Hikmah
Beranda » Berita » Bukan Seberapa Tinggi Kita Berada, tapi Seberapa Kuat Kita Bangkit Setelah Jatuh

Bukan Seberapa Tinggi Kita Berada, tapi Seberapa Kuat Kita Bangkit Setelah Jatuh

SAJADA.ID–Malam itu, sekitar pukul 23.00 WIB, sepulang takziyah saya singgah di sebuah pos keamanan di sebuah kompleks perumahan. Tujuannya sederhana: sekadar menyapa dan bersilaturahim dengan seorang teman yang kebetulan sedang bertugas sebagai petugas keamanan.

Di pos itu hanya ada satu orang yang berjaga. Tiga rekannya sedang bertugas di pos lain. Sambil memesan kopi di warung kecil yang tidak jauh dari lokasi, kami pun berbincang santai.

Sebut saja namanya Ozie. Usianya sekitar 54 tahun. Lahir dan besar di Jakarta, lalu menetap di Depok.

Haflah Akhirussanah PKBM Terpadu An-Nur: Meneguhkan Fitrah, Menyongsong Era Digital

Dari penampilannya, tak ada yang istimewa. Ia tampak seperti petugas keamanan pada umumnya. Ramah, sederhana, dan mudah diajak berbicara. Namun siapa sangka, di balik seragam yang dikenakannya malam itu, tersimpan perjalanan hidup yang penuh tikungan tajam.

Ozie mengaku baru sekitar tiga tahun bekerja sebagai sekuriti. Sebelumnya, ia pernah menjadi staf di lingkungan kantor pajak. Setelah itu, ia bekerja sebagai tenaga ahli seorang anggota dewan.

Saat itu kehidupannya terbilang mapan.”Awalnya enak. Uang banyak. Semua kebutuhan tercukupi,” katanya mengenang masa lalu.

Penghasilannya jauh di atas Upah Minimum Provinsi (UMP). Kehidupan berjalan nyaman. Ia memiliki pekerjaan yang dianggap bergengsi dan masa depan yang tampak menjanjikan.

Hijrah dan Perencanaan Matang: Belajar Strategi Perubahan dari Rasulullah SAW

Namun hidup sering kali berubah dalam waktu yang tidak pernah kita duga.

Benarlah petuah orang-orang tua dahulu: “Jangan terlalu bersandar kepada manusia. Sebab ketika ia jatuh, engkau pun bisa ikut terjatuh.” Petuah itu benar-benar dialami Ozie.

Runtuh

Suatu hari, anggota dewan yang menjadi tempatnya bekerja tersandung kasus korupsi. Sang pimpinan ditangkap oleh lembaga antirasuah. Proses hukum berjalan hingga akhirnya ia divonis bersalah dan harus menjalani hukuman penjara.

Hijriyah dan Hijrah: Menata Hati, Menyiapkan Hari Esok

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya berita yang lewat di televisi atau media sosial. Namun bagi Ozie, peristiwa itu menjadi titik balik yang mengubah seluruh jalan hidupnya.

Tempatnya bergantung runtuh dalam sekejap.

Pekerjaan hilang. Penghasilan terputus. Tabungan yang selama ini menjadi pegangan perlahan terkuras hingga habis. Kesulitan ekonomi mulai merambat ke berbagai sisi kehidupan.

Rumah tangga yang dahulu harmonis berubah menjadi medan pertengkaran. Masalah-masalah kecil mudah membesar. Tekanan hidup membuat emosinya tidak stabil.Ia kehilangan arah.

Pers dan Hijriyah: Wartawan Jadi Penebar Kebenaran dan Kemaslahatan

Hari-harinya dihabiskan tanpa pekerjaan yang jelas. Semakin lama ia semakin tidak betah berada di rumah. Akhirnya ia lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan. Di titik itulah kehidupannya memasuki fase yang paling gelap.

Ia bergaul dengan lingkungan yang salah. Bersama sejumlah kelompok jalanan, ia mengatur lalu lintas di beberapa pertigaan dan perempatan jalan untuk mendapatkan uang dari para pengendara.

Awalnya mungkin sekadar mencari makan. Namun perlahan ia tenggelam dalam kehidupan itu.

Waspada, Kaki Furniture Kayu yang Menempel ke Lantai Bisa Jadi Pintu Masuk Rayap

Ozie mulai minum minuman keras. Ia ikut menguasai wilayah-wilayah tertentu. Jika ada kelompok lain yang mencoba mengambil area yang mereka kuasai, perlawanan pun tak terhindarkan.

Karena keberaniannya, ia kemudian dipercaya menjadi pemimpin kelompok. Pendek kata, ia mulai disegani.

Namun semakin lama seseorang berada di jalan yang salah, semakin besar pula risiko yang menantinya.

Antara Umar dan Umur

Waktu terus berjalan. Rambut mulai memutih. Tenaga tak lagi sekuat dulu.Di tengah kehidupan yang berantakan itu, Ozie mulai merenung.

Ia sadar umur tak mungkin dilawan. Jika terus menjalani kehidupan seperti itu, suatu hari ia bisa berhadapan dengan persoalan yang lebih besar, termasuk masalah hukum.

Titik Balik

Di saat itulah hidayah datang mengetuk pintu hatinya. Tahun 2021 menjadi titik perubahan.

Ia memutuskan berhenti total dari kehidupan jalanan yang selama bertahun-tahun dijalaninya. Tidak ada proses yang mudah.

Ia benar-benar menarik diri dari lingkungan lamanya. Tidak lagi turun ke jalan. Juga tidak lagi meminta-minta. Tidak lagi mencari uang dengan cara yang selama ini dilakukannya. “Saya ingin tobat,” katanya pelan.

Lebih dari setahun ia banyak menghabiskan waktu di rumah, berusaha menata kembali hidup yang porak-poranda.

Namun ternyata ujian belum selesai.

Ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri, rumah tangganya justru semakin retak. Konflik yang selama ini terpendam akhirnya mencapai titik akhir.

Bahtera rumah tangga yang dibangunnya selama puluhan tahun kandas di tengah jalan. Mereka berpisah.

Dua anaknya tetap ia cintai. Ia menitipkan keduanya kepada sang mantan istri sambil tetap berusaha menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ayah.Kini ia harus menjalani hidup seorang diri.Makan seadanya. Hidup sederhana. Memulai semuanya dari nol.

Meski demikian, ia bertekad tidak akan kembali ke masa lalu. “Saya ingin jadi orang baik,” ucapnya.

Dua tahun kemudian kehidupannya mulai lebih stabil. Ia menikah lagi dengan seorang janda dan membangun keluarga baru.

Untuk menafkahi keluarganya sekaligus tetap membantu kebutuhan anak-anaknya, ia melamar pekerjaan sebagai petugas keamanan. Pekerjaan itulah yang hingga hari ini masih dijalaninya.

Untuk menambah penghasilan, istrinya membuka warung kopi sederhana di dekat rumah kontrakan mereka. Warung itu tidak besar, hanya berukuran sekitar 3 x 4 meter. Dari tempat itulah mereka berusaha menambah pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penghasilannya memang tidak banyak. Namun bagi Ozie dan istrinya, yang terpenting adalah rezeki yang diperoleh dengan cara yang halal.Mereka memilih mensyukuri apa yang ada.

“Mungkin secara nominal gaji tidak cukup untuk semua kebutuhan. Tapi saya tawakal saja. Insya Allah kalau berkah, sedikit pun terasa cukup,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Ozie memiliki satu tekad yang terus ia pegang. Ia ingin terus memperbaiki diri dan memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.

Ia tidak ingin kesulitan hidup yang pernah dialaminya menjadi warisan bagi masa depan anak-anaknya.

“Terkadang masih suka pusing memikirkan biaya sekolah, terutama saat harus bayar SPP anak-anak,” ungkapnya jujur. Ia sudah beberapa kali mengajukan ke lembaga filantropi, namun belum dapat jawaban. “Semoga dapat perhatian,” harap Ozie.

Namun pengalaman hidup telah mengajarkannya satu hal penting: jangan pernah menyerah.

“Yang penting tetap berusaha. Saya yakin selalu ada jalan kalau kita mau ikhtiar,” katanya.

Masjid

Kini ia juga berusaha lebih dekat dengan masjid.

Ketika saya memujinya karena rajin beribadah, ia tersenyum kecil. “Tak rajin juga. Tapi berusaha semampunya,” jawabnya merendah.Malam semakin larut.

Di sela-sela obrolan, ia bercerita tentang masa mudanya. Rupanya dahulu ia pernah mengikuti pembinaan sepak bola di Diklat Ragunan. Beberapa rekan seangkatannya bahkan berhasil menjadi pemain nasional.Ia menyebut sejumlah nama yang pernah berlatih bersamanya.

Lalu ia tersenyum. “Itu masa lalu,” ujarnya singkat.Saya memandang wajahnya yang mulai dipenuhi garis-garis usia.

Bangkit

Di hadapan saya bukan hanya seorang petugas keamanan yang sedang berjaga malam. Saya sedang mendengar kisah seorang lelaki yang pernah merasakan hidup berkecukupan, lalu kehilangan semuanya. Pernah disegani di jalanan, tetapi akhirnya memilih jalan pertobatan. Pernah terjatuh begitu dalam, tetapi tidak membiarkan dirinya tetap berada di bawah.

Kisah Ozie mengingatkan saya bahwa manusia bisa kehilangan pekerjaan, kehilangan harta, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan keluarga. Namun selama ia belum kehilangan harapan dan belum kehilangan jalan kembali kepada Allah, sesungguhnya ia belum benar-benar kalah.

Sebab ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa tinggi seseorang pernah berada. Jabatan bisa hilang. Harta bisa habis. Popularitas bisa pudar. Semua itu bisa berubah dalam sekejap.

Yang jauh lebih penting adalah seberapa kuat seseorang bangkit setelah jatuh, seberapa teguh ia bertahan ketika keadaan tidak berpihak, dan seberapa sungguh-sungguh ia memperbaiki diri setelah menyadari kesalahannya.

Karena pada akhirnya, kehidupan bukanlah tentang siapa yang tidak pernah jatuh.Kehidupan adalah tentang siapa yang mau bangkit, belajar, lalu melangkah kembali dengan hati yang lebih bijak dan lebih dekat kepada Allah SWT.

(Syahruddin El Fikri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *