
Tarekat: Jalan Sunyi Para Kekasih Allah
sajada.id/, PURWAKARTA – Tarekat adalah jalan bagi seorang abid (hamba) dalam mengabdi kepada Allah SWT. Hal itu disampaikan oleh Mustafad Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh An-Nahdliyyah (Jatman) Idaroh Wustho Jawa Barat, Abah KH. M. Irfa’i Nahrowi, dalam acara Bincang Sufi yang digelar di Ponpes Al Muhajirin 5, Purwakarta, Sabtu (23/8/2025).
“Banyak jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Dan tarekat merupakan salah satu jalan dalam mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah SWT,” ujar Abah Irfa’i.
Lebih lanjut, Mursyid Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah ini menyampaikan, melalui tarekat, seorang hamba berupaya memperbaiki diri untuk semakin mendekat kepada Allah dengan jalan zikir atau wirid.
“Para wali (auliya) banyak mengamalkan zikir dan wirid dalam upaya taqarrub ilallah (mendekat kepada Allah). Ada yang mengamalkan zikir tertentu, seperti wirid tahlil, ada yang mengamalkan shalawat, ada pula yang mengamalkan asmaul husna,” jelasnya.

Ulama asal Atas Angin, Tasikmalaya ini menambahkan, dengan memperbanyak zikir, maka seorang hamba akan menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik. Zikir bukan hanya sekadar rangkaian kata yang diucapkan oleh lisan, melainkan sebuah jalan untuk menghidupkan hati.
Allah SWT berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
“Dengan zikir, hati seorang hamba akan tenang, jiwanya terjaga, dan pikirannya senantiasa diarahkan menuju kebaikan,” tutur Abah Irfa’i.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa para sufi meyakini zikir sebagai kunci untuk naik dari maqam (tingkatan) yang satu menuju maqam berikutnya. Seorang salik (penempuh jalan spiritual) yang istiqamah dalam zikir akan dibimbing menuju ma’rifatullah, yakni pengenalan yang mendalam kepada Allah SWT.
Menurutnya, maqam tertinggi seorang sufi adalah ketika ia sampai pada derajat fana’ fillah (melebur dalam kehendak Allah) dan baqa’ billah (hidup dengan kekekalan bersama Allah). Tahapan ini tidak bisa dicapai dengan teori semata, tetapi dengan suluk (perjalanan rohani) yang penuh kesungguhan, zikir yang konsisten, serta bimbingan seorang mursyid yang kamil.
“Para sufi mencontoh jalan para kekasih Allah (awliya’), yang senantiasa mengisi hidupnya dengan zikir, muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi), dan mujahadah (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu). Inilah jalan sunyi yang sesungguhnya, jalan yang membawa seorang hamba kepada mahabbah (cinta sejati) kepada Allah SWT,” jelas Abah Irfa’i.
Ia menambahkan, tarekat bukanlah jalan baru dalam Islam, melainkan warisan spiritual dari Rasulullah ﷺ kepada para sahabat, tabi’in, hingga sampai kepada para wali Allah. “Intinya adalah dzikrullah, karena dengan zikir inilah seorang hamba dapat memasuki ‘alam tertinggi’—alam kedekatan dengan Sang Pencipta,” pungkasnya.
(Syahruddinsajada.id/)





