
Benarkah Dajjal tidak Bisa Masuk Madinah?
sajada.id/–Menjelang Hari Kiamat, Dajjal, sosok makhluk yang paling menakutkan, akan muncul. Kemunculannya membawa pesan penting yang harus menjadi perhatian umat Islam. Sebab, karena kehadirannya banyak umat manusia yang akan mengikuti ajarannya dan menjauhi Allah SWT. Karena itulah, umat Islam wajib waspada.
Di akhir zaman nanti, Dajjal berjalan dari satu waktu ke waktu lain, dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang sangat cepat. Karena “kekuasannya” itu ia berhasil mengajak jutaan umat manusia untuk ikut padanya.
Hanya saja, ada dua kota yang disebutkan Rasulullah SAW bahwa dajjal tidak akan bisa memasukinya, yakni Makkah dan Madinah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan fari Anas ibn Malik RA, bahwasanya Nabi bersabda:
ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال إلا مكة والمدينة ليس له من نقابها نقب إلا عليه الملائكة صافين يحرسونها . ثم ترجف المدينة بأهلها ثلاث رجفات فيُخرج الله كل كافر ومنافق) (رواه مسلم)
“Tidak ada suatu negeri pun kecuali Dajjal akan memasukinya kecuali Makkah dan Madinah; pada keduanya tidak terdapat satu tempat pun kecuali para akan malaikat berbaris menjaganya. Kemudian Madinah akan menggoncangkan penduduknya sebanyak tiga kali, lalu Allah mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik.” (Shahih Bukhari, no. 1881)
Sedangkan dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa Nabi SAW berkata: “Al-Masih akan datang dari arah Timur dengan tujuan Madinah hingga sampai di belakang Uhud.” (Shahih Muslim, no. 1379, 2943).
Adapun riwayat dari Ahmad dengan sanad shahih mengatakan: “Dajjal akan turun di Sabkhah (perkampungan di atas Mulawwahah) melalui Qonat (lembah Qonat).” (al-Musnad, no. 5353)
Fatimah binti Qois meriwayatkan bahwa ia berkata: “Saya shalat bersama Rasulullah, di shaf wanita di belakang kaum lelaki. Selesai sholat, Rasulullah duduk di mimbar sambil tertawa dan berkata: Hendaknya setiap orang tetap di tempat sholatnya. Kemudian sambungnya: Tahukah kalian mengapa aku kumpulkan di sini? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya saja yang tahu.
Beliau menimpali: Sesungguhnya aku ini, demi Allah, tidak mengumpulkan kalian karena cinta atau benci, tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamin al-Dary seorang lelaki Nasrani datang, berbai'at kepadaku dan masuk Islam dan bercerita kepadaku bahwa ia naik perahu laut bersama 30 orang lelaki pengidap kusta, dan diguncang ombak selama sebulan, kemudian mereka merapat ke sebuah pulau hingga menjelang terbenam matahari.
Mereka duduk-duduk dekat perahu dan masuk ke pulau itu, kemudian ditemui oleh seekor binatang melata yang banyak rambutnya hingga tidak dapat diketahui mana muka mana belakangnya.
Mereka bertanya, "siapa kamu?" Binatang itu berkata: "Saya adalah mata-mata. Mereka bertanya lagi: Mata-mata (kepada siapa)? Ia menjawab: Hai orang-orang, pergilah kalian kepada seorang lelaki ini di rumah seorang pendeta, ia akan memberitahu kalian tentang kerinduan (al-asywâq).
Lalu kami pun pergi dengan cepat dan masuk ke dalam rumah pendeta itu, dan ternyata kami mendapati seorang yang sangat agung yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kami bertanya: Siapa kamu? Ia jawab: Kalian dapat mengetahuiku, maka beritahu dulu siapa kalian ini?
Mereka jawab: Kami adalah orang-orang Arab yang sedang menumpang kapal laut, dan gelombang air laut menggoncang kami hingga kami terdampar di pulau ini. Kemudian kami duduk di dekat kapal, dan ketika kami masuk ke dalam pulau ini kami bertemu dengan seekor binatang berambut sangat banyak, hingga tidak diketahui mana depan dan mana belakangnya.
Kami tanya: Siapa kamu? Ia menjawab: "Saya adalah mata-mata." Kami tanya lagi: "Mata-mata siapa?" Jawabnya: "Pergilah kepada seorang lelaki di rumah pendeta, karena dia akan memberitahumu tentang kabar gembira, maka kami pun bergegas menemuimu." Dan kami terkejut serta tidak percaya mendapati seseorang yang angker.
Lelaki itu berkata: (Hai kalian) Katakanlah kepadaku tentang Nakhl Baysan (kota di Yordan). Kami jawab: Apanya yang kami katakan? Katanya: "Saya tanya kalian tentang pohon kurmanya, apakah berbuah?" Kami katakan: "Ya. Hampir saja pohon itu tidak berbuah."
Ia bertanya lagi: "Beritahu saya tentang Danau Thabriyah (Tiberias, pen)?" Kami jawab: Apanya yang ingin kau ketahui? "Apakah di dalamnya terdapat air?" tanyanya. Kami jawab: "Danau itu banyak airnya, dan hampir saja airnya surut."
la bertanya lagi: "Beritahu saya tentang air mata Zaghr." Kami bertanya: "Apanya yang ingin engkau ketahui?" la bertanya lagi: "Apakah mata air itu masih menghasilkan air? Apakah penduduknya bercocok-tanam dengan air itu?" Kami jawab: "Ya, airnya banyak dan penduduknya bercocok-tanam dengan air itu."
la bertanya lagi: "Beritahu saya tentang Nabi yang buta huruf, apa yang dikerjakannya?" Jawab kami: "la telah meninggalkan Makkah dan tinggal di Yatsrib." la bertanya lagi: "Apakah bangsa Arab memeranginya?" "Ya", jawab kami. "Apa reaksinya?", tanyanya lagi. Kami beritahukan bahwa telah muncul atas dari orang-orang Arab setelahnya, mereka mematuhinya. "Benarkah demikian?," tanyanya lagi. Kami jawab: "Ya."
Ia lalu berkata: "Memang lebih baik mereka mematuhinya, dan sekarang saya akan beritahu kepada kalian siapa saya ini. Saya adalah al-Masih (Dajjal), saya takut dianiaya, maka saya keluar. Saya berjalan di muka bumi, tidak ada satu desa pun kecuali aku akan mendiaminya selama 40 malam selain Makkah dan Thayyibah (Madinah). Keduanya diharamkan atasku, setiap kali aku akann memasuki salah satunya, aku dihadapkan pada malaikat yang di tangannya ada pedang mencegahku untuk masuk. Setiap celah masuk ke dalamnya terdapat malaikat yang menjaganya.
Rasulullah bersabda: "Inilah Thayyibah, inilah Thayyibah, inilah Thayyibah -yaitu Madinah–, bukankah saya telah menceritakannya kepada kalian?" Orang-orang menjawab: "Betul. Saya terkejut dengan cerita Tamim karena sesuai dengan apa yang aku katakan tentang dirinya, Madinah dan Makkah." (Lebih detail baca: Shahih Muslim, Kitab al-Fitan, Bab Dzikr Ibn Shayyad, 18/78)
Demikianlah kisah Al-Masih Dajjal sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW. Semoga jadi pelajaran bagi umat Islam. Wallahu a’lam. (Syahruddinsajada.id/)


