Abu Abdirrahman As-Sulami adalah guru dari Imam ‘Ashim bin Abi an-Najud (wafat 127 H), imam qira’at yang bacaan Al-Qur’annya kemudian diriwayatkan oleh Hafsh—qira’at yang hingga hari ini paling luas digunakan di dunia Islam, termasuk di Indonesia.
SAJADA.ID — Tradisi keilmuan Al-Qur’an dalam Islam sejak generasi awal tidak pernah dilepaskan dari metode talaqqi—belajar langsung dari guru secara lisan dan berkesinambungan. Menariknya, tradisi agung ini juga dijalani oleh dua cucu Rasulullah ﷺ, yakni Al-Hasan bin Ali dan Al-Husayn bin Ali رضي الله عنهما.
Dalam kitab Nihâyah al-Qawl al-Mufîd fî ‘Ilm at-Tajwîd, disebutkan bahwa Al-Hasan dan Al-Husayn pernah bertalaqqi Al-Qur’an kepada Abu Abdirrahman As-Sulami, seorang tabi‘in besar dan guru utama dalam jalur qira’at Al-Qur’an. Keterangan ini tercatat pada halaman 248 kitab tersebut.
Abu Abdirrahman As-Sulami (wafat 74 H) dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam transmisi bacaan Al-Qur’an. Ia menerima bacaan Al-Qur’an dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ, di antaranya Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنهم. Selanjutnya, As-Sulami mengajarkan Al-Qur’an secara konsisten di Masjid Jami‘ Kufah selama lebih dari empat puluh tahun.
Guru Imam ‘Ashim Riwayat Hafsh
Yang lebih menarik, Abu Abdirrahman As-Sulami adalah guru dari Imam ‘Ashim bin Abi an-Najud (wafat 127 H), imam qira’at yang bacaan Al-Qur’annya kemudian diriwayatkan oleh Hafsh—qira’at yang hingga hari ini paling luas digunakan di dunia Islam, termasuk di Indonesia.
Dengan demikian, sanad bacaan Al-Qur’an yang sampai kepada kaum Muslimin hari ini—khususnya melalui qira’at Imam ‘Ashim riwayat Hafsh—memiliki mata rantai keilmuan yang sangat mulia, karena bersambung dengan cucu Rasulullah ﷺ, Al-Hasan dan Al-Husayn.
Abu Abdirrahman As-Sulami adalah guru dari Imam ‘Ashim bin Abi an-Najud (wafat 127 H), imam qira’at yang bacaan Al-Qur’annya kemudian diriwayatkan oleh Hafsh—qira’at yang hingga hari ini paling luas digunakan di dunia Islam, termasuk di Indonesia.
Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa Ahlul Bait Nabi ﷺ bukan hanya memiliki kemuliaan nasab, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga, mempelajari, dan mewariskan Al-Qur’an melalui jalur keilmuan yang sahih. Tradisi talaqqi yang mereka jalani menjadi teladan penting bahwa Al-Qur’an harus dipelajari dengan adab, sanad, dan bimbingan guru.
Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya belajar Al-Qur’an melalui jalur sanad. Mereka tidak cukup hanya membaca mushaf, tetapi memprioritaskan talaqqi agar bacaan, makhraj, dan tajwid terjaga secara autentik. Inilah warisan ilmiah yang terus hidup hingga kini.
Sebagaimana dicatat dalam Nihâyah al-Qawl al-Mufîd, para pendahulu umat Islam adalah generasi yang tidak meremehkan bacaan Al-Qur’an, bahkan menjadikannya sebagai pusat kehidupan dan pengabdian. Tradisi ini menjadi pengingat bagi umat Islam masa kini agar kembali menguatkan hubungan dengan Al-Qur’an—bukan hanya membacanya, tetapi juga mempelajarinya melalui guru dan sanad yang jelas.
(Syahruddin E/sajada.id)
Referensi:
Nihâyah al-Qawl al-Mufîd fî ‘Ilm at-Tajwîd, hlm. 248.



Komentar