Agama
Beranda » Berita » Musibah dalam Kehidupan Manusia: Ujian dari Allah dan Jalan Menuju Keberuntungan

Musibah dalam Kehidupan Manusia: Ujian dari Allah dan Jalan Menuju Keberuntungan

Pembacaan Surat Yasin dan Tahlil

SAJADA.ID–Setiap manusia tidak pernah lepas dari musibah. Kehilangan orang tercinta, sakit, bencana, kegagalan, hingga kematian adalah bagian dari perjalanan hidup yang telah Allah SWT tetapkan.

Dalam Islam, musibah bukan sekadar peristiwa menyakitkan, tetapi ujian keimanan yang mengandung hikmah besar bagi siapa pun yang menyikapinya dengan benar. Hal itu disampaikan Ustadz H. Syahruddin El-Fikri, pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah.

Allah SWT menegaskan bahwa setiap musibah terjadi atas izin-Nya, sebagaimana firman-Nya:

BMKG: Perubahan Iklim Global Picu Lonjakan Bencana Hidrometeorologi di Sumatra

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)

Karena itu, seorang Muslim diajarkan untuk memandang musibah dengan iman, sabar, dan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Sejumlah warga memasukkan jenazah ke liang kubur

Musibah sebagai Ujian Keimanan

Allah SWT secara jelas menjelaskan bentuk-bentuk musibah yang akan dialami manusia dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 155–157. Ayat-ayat ini menjadi pedoman utama bagi kaum beriman dalam menghadapi cobaan hidup.

Prof Abdul Rauf: Ketidaksesuaian Ekofisiologi Lahan Picu Banjir dan Longsor

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menunjukkan bahwa musibah hadir dalam berbagai bentuk. Rasa takut mencakup kecemasan dan ketidakamanan hidup. Kelaparan melambangkan kesempitan ekonomi. Kekurangan harta, jiwa, dan hasil usaha menggambarkan kehilangan yang sering kali mengguncang hati manusia.

Jiwa yang Kehilangan Nurani, Inikah “Negeri Para Bedebah?”

Namun, Allah SWT tidak membiarkan hamba-Nya tanpa arah. Di tengah ujian tersebut, Allah justru memberi kabar gembira, bukan kepada mereka yang mengeluh, tetapi kepada orang-orang yang sabar.

Persiapan memasukkan jenazah ke laing kubur.

Sikap Orang Beriman Saat Ditimpa Musibah

Allah SWT kemudian menjelaskan ciri orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’” (QS. Al-Baqarah: 156)

Jelang Ramadhan, PWI Depok dan Bapanas Gelar Gerakan Pangan Murah di HPN 2026

Kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” bukan sekadar ucapan penghibur. Kalimat ini adalah pernyataan iman, pengakuan bahwa seluruh kehidupan manusia adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Melalui kalimat ini, seorang Muslim menundukkan hati, menerima takdir, dan menyerahkan urusan sepenuhnya kepada Allah SWT. Itulah kalimat Istirja’.

Ustadz H. Syahruddin El-Fikri, yang juga seorang jurnalis ini dalam kajiannya terkait kematian menjelaskan bahwa kalimat tersebut mengajarkan manusia untuk menyadari keterbatasannya.

Koperasi Annisa MNU Kota Depok Gelar RAT Tahun Buku 2025

“Kematian dan musibah adalah cara Allah mengingatkan bahwa hidup bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan menuju akhirat,” ujarnya.

Cukuplah Kematian Jadi Nasihat

Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar selalu menjadikan kematian sebagai nasihat paling kuat dalam menjalani kehidupan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Kafā bil-mauti wā‘izhā”, yang berarti “Cukuplah kematian sebagai pelajaran.”

Ketua Umum Yayasan Rumah Berkah Nusantara ini menjelaskan bahwa pesan singkat Rasulullah SAW itu sangat dalam. Hadits itu, ungkapnya, menegaskan bahwa tidak ada nasihat yang lebih jujur dan tegas bagi manusia selain mengingat kematian.

Puncak Hari Pers Nasional 2026 Digelar di Serang, Banten

Sebab, kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditawar, tidak bisa ditunda, dan akan mendatangi setiap jiwa tanpa memandang usia, jabatan, atau kekayaan.

Pesan Rasulullah SAW tersebut mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari kesibukan duniawi dan merenungi arah hidupnya. Mengingat kematian akan menumbuhkan kesadaran bahwa hidup di dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utama.

Dengan mengingat kematian, seseorang terdorong untuk memperbaiki shalatnya, membersihkan niatnya, serta menjauhi maksiat dan kezaliman. Kesadaran ini juga menumbuhkan sikap rendah hati, karena manusia menyadari bahwa semua yang dimilikinya akan ditinggalkan.

Saat nyawa terpisah dari badan, maka tak ada lagi yang bisa dibanggakan. Ambulan siap mengantarkan ke pemakaman yang menjadi peristirahatan terakhir. (foto: ilustrasi)

Lebih dari itu, “kafā bil-mauti wā‘izhā” mengajarkan agar seorang Muslim hidup dengan penuh kesiapan. Bukan kesiapan materi, tetapi kesiapan iman dan amal. Rasulullah SAW menginginkan umatnya menjadi pribadi yang selalu siap bertemu Allah SWT dalam keadaan taat, sabar, dan husnul khatimah.

Dengan menjadikan kematian sebagai pengingat, manusia tidak akan lalai dalam kebaikan dan tidak berlebihan dalam mencintai dunia, karena ia sadar bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa.

Orang-Orang yang Beruntung: Mereka yang Bersabar

Allah SWT kemudian menegaskan balasan istimewa bagi orang-orang yang sabar:

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Dalam ayat ini, kata Ustadz Syahruddin, Allah SWT menyebutkan tiga nikmat besar bagi orang-orang yang sabar.

Pertama, shalawat dari Allah, yang bermakna pujian, keberkahan, dan perhatian khusus dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Ini adalah kemuliaan yang tidak diberikan kepada sembarang orang.

Kedua, rahmat Allah, yaitu kasih sayang, pertolongan, dan ketenangan hati di dunia serta keselamatan di akhirat. Rahmat ini menjadi penyejuk jiwa di tengah duka dan kesulitan.

Ketiga, petunjuk, yakni kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar, tidak tersesat oleh keputusasaan, dan tidak terjerumus dalam keluh kesah yang berlebihan.

Menurutanya, orang yang sabar sejatinya adalah orang yang paling beruntung. “Musibah boleh datang silih berganti, tetapi kesabaran akan mengantarkan seseorang pada kemuliaan di sisi Allah,” tuturnya.

Musibah sebagai Jalan Kembali kepada Allah

Ustadz Syahruddin menjelaskan, musibah bukan tanda kebencian Allah, melainkan cara Allah mendidik dan membersihkan hamba-Nya. Dengan musibah, manusia belajar tawakal, ikhlas, dan menyadari bahwa hidup sepenuhnya berada dalam genggaman Allah SWT.

Oleh karena itu, saat musibah datang, seorang Muslim tidak hanya diminta untuk kuat secara lahiriah, tetapi juga teguh secara iman. Dengan kesabaran, doa, dan keyakinan kepada Allah, musibah justru menjadi jalan menuju keberkahan dan keselamatan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar, mampu mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dengan penuh keimanan, serta meraih shalawat, rahmat, dan petunjuk-Nya. Wallahu a’lam.

(SFR/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *