SAJADA.ID – Suasana Masjid Jami Daarul Mu’minin, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, Kota Depok, terasa khidmat pada Ahad malam (16/2). Sejumlah jamaah menghadiri acara Ruwahan Akbar yang diselenggarakan PRNU Rangkapan Jaya Baru.
Hadir sebagai penceramah, KH A. Fakhruddin Murodih, MA, yang menyampaikan tausiyah bertema keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ serta pentingnya memperbanyak amal di bulan Ramadhan.
Dalam ceramahnya, beliau mengawali dengan pembahasan tentang tawasul. Menurutnya, tawasul bukanlah perkara baru dalam tradisi Islam. Ia mengutip riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Adam AS pernah bertawasul kepada Nabi Muhammad ﷺ saat memohon ampun kepada Allah SWT.
“Ketika Nabi Adam berdoa, beliau memohon ampun lantaran Nabi Muhammad. Allah bertanya, ‘Darimana engkau tahu nama Muhammad?’
Nabi Adam menjawab, ‘Aku melihat nama Muhammad bersanding dengan nama-Mu. Tidak mungkin ia istimewa jika tidak bersanding dengan nama-Mu,’” tutur beliau di hadapan jamaah.
Keistimewaan Umat Islam
Kisah tersebut, jelasnya, menunjukkan kemuliaan Rasulullah ﷺ bahkan sebelum beliau dilahirkan ke dunia. Nama Nabi Muhammad telah disebut dan dimuliakan sejak awal penciptaan.

KH Fakhruddin juga menyampaikan bahwa para nabi terdahulu mengetahui keistimewaan umat Muhammad. Bahkan disebutkan dalam beberapa riwayat, Nabi Musa AS merasa iri dan ingin menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad karena besarnya keutamaan yang diberikan Allah kepada umat akhir zaman ini.
Dua Cahaya
Dalam kesempatan itu, beliau membacakan sebuah hadits yang populer dalam majelis-majelis ilmu:
“A’thaitu li ummati Muhammad SAW, nuraini kayla yarudduhum zulmatan: Nuurul Quran wa Nurur Ramadhan.”
Artinya: “Aku berikan dua cahaya kepada umat Muhammad SAW agar mereka tidak ditimpa dua kegelapan. Dua cahaya itu adalah cahaya Al-Qur’an dan cahaya bulan Ramadhan.”
Sementara itu, dua kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan kubur dan kegelapan hari kiamat. Sementara dua cahaya tersebut menjadi penerang bagi orang-orang beriman.
Menurut KH Fakhruddin, inilah bukti keberuntungan umat Nabi Muhammad ﷺ. Umat ini diberi dua anugerah besar sekaligus: Al-Qur’an sebagai petunjuk sepanjang zaman dan bulan Ramadhan sebagai momentum penyucian diri.

“Kalau kita ingin kubur kita terang, maka terangi hidup kita dengan Al-Qur’an. Kalau ingin selamat di hari kiamat, maka maksimalkan Ramadhan dengan puasa, qiyam, sedekah, dan amal saleh,” tegasnya.
Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan emas yang mungkin tidak akan terulang. Umat Muhammad adalah umat yang singkat usianya dibanding umat terdahulu, namun Allah menggantinya dengan pahala yang berlipat ganda.
Ruwahan
Karena itu, Ruwahan sebagai tradisi menyambut Ramadhan hendaknya menjadi momentum memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, serta mempererat silaturahim. Dengan begitu, cahaya Ramadhan dan cahaya Al-Qur’an benar-benar hadir dalam kehidupan.
Acara Ruwahan Akbar malam itu ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT mempertemukan jamaah dengan Ramadhan dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan.
Inti dari tausiyah tersebut adalah satu pesan kuat: betapa beruntungnya menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ. Tinggal bagaimana setiap Muslim memanfaatkan anugerah dua cahaya itu untuk menerangi dunia, kubur, dan akhiratnya.
(Syahruddin/sajada.id)



Komentar