Humor
Beranda » Berita » Topi Abu Nawas dan Konspirasi Kebohongan

Topi Abu Nawas dan Konspirasi Kebohongan

Abu Nawas menunjukkan topinya peda sang Raja. (Ilustrasi)

Ketika kebohongan dibalut dengan gengsi, maka kejujuran akan hilang.

SAJADA.ID–Abu Nawas, selalu saja ada tingkah polahnya. Tak hanya rakyat biasa, raja pun berani dia bohongi. Kok bisa?

Di tengah-tengah keramaian Abu Nawas melihat ke dalam topinya, lalu tersenyum bahagia. Orang-orang yang menyaksikan merasa heran, lalu bertanya;

Bagi Tukang Cukur Ini, Tuhan itu Tak Ada

“Wahai Abu Nawas, apa yang kau lihat dalam topimu, sehingga membuatmu tersenyum bahagia?

“Aku sedang melihat surga yang dihiasi barisan bidadari,” jawab Abu Nawas meyakinkan.

“Coba aku lihat?” pinta salah seorang penasaran.

“Tapi saya tidak yakin kamu bisa melihat seperti apa yang kulihat,” kata Abu Nawas.

Belajar dari Filosofi Kehidupan Tukang Parkir

“Mengapa?” tanya orang-orang di sekitar Abu Nawas serempak, semakin penasaran.

“Karena hanya orang beriman dan sholeh, yang bisa melihat surga dengan bidadarinya di topi ini,” jawab Abu Nawas meyakinkan.

Salah seorang mendekat, lalu berkata; “Coba aku lihat.”

Karpet Kecil dan Taruhan yang Berbahaya Abu Nawas

“Silakan,” kata Abu Nawas”

Orang itu segera melihat ke dalam topi, lalu sejenak menatap ke arah Abu Nawas. Kemudian ia menengok ke orang di sekelilingnya. “Benar, Aku melihat surga dan bidadari di dalam topi ini,” kata orang itu berteriak.

Orang-orang pun heboh ingin menyaksikan surga dan bidadari dalam topi Abu Nawas.

Tapi Abu Nawas selalu wanti-wanti, bahwa hanya orang beriman yang bisa melihatnya.

Abu Nawas “Menipu Tuhan” dan Sejarah Syair I’tirof

Dari sekian orang yang melihat ke dalam topi, banyak yang mengaku melihat surga dan bidadari. Hanya beberapa yang tak melihat dan terus terang menyatakan bahwa dirinya tak melihat.

Mereka berkesimpulan Abu Nawas telah berbohong, sehingga melaporkannya ke Raja, dengan tuduhan telah menebarkan kebohongan dalam masyarakat.

Abu Nawas akhirnya dipanggil menghadap Raja untuk diadili. “Benarkah dari dalam topimu bisa terlihat surga dengan bidadarinya?”

Jawaban Keren Abu Nawas: Satu Pertanyaan Tiga Jawaban

“Benar paduka, tetapi hanya orang beriman yang bisa melihatnya. Sementara yang tidak bisa melihatnya, berarti dia belum beriman bahkan masih kafir. Kalau paduka mau menyaksikannya, silakan,” kata Abu Nawas.

“Baiklah, saya mau menyaksikannya sendiri,” kata Raja. Tentu Raja tak melihat surga apalagi bidadari di dalam topi Abu Nawas. Tapi Raja lalu berpikir, kalau ia mengatakan tak melihat surga dan bidadari, berarti ia termasuk tak beriman.

Pelabelan ini tentu bisa merusak reputasinya sebagai Raja. Maka, Raja itu pun berteriak girang: “Engkau benar Abu Nawas, aku menyaksikan surga dan bidadari di dalam topimu.”

Kala Abu Nawas Menyiasati Tukang Bohong

Rakyat yang menyaksikan reaksi Rajanya itu, diam seribu bahasa. Mereka tak ada lagi yang berani membantah Abu Nawas, karena takut dianggap belum beriman. Apalagi, konspirasi kebohongan yang ditebar Abu Nawas telah mendapat legitimasi Raja.

Menyikapi situasi itu Abu Nawas justru tertawa sinis sambil bergumam: “Beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan akan merajalela. Takut untuk bicara jujur, karena faktor gengsi. Gengsi dianggap belum beriman atau alasan lainnya. Padahal, label gengsi itu hanya rekayasa opini yang dipenuhi kebohongan.”

Apakah “legitimasi kebohongan” seperti kisah tadi, pernah atau sedang kita alami di negeri kita. Mari kita renungkan.

(Syahruddin/sajada.id/)