SAJADA.ID –Banyak orang sibuk dan mati-matian mengejar dunia, seolah-olah dunia akan dibawa ke liang kubur. Padahal saat ajal datang, tak satu pun jabatan, harta, atau kemewahan yang ikut menyelamatkan.
Banyak orang mengejar harta tanpa henti. Tenaga diperas, waktu dikorbankan, bahkan prinsip digadaikan. Namun justru hartanya menyeretnya pada kelalaian dan menjauhkan dari dzikir kepada Allah.
Banyak orang memburu kemewahan. Rumah megah, kendaraan mahal, gaya hidup berkelas. Tetapi kemewahan itu perlahan menumbuhkan kesombongan dan membuat hati semakin keras.
Di tengah kegilaan mengejar dunia itu, Allah SWT menurunkan satu ayat yang sangat menggugah. Teguran yang lembut, namun menghunjam:
“أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ“
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan (kepada mereka)?” (QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini bukan ditujukan kepada orang kafir, melainkan kepada orang beriman. Seakan Allah sedang mengetuk hati kita: Belum datangkah waktunya?
Kisah yang Menggetarkan
Ayat ini menjadi titik balik kehidupan seorang perampok yang kemudian dikenal sebagai wali besar, Fudhail bin Iyadh.
Suatu malam ia hendak memanjat dinding untuk mencuri. Tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca ayat ini dari dalam rumah:
“Alam ya’ni lilladziina amanu an takhsya’a qulubuhum lidzikrillah…”
Ayat itu seperti petir yang menyambar jiwanya. Ia terdiam, lalu berkata, “Ya Allah, sungguh telah datang waktunya.”
Malam itu juga ia bertaubat. Dari seorang perampok, ia berubah menjadi ahli ibadah dan ulama yang zuhud. Satu ayat mengubah seluruh arah hidupnya.
Teguran untuk Kita
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat merasa Allah sedang menegur keadaan hati mereka.
Begitu cepat hati bisa mengeras. Bukan karena hilang iman, tetapi karena terlalu lama tenggelam dalam kesibukan dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika hati rusak oleh cinta dunia, maka seluruh hidup ikut rusak arahnya.
Belum Datangkah Waktunya?
Belum datangkah waktunya kita memperbaiki shalat kita?
Belum datangkah waktunya kita berhenti menunda taubat?
Belum datangkah waktunya kita melembutkan hati yang lama mengeras?
Dunia tidak akan kita bawa mati. Harta tidak menjamin keselamatan. Kemewahan tidak menentukan kemuliaan.
Yang Allah nilai adalah hati yang tunduk. Hati yang khusyuk. Hati yang hidup dengan dzikir.
Mungkin hari ini ayat itu kembali mengetuk jiwa kita.
Belum datangkah waktunya?
(Syahruddin/sajada.id)



Komentar