Fiqih
Beranda » Berita » Asosisasi Ahli Falak se-ASEAN Resmi Terbentuk, Ini Pandangan Ketua Umumnya

Asosisasi Ahli Falak se-ASEAN Resmi Terbentuk, Ini Pandangan Ketua Umumnya

Segenap ahli ilmu falak ASEAN, berfoto bersama usai pembentukan lembaga yang menaungi ahli astronomi Islam itu, di Malaysia, belum lama ini. (Dok)
Segenap ahli ilmu falak ASEAN, berfoto bersama usai pembentukan lembaga yang menaungi ahli astronomi Islam itu, di Malaysia, belum lama ini. (Dok)

Asosisasi Ahli Falak se-ASEAN Resmi Terbentuk, Ini Pandangan Ketua Umumnya

sajada.id/ – Prof Dr H Ahmad Izzuddin MAg Guru Besar Ilmu Falak Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara (Southeast Asian Association of Islamic Astronomers/SAAIA).

Dalam Muzakarah Falak Peringkat MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) di Negeri Sembilan Malaysia 22-26 Juli 2025, Prof Izzuddin hadir bersama delegasi Indonesia lainya, yaitu Dirjen Bimas Islam Prof Dr H Abu Rohmad MAg, Direktur Urais Dr H Arsyad Hidayat Lc MA dan Kasubdit Hisab Rukyat Kemenag RI, H Ismail Fahmi.

Bagaimana asosiasi ini ke depannya, apa targetnya, berikut petikan wawancara dengan Guru Besar Ilmu Falak ini;

Walimatul Ursy atau Minta Sumbangan?

Apa latar belakang ide pembentukan Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara?

Saat saya menjadi delegasi negara Indonesia pada acara Muzakarah Falak Peringkat MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) di Negeri Sembilan Malaysia 22 sd 26 Juli 2025, bersama delegasi Indonesia lainya, Drjen Bimas Islam Prof Dr H Abu Rohmad, M.Ag, Direktur Urais Dr H Arsyad Hidayat, Lc, MA dan Kasubdit Hisab Rukyat Kemenagr RI, H Ismail Fahmi.

Saya berpikir, wilayah Asia Tenggara secara geografis, untuk upaya penyatuan dan penyelerasan pelaksanaan ibadah yang terkait dengan ilmu Falak, sangat mungkin dilakukan dan tidak mengganggu keabsahan ibadah. Lalu saya sampaikan ke delegasi Indonesia, terutama pak Dirjen Prof Abu, menyetujui dan apresiasi , lalu saya mencoba mendiskusi dengan delegasi negara Malaysia, Brunei dan Singapura.

Dengan semangat semua negara, apalagi delegasi Malaysia Prof Madya Dr Mohd Saiful Anwar dan Prof Dato’ Dr Mohd Zambri dengan semangat untuk segera membentuk wadah yang dapat berupaya untuk penyatuan keilmuan, penguatan kerja sama kawasan, serta pengembangan disiplin ilmu falak Islam di wilayah Asia Tenggara, sehingga terbentuk inisiasi Asosisasi pada hari Rabu, 23 Juli 2025/ 28 Muharram 1447 H di Klana Resort Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia dengan nama: Southeast Asian Association of Islamic Astronomers (SAAIA, atau Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara).

Anak Lahir di Luar Nikah, Siapa Walinya?

Sebenarnya kami delegasi Indonesia memberikan penghormatan salah satu delegasi Malaysia selaku tuan rumah untuk menjadi Ketua Umum SAAIA, namun ternyata semua delegasi negara Malaysia, Singapura dan Brunei meminta saya untuk pertama kali menakhodainya, dengan restu pimpinan delegasi Indonesia Dirjen Bimas Isam, saya menyatakan bismilah menerima amanat ini. Semoga dimudahkan Allah SWT.

Asosiasi ini didirikan sebagai sebuah wadah profesional dan ilmiah yang bertujuan untuk:


1. Membangun kerja sama regional antara para ahli falak di wilayah Asia Tenggara. Menjadi platform pertukaran informasi data pengamatan, hasil riset, dan inisiatif pendidikan, pelatihan, dan penelitian dalam bidang ilmu falak.

Ini Perkiraan Malam Nisfu Sya’ban 1447

2. Mendorong pelaksanaan riset, pelatihan, dan publikasi akademik dalam bidang falak, secara terstruktur dan berjenjang;

3. Meningkatkan pemahaman publik terhadap pentingnya ilmu falak dalam kehidupan beragama umat Islam bersama.

Delegasi Indonesia
Delegasi Indonesia

Apa harapan Anda sebagai Ketua Umum pendiri SAAIA?

Saya berharap melalui SAAIA para Ahli Falak se Asia Tenggara dapat berdiskusi, bertukar pemikiran, membangun pemikiran bersama yang maslahah yang berbasis sains dalam hal ibadah yang berhubungan ilmu falak.

Kemenag Ingatkan Risiko Besar Nikah Tak Tercatat, Perempuan dan Anak Paling Rentan

– Melalui SAAIA, diharapkan para ahli Falak se-Asia Tenggara dapat mengadakan penelitian kolaboratif, mengadakan pengkaderan dan pelatihan terstruktur dan bersertifkat dan publikasi bersama.

– Dan melalui SAAIA ini juga diharapkan, para ahli Falak se Asia Tenggara dapat membangun dan mengimplementasikan KIR (Kriteria Imkannur Rukyat) MABIMS terbaru mengglobal berawal dari wilayah Asia Tenggara, dalam pemahaman implematasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana struktur awal organisasi (ketua, wakil, sekretaris) dan perwakilan negara.

Anak Tanpa Nasab Ayah, Siapa Wali Nikahnya?

Penasihat dijabat oleh Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag (Indonesia), Prof. Dato’ Dr. Mohd Zambri bin Zainuddin (Malaysia), dan Dr. H. Arsyad Hidayat, Lc, MA. (Indonesia). Nanti ditambah lagi dari Singapura dan Brunei Darussalam (DS).

Kemudian ketua umum saya sendiri, lalu wakil ketua dijabat Prof. Madya Dr. Mohd Saiful Anwar bin Mohd Nawawi (Malaysia), dan juga perwakilan Singapura dan Brunei.

Sekretaris Umum dijabat oleh Ustaz Shahril Azwan bin Hussin (Malaysia), dibantu wakil Sekretaris H. Ismail Fahmi, S.Ag (Indonesia), serta dari Brunei dan Singapura.

Menghisabkan NU, Merukyatkan Muhammadiyah; Upaya Menyatukan Penetapan Kalender Islam

Untuk nama Ahli Falak negara Brunei DS dan Singapura, menunggu persetujuan dari Menteri Agama Brunei dan Singapura.

Deklarasi ini disahkan pada hari Rabu, 23 Juli 2025 M / 28 Muharram 1447 H, bertempat di Klana Resort Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia, Kesekretariatan Pusat di Jakarta Indonesia. Southeast Asian Association of Islamic Astronomers (SAAIA), Kesekretariatan Pusat: Kementerian Agama RI lt. 7 Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta, Indonesia.


Apa peran nasional—khususnya Indonesia—dalam membangun asosiasi ini?

Ada beberapa yang akan diarahkan:

– Negara Indonesia bisa menjadi motor penggerak untuk melakukan kolaborasi dalam hal rekap data pengamatan, penelitian, kajian, penelitian dan menjadi rujukan yang berbasis saintific.

– Negara Indonesia menjadi markaz Falakiyah Asia Tenggara dalam bidang Pendidikan dan pelatihan terstruktur dan berjenjang, ada program Sarjana, magister dan doctor dan juga ada pelatihan tingkat dasar, menengah dan atas dan pada level TOT.

– Negara Indonesia akan selalu menjadi penggerak diskusi dialogis untuk membangun pemahaman ilmplementasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apa misi utama SAAIA dalam konteks falak Islam di wilayah regional?

Asosiasi ini didirikan sebagai sebuah wadah profesional dan ilmiah yang bertujuan untuk:- Membangun kerja sama regional antara para ahli falak di wilayah Asia Tenggara.

– Menjadi platform pertukaran informasi data pengamatan, hasil riset, dan inisiatif pendidikan, pelatihan, dan penelitian dalam bidang ilmu falak.

-Mendorong pelaksanaan riset, pelatihan, dan publikasi akademik dalam bidang falak secara terstruktur dan berjenjang.

– Meningkatkan pemahaman publik terhadap pentingnya ilmu falak dalam kehidupan beragama umat Islam bersama.

– Menjadi forum diskusi dialogis untuk membangun pemahaman implementasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apakah SAAIA akan menjadi standar bersama dalam penentuan kalender Hijriah?

Saya kira ini langkah strategis untuk membangun standar bersama dalam penentuan kalender hijriyah yang efektif secara dialogis terstruktur dengan baik. Sehingga perlu selalu dibangun diskusi dialogis untuk membangun pemahaman implemetasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apa dampak peluncuran SAAIA terhadap masyarakat dan institusi pendidikan Islam?

Saya kira akan membawa dampak positif untuk membangun kebersamaan dalam upaya implementasi ilmu falak untuk ibadah dari bidang riset, pendidikan dan kajian serta pelatihan. Terutama untuk membangun diskusi dialogis untuk membangun pemahaman implementasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.


Ketua Umum Southeast Asian Association of Islamic Astronomers (SAAIA) Prof Dr Ahmad Izzuddin MAg (kanan) menyerahkan SK SAAIA kepada Ketua Delegasi Singapura dalam Muzakarah Falak Peringkat MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) di Klana Resort Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.(dok)
Ketua Umum Southeast Asian Association of Islamic Astronomers (SAAIA) Prof Dr Ahmad Izzuddin MAg (kanan) menyerahkan SK SAAIA kepada Ketua Delegasi Singapura dalam Muzakarah Falak Peringkat MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) di Klana Resort Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.(dok)

Bagaimana dengan keterlibatan generasi muda?

Saya kira generasi muda penerus menjadi sangat penting sekali dalam keterlibatannya untuk dapat melanjutkan upaya ini berkelanjutan.

Apa tantangan terbesar dalam menyatukan pendekatan falak antar negara dengan keragaman praktik?

Tantangan terberat adalah adanya perbedaan dalam putusan akhir implementasi kriteria yang disepakati, ada yang dengan hisab rukyat dengan sidang isbat kayak di Indonesia, ada yang masih rukyat murni dengan Keputusan raja negaranya, ada yang cukup dengan hisab dengan putusan majlis agamanya, ada yang dengan hisab rukyat dengan putusan sultan atau rajanya.

Sehingga saya kira perlu selalu dibangun diskusi dialogis untuk membangun pemahaman implementasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai Guru Besar Ilmu Falak dan tokoh falak nasional, apa harapan pribadi Anda terhadap SAAIA?

Saya berharap melalui SAAIA para Ahli Falak se-Asia Tenggara dapat berdiskusi, bertukar pemikiran, membangun pemikiran bersama yang maslahah yang berbasis sains dalam hal ibadah yang berhubungan ilmu falak.

Juga para ahli Falak se Asia Tenggara inj dapat mengadakan penelitian kolaboratif, mengadakan pengkaderan dan pelatihan terstruktur dan bersertifkat dan publikasi bersama.

Melalui SAAIA para ahli Falak se-Asia Tenggara dapat membangun dan mengimplementasikan KIR (Kriteria Imkannur Rukyat) MABIMS terbaru mengglobal berawal dari wilayah Asia Tenggara.

Sehingga saya kira perlu selalu dibangun diskusi dialogis untuk membangun pemahaman implementasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.


Sebagai Guru Besar UIN Walisongo apakah Anda akan mempromosikan UIN Walisongo Semarang sebagai pusat falak Islam di dunia?

Sejak tahun 2007 merintis prodi Ilmu Falak, yang kita tahu embrio prodi Ilmu Falak di Indonesia adalah Fakultas Syariah IAIN Walisongo 2007, melalui program PBSB 2007, saat Dirjen Pendis Prof Qodri A Azizy, Direktur PD Pontren Kemenag RI Dr H Amin Haidari, Rektor IAIN Walisongo Prof Dr Abdul Djamil dan Dekan Fakultas Drs H Muhyiddin, MSI, dibukalah Konsentrasi Ilmu Falak di dalam prodi Al-Akhwal al-Syakhsyiyah, saya bersama Drs H Eman Sulaeman, MH diamanati menangani Konsentrasi Ilmu Falak tersebut. Kami susun struktur matkul Ilmu Falak yang hanya 4 sks menjadi 48 sks lalu berlanjut berdiri sendiri menjadi prodi Ilmu Falak. Dan sekarang berdiri prodi S1 Ilmu falak di Surabaya, Makasar, Mataram, Aceh dll. Sekarang sudah ada S2 dan S3 Ilmu Falak.

Berkali kali saya terlibat dalam kegiatan nasional maupun regional (MABIMS) bahkan internasional, selalu atas nama dosen ilmu falak fakultas Syariah IAIN Walisongo dan kemudian kami bersama pengelola prodi falak 2009 membentuk Asosiasi Dosen Ilmu Falak Indonesia, saya diamanati sebagi Ketua Umum ADFI.

Ditugasi Tim Pembangunan Planetarium Observatorium IAIN Walisongo, Prof Musahadi dan tim waktu itu, untuk study banding ke Planetarium Tenggarong, Kalimantan Timur, TIM Jakarta dan Observatorium Angkatan Laut di Surabaya dan memberi masukan untuk kelayakan Lokasi Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo.

Kemudian menjadi perancang kurikulum ilmu falak di PTKIN dan Mahad Aly di Indonesia.

Berkali kali saya diminta memberi materi seminar, pelatihan baik nasioanal maupun regional di Malaysia, di Jakim Malaysia, di ILIM Malaysia, di Jakim Perak, di kampus Universitas Malaya, di Jakim Kelantan, dll selalu atas nama dosen ilmu falak fakultas Syariah IAIN Walisongo, termasuk menjadi delegasi Indonesia di Thailand.

Bahkan saya mendapat informasi dari dosen Universitas Malaya Malaysia yang termasuk kampus terbaik di dunia, juga mau MoU dengan UIN Walisongo satu satunya PTKAIN karena adanya prodi ilmu Falak.

Saya juga sudah menginisiasi merancang kegiatan pengamatan gerhana matahari total sekaligus umroh pada tahun 2027, se dunia saya yakin akan bergerak sama dengan kegiatan tersebut.


Sehingga saya kira melalui SAAIA ini kita akan selalu membangun diskusi dialogis untuk membangun pemahaman implementasi ilmu falak yang tetap dalam keabsahan ibadah namun maslahah bersama berdasarkan sains yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hampir seluruh kegiatan saya atas nama dosen ilmu falak IAIN Walisongo, tentu secara langsung dan tidak langsung mempromosikan bahwa UIN Walisongo adalah pusat Pendidikan dan kajian Ilmu Falak. Saya akan bawa UIN Walisongo maslahah – manfaat mendunia – mengglobal dengan ilmu falak.

(Syahruddinsajada.id/)