Kontributor: Nasir Yusuf (PRNU RJB)
SAJADA.ID, DEPOK — Tradisi ziarah kubur pada hari kedua Idul Fitri kembali dijaga dengan penuh khidmat oleh warga RW 01 Rawadenok, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, pada momen Lebaran tahun ini.
Kegiatan yang diikuti ratusan warga tersebut menjadi bagian dari ikhtiar merawat tradisi, melestarikan budaya, sekaligus meneguhkan ikatan kebersamaan antarwarga usai menunaikan ibadah Ramadhan.
Sejak pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, warga dari RT 01 hingga RT 11 mulai berkumpul untuk mengikuti rangkaian ziarah kubur bersama di area pemakaman Bulak Gunung, RW 01 Rawadenok. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi ruang refleksi spiritual dan silaturahim sosial yang terus diwariskan lintas generasi.
Ketua RW 01 Rawadenok, UU Supriyatna, yang juga menjadi penanggung jawab Makam Bulak Gunung, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran para ketua RT beserta jamaah dari seluruh wilayah RW 01.
Ia menilai, kekompakan warga dalam menjaga tradisi ziarah kubur ini patut disyukuri karena menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus penguat ukhuwah di tengah masyarakat.
Sebelum warga berziarah ke makam keluarga masing-masing, acara diawali dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk para ahli kubur. Dalam suasana penuh khusyuk, seluruh warga bersama-sama memohonkan ampunan dan rahmat Allah SWT bagi orang tua, kerabat, dan seluruh kaum Muslimin yang telah mendahului.

Anggota DPRD Kota Depok, H. Edi Masturo, SE, turut menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada seluruh warga. Ia mengapresiasi kekompakan masyarakat yang terus menjaga tradisi ziarah kubur di hari kedua Lebaran sebagai bagian dari budaya baik yang sarat makna.
Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi sarana memupuk persatuan dan kebersamaan di tengah warga. Ia berharap tradisi baik tersebut dapat terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada anak-anak serta generasi penerus agar tetap hidup di masa mendatang.
“Tradisi seperti ini sangat baik, karena bukan hanya menjaga hubungan dengan para pendahulu lewat doa, tetapi juga mempererat hubungan antarsesama warga. Semoga kebersamaan dan kekompakan ini terus terjaga, dan anak-cucu kita nanti ikut melanjutkannya,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, H. Edi Masturo juga menyampaikan harapan agar fasilitas penunjang operasional pemakaman Bulak Gunung ke depan dapat semakin ditingkatkan, termasuk untuk mendukung kebutuhan layanan masyarakat secara lebih baik.
Hikmah Ziarah Kubur
Sementara itu, tausiyah disampaikan oleh Ust. Mulyadi, S.Sos. yang mengingatkan jamaah tentang hikmah besar dari ziarah kubur. Ia menuturkan, ziarah kubur menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 2:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Menurutnya, kematian bukan sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan, melainkan sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Karena itu, ziarah kubur sejatinya menjadi momen untuk menata hati, memperbaiki amal, dan menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara.
Ia juga menyampaikan ungkapan hikmah yang masyhur:
الموت باب وكل الناس داخله
“Kematian itu adalah sebuah pintu, dan semua manusia pasti akan memasukinya.”
Ust. Mulyadi menambahkan, berkumpulnya warga dalam doa bersama di area pemakaman menghadirkan suasana spiritual yang mendalam. Selain mendoakan orang tua, keluarga, dan kerabat yang telah wafat, jamaah juga diajak mendoakan seluruh ahli kubur yang dimakamkan di kawasan tersebut.

“Ziarah kubur mengajarkan kita untuk tidak terlena oleh dunia. Rumah yang paling megah bukan yang kita banggakan hari ini, tetapi tempat kembali yang pasti akan kita tempati kelak. Dari sini kita belajar untuk memperbanyak amal saleh dan menjaga hati,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hidup ini pada hakikatnya adalah “gantian”. Generasi demi generasi akan datang dan pergi, sementara yang tersisa adalah amal dan doa. Karena itu, momentum ziarah kubur menjadi pelajaran berharga agar manusia selalu rendah hati, memperbaiki diri, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Kegiatan ziarah kubur bersama ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat dan warga, di antaranya Ketua RW 01 Rawadenok UU Supriyatna, Anggota DPRD Kota Depok H. Edi Masturo, SE, Ust. Mulyadi, S.Sos., H. Hidayatulloh, Ph.D, Yanto Prawiro Negoro, serta Yunandar selaku Ketua Makam Bulak Gunung. Hadir pula para ketua RT dari RT 01 hingga RT 11, para tokoh ulama, asatidz, dan ratusan warga RW 01 Rawadenok.
Dengan jumlah peserta sekitar 200 orang, suasana acara berlangsung hangat, tertib, dan penuh kekhusyukan. Di tengah nuansa Lebaran yang masih terasa, tradisi ziarah kubur ini menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan hanya momentum saling memaafkan antarsesama, tetapi juga saat yang tepat untuk mengirimkan doa kepada mereka yang telah lebih dahulu kembali ke hadirat Allah SWT.
Tradisi ziarah kubur di hari kedua Lebaran yang terus dijaga warga RW 01 Rawadenok ini pun menjadi contoh indah bagaimana nilai agama, budaya, dan kebersamaan dapat berjalan beriringan. Sebuah warisan sosial-spiritual yang tak hanya layak dipertahankan, tetapi juga diwariskan kepada generasi berikutnya.
(sajada.id)






Komentar