Hikmah
Beranda » Berita » Antara Umar dan Umur

Antara Umar dan Umur

Ilustrasi: AI Khalifah Umar dan putranya.

Oleh Syahruddin El Fikri

Setiap hari berganti, maka saat itu pula, masa berubah. Dari masa kini menjadi masa lalu. Dari masa sekarang menjadi masa yang telah lewat. Tak ada yang tahu, bagaimana keesokan hari atau sepekan, sebulan, maupun setahun berikutnya.

Ada dua kata yang hanya berbeda satu huruf, tetapi mengandung pelajaran yang sangat dalam: Umar dan umur.

Waspada, Kaki Furniture Kayu yang Menempel ke Lantai Bisa Jadi Pintu Masuk Rayap

Nama Umar mengingatkan kita kepada sosok khalifah agung yang terkenal karena keadilan, ketegasan, keberanian, dan kesederhanaannya. Sementara umur adalah sesuatu yang setiap hari berkurang, namun tidak seorang pun mengetahui kapan batas akhirnya.

Kisah-kisah tentang Umar bin Khattab ra. selalu menghadirkan banyak pelajaran. Bukan hanya tentang kepemimpinan dan keberanian, tetapi juga tentang kerendahan hati, amanah, dan kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat.

Dalam sebuah kisah yang masyhur, telah diceritakan tentang sosok Umar. Suatu hari putra Umar bin Khattab pulang ke rumah dengan mata sembab. Ia menangis karena menjadi bahan ejekan teman-temannya. Pakaian yang dikenakannya terlihat usang dan telah robek di beberapa bagian.

Sebagai seorang ayah, Umar berusaha menenangkan anaknya dan menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang bukan karena pakaian semata.

Argentina Puncaki Daftar Negara dengan Trofi Mayor Terbanyak di Dunia

Namun peristiwa itu terus berulang. Hari demi hari sang anak kembali pulang dengan kesedihan yang sama. Sampai akhirnya ia memberanikan diri meminta sesuatu yang sangat sederhana kepada ayahnya: sehelai pakaian baru agar tidak lagi menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Permintaan itu justru membuat Umar termenung. Sebagai khalifah yang memimpin wilayah Islam yang sangat luas, ternyata ia tidak memiliki kelebihan harta untuk memenuhi keinginan sederhana putranya. Gaji yang diterimanya dari negara digunakan secukupnya untuk kebutuhan keluarga dan tidak menyisakan banyak kelebihan.

Baitul Mal

Setelah berpikir cukup lama, Umar menemukan jalan keluar. Ia menulis surat kepada pengelola Baitul Mal untuk meminjam sejumlah uang. Pinjaman itu nanti akan dipotong dari gajinya pada bulan-bulan berikutnya. Permintaan itu tampak sangat wajar, terlebih yang mengajukannya adalah seorang kepala negara.

UID Lepas 338 Mahasiswa untuk KKN, PKL, dan PPL 2026

Akan tetapi, balasansurat dari pengelola Baitul Ma justru mengguncang hatinya. Pengelola Baitul Mal menjawab dengan penuh hormat, “Wahai Amirul Mukminin, sebelum permohonan itu kami penuhi, izinkan kami bertanya: dari mana engkau yakin bahwa esok hari engkau masih hidup?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat dalam. Umar terdiam. Ia menyadari bahwa rencananya untuk membayar pinjaman pada masa mendatang mengandung satu asumsi yang tidak pernah dapat dipastikan oleh siapa pun, yaitu bahwa dirinya masih hidup hingga waktu itu tiba.

Membaca surat tersebut, Umar menangis. Hatinya bergetar. Ia segera beristighfar kepada Allah SWT dan membatalkan niatnya meminjam uang negara. Setelah itu ia memanggil putranya dan menjelaskan bahwa dirinya belum mampu membelikan pakaian baru. Umar juga menasihatinya bahwa kehormatan manusia tidak terletak pada pakaian semata, melainkan pada ketakwaan dan akhlak yang dimiliki.

Masa yang Akan Datang

Kisah ini bukan sekadar mengajarkan kesederhanaan seorang pemimpin. Ini adalah pelajaran yang jauh lebih besar, yakni tentang umur yang tidak pernah dapat dipastikan oleh siapa pun. Setiap manusia mengetahui tanggal kelahirannya, tetapi tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya akan tiba.

MUI Dukung Penegakan Hukum Kasus Dugaan Pencabulan Santri di Pati

Karena itulah Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak merasa pasti dengan hari esok. Allah SWT berfirman:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok, dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Ayat ini seolah menjadi penjelasan atas kegelisahan Umar setelah membaca surat balasan tersebut. Manusia boleh membuat rencana, menyusun target, dan menata masa depan. Namun pada saat yang sama ia harus menyadari bahwa kehidupan tetap berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Kasus Oknum Kiai di Pati Jadi Pengingat Pentingnya Standar Keulamaan

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya telah datang, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raf: 34)

Pelihara Lima Hal

Ajal adalah ketetapan yang tidak dapat dinegosiasikan. Tidak ada kekayaan yang mampu menolaknya, tidak ada jabatan yang dapat menundanya, dan tidak ada kekuasaan yang bisa menghalanginya. Raja dan rakyat, pejabat dan masyarakat biasa, semuanya akan berhadapan dengan kenyataan yang sama.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tak Kebagian Kursi MRT, Warganet Salut dengan Kesederhanaannya

Kesadaran tentang singkatnya umur inilah yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Beliau bersabda:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ … وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Hadits ini mengajarkan bahwa umur adalah modal terbesar bagi manusia. Ketika waktu berlalu, sesungguhnya sebagian umur kita ikut pergi dan tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap hari yang diberikan Allah merupakan kesempatan untuk menambah amal saleh dan memperbaiki diri.

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan.” (HR. Bukhari)

Abdullah bin Umar ra. yang meriwayatkan hadits ini kemudian berkata, “Apabila engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Apabila engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore.” Nasihat ini mengajarkan agar seorang mukmin tidak menunda taubat, tidak menunda ibadah, dan tidak menunda amal kebaikan yang masih dapat ia kerjakan pada hari ini.

Antara 60-70 Tahun

Menariknya, Rasulullah ﷺ juga pernah menggambarkan rentang usia umat beliau.

«أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ»

“Umur umatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit yang melampaui usia tersebut.” (HR. Tirmidzi)

Usia enam puluh atau tujuh puluh tahun sebenarnya tidaklah panjang. Sebagian waktu habis untuk masa kanak-kanak, sebagian lagi untuk tidur, bekerja, dan berbagai kesibukan dunia. Maka waktu yang benar-benar tersedia untuk beramal ternyata jauh lebih sedikit daripada yang terpikirkan oleh manusia.

Para ulama salaf memahami kenyataan ini dengan sangat baik. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali hari berlalu, maka hilang pula sebagian darimu.”

Perkataan itu mengingatkan bahwa bertambahnya usia bukan sekadar bertambahnya angka. Setiap hari yang lewat sesungguhnya adalah bagian dari umur yang telah berkurang. Karena itu para ulama terdahulu sangat menjaga waktunya dan merasa rugi apabila satu hari berlalu tanpa amal yang mendekatkan mereka kepada Allah SWT.

Di sinilah letak pelajaran terbesar dari kisah Umar bin Khattab ra. Seorang khalifah yang memimpin wilayah sangat luas ternyata tidak pernah merasa pasti akan hidup sampai bulan depan. Kesadaran itulah yang membuatnya sangat berhati-hati terhadap amanah, menjaga harta publik, dan selalu mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Hari ini banyak orang menunda taubat karena merasa masih muda. Ada yang menunda sedekah karena merasa belum cukup kaya. Ada pula yang menunda memperbaiki diri karena merasa masih memiliki waktu yang panjang. Padahal kematian tidak selalu datang kepada mereka yang telah lanjut usia. Tidak sedikit orang yang pagi hari masih beraktivitas seperti biasa, tetapi sore harinya telah dipanggil menghadap Allah SWT.

Karena itu, jangan pernah merasa pasti tentang umur yang masih tersisa. Gunakan waktu yang ada untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab bisa jadi yang paling dekat dengan kita bukanlah hari esok, melainkan saat ketika kita harus mempertanggungjawabkan seluruh umur yang telah Allah titipkan kepada kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *