima adalah al-mizāḥ, yakni bercanda secara berlebihan. Islam tidak melarang bercanda. Rasulullah SAW juga pernah bercanda dengan para sahabat.

Namun, candaan beliau tidak mengandung kebohongan dan tidak merendahkan orang lain.Masalah muncul ketika bercanda menjadi kebiasaan. Semua hal dijadikan bahan tertawaan dan tidak ada lagi batas antara serius dengan bercanda.

Terlalu banyak bercanda dapat menghilangkan kewibawaan. Bahkan candaan yang tidak terkendali dapat menimbulkan permusuhan.

Bercanda boleh, tetapi jangan sampai kehidupan berubah menjadi candaan.

6. Mengejek dan mengolok-olok

Penyakit keenam adalah as-sukhriyyah wal-istihzā’, yakni mengejek dan mengolok-olok orang lain.

Allah SWT memberikan peringatan keras:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11).

Mengejek tidak selalu berupa kata-kata. Menirukan suara seseorang, gaya berjalan, bentuk tubuh, logat bicara, atau kekurangannya untuk membuat orang lain tertawa juga dapat menjadi bentuk penghinaan.

Jangan sampai kita menertawakan seseorang karena kekurangannya, sementara kita lupa bahwa Allah dapat menguji kita dengan sesuatu yang sama.

7. Membocorkan rahasia, mengingkari janji dan berdusta

Ifsyā’ as-sirr, ikhlāful-wa‘d, wal-kadzib — membocorkan rahasia, mengingkari janji dan berdusta. Penyakit ini berkaitan dengan amanah lisan. Seseorang dapat berdosa karena membocorkan rahasia. Ia juga dapat berdosa ketika berjanji tanpa kesungguhan untuk menepatinya. Lebih parah lagi jika lisannya hanya untuk berdusta.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka itulah para pendusta.” (QS. An-Nahl: 105).

Karena itu, jangan mudah mengatakan, “Saya cuma bercanda.”Jika candaan tersebut dibangun di atas kebohongan, tetap harus diwaspadai.

8. Ghibah

Penyakit kedelapan adalah al-ghībah, yakni membicarakan keburukan seseorang ketika ia tidak berada di hadapan kita.

Rasulullah SAW menjelaskan:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟

“Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.” (HR. Muslim).

Para sahabat kemudian bertanya, bagaimana jika apa yang dikatakan itu memang benar? Rasulullah SAW menjawab:

إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Jika apa yang engkau katakan memang ada padanya, berarti engkau telah mengghibahinya. Jika tidak ada padanya, berarti engkau telah melakukan buhtan terhadapnya.” (HR. Muslim).

Inilah bahayanya ghibah. Kalau benar menjadi ghibah, kalau tidak benar menjadi kebohongan dan tuduhan.

9. Namimah atau adu domba

Penyakit kesembilan adalah an-namīmah, yakni menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan atau akibat menimbulkan kerusakan hubungan.

Misalnya seseorang berkata: “Si Fulan tadi sebenarnya menjelek-jelekkan kamu.” Kemudian perkataan itu disampaikan kepada orang lain dengan cara yang memicu kemarahan. Akibatnya, hubungan yang sebelumnya baik menjadi rusak.

Rasulullah SAW memberikan peringatan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, jangan menjadi kurir kebencian.Tidak semua perkataan yang kita dengar harus kita sampaikan kepada orang lain.

10. Bermuka dua

Penyakit kesepuluh adalah kalāmu dzī al-lisānain, yakni perilaku orang yang memiliki dua wajah dalam pergaulan.

Di depan seseorang ia memuji. Ketika berada di belakangnya, ia mencela.Di hadapan kelompok pertama ia mendukung mereka. Di hadapan kelompok kedua ia mengaku mendukung mereka pula.

Islam mengajarkan kejujuran dan ketulusan. Seorang Muslim tidak seharusnya menjadikan lisannya sebagai alat untuk memainkan banyak pihak. Rasulullah SAW bersabda:

تَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

“Kalian akan mendapati manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua. Ia datang kepada kelompok ini dengan satu wajah dan kepada kelompok yang lain dengan wajah berbeda.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menjadi orang yang santun kepada semua pihak bukanlah kemunafikan.Yang tercela adalah memanipulasi perkataan untuk mendapatkan keuntungan dari setiap pihak.

11. Pujian yang berlebihanPenyakit kesebelas adalah al-madḥ, yakni pujian.

Pujian tidak selalu dilarang. Menghargai kebaikan orang lain merupakan akhlak yang baik.Namun, pujian dapat menjadi penyakit ketika dilakukan secara berlebihan. Apalagi jika pujian tersebut tidak sesuai kenyataan atau sengaja diberikan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Rasulullah SAW bahkan memperingatkan orang yang berlebihan dalam memuji:

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ

“Apabila kalian melihat orang-orang yang suka memuji secara berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim).

Pujian yang berlebihan dapat membuat orang yang dipuji lupa diri.Sebaliknya, pujian yang tulus dan proporsional dapat menjadi motivasi untuk mempertahankan kebaikan.

12. Berbicara tentang agama tanpa ilmu

Penyakit terakhir adalah berbicara mengenai perkara agama tanpa pengetahuan yang memadai.Ini merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Sebab, kesalahan dalam urusan dunia mungkin hanya merugikan kehidupan dunia.

Namun, kesalahan dalam menyampaikan agama dapat membuat seseorang menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain.Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36).

Karena itu, jangan mudah berkata, “Menurut Islam hukumnya begini,” jika kita belum mengetahui dalil dan penjelasannya.

Dalam persoalan agama, keberanian mengatakan “Saya tidak tahu” justru dapat menjadi tanda kehati-hatian dan keilmuan.

Satu Lisan, Dua Kemungkinan

Lisan memiliki dua kemungkinan. Ia dapat menjadi jalan menuju pahala. Namun, ia juga dapat menjadi jalan menuju kebinasaan. Dengan lisan kita membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Dengan lisan pula kita dapat mencaci, berdusta, menggunjing dan mengadu domba.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa menjamin untukku apa yang berada di antara kedua rahangnya dan apa yang berada di antara kedua kakinya, aku menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan betapa besar persoalan lisan. Bahkan Imam Ibnu Mas‘ud RA pernah berkata:

مَا شَيْءٌ أَحْوَجُ إِلَى طُولِ سِجْنٍ مِنْ لِسَانِي

“Tidak ada sesuatu yang lebih pantas di penjara dalam waktu lama daripada lisanku.”

Belajar Diam Sebelum Belajar Berbicara

Menjaga lisan bukan berarti menjadi orang yang tidak boleh berbicara. Seorang Muslim justru harus berbicara ketika perkataannya membawa kebenaran dan kemaslahatan.

Namun, ia harus mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Sebab, tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang salah. Tidak semua yang kita ketahui harus kita ceritakan. Tidak semua informasi yang kita dengar harus kita teruskan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah salah satu kunci keselamatan seorang Muslim.

Sebelum lisan bergerak, hendaknya hati berpikir. Sebelum kata-kata keluar, hendaknya iman menjadi penyaring. Sebab, mungkin kita bisa meminta maaf kepada manusia atas ucapan yang menyakitinya.

Namun, jangan sampai kita baru menyadari besarnya dosa lisan ketika seluruh perkataan sudah tercatat dan dibawa menghadap Allah SWT. Jagalah lisan. Sebab, keselamatan seseorang sering kali ditentukan oleh apa yang keluar dari mulutnya.

(Syahruddin El Fikri/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *