Home > Hikmah

Kebiasaan Mengagumkan Cucu Rasulullah

Hasan memiliki sifat lembut, dermawan, dan penuh kasih sayang.
Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib dimakamkan di Pemakaman Baqi, Madinah.
Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib dimakamkan di Pemakaman Baqi, Madinah.

Kebiasaan Mengagumkan Cucu Rasulullah 




SAJADA.ID--Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah menantu sekaligus sepupu Rasulullah SAW. Pernikahannya dengan Fatimah, putri Rasulullah, melahirkan beberapa orang anak. Seperti Hasan dan Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Dari beberapa anaknya, dua nama tersebut yang paling populer di kalangan umat Islam. Kedua anak Ali dan Fatimah itu sangat disayang oleh Rasulullah SAW. Bahkan keduanya sangat dibanggakan Rasulullah dihadapan sahabat-sahabatnya.

Hasan dan Husain memiliki sifat yang berbeda. Hasan bin Ali dikenal dengan sikapnya yang lembut dan penuh kepedulian serta kasih sayang. Segala persoalan yang ada, dia akan menyelesaikannya dengan penuh ketenteraman dan kekeluargaan. Dia lebih mendahulukan dialog dibandingkan ketegasan. Sayangnya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat, ia terbunuh oleh istrinya, demi usahanya menjaga perdamaian.

Sebaliknya, Husain memiliki sikap tegas dan disiplin. Dia keukeuh memegang sebuah prinsip. Jika ada yang melanggar prinsip itu, maka dia tak segan melawannya. Tak peduli, siapapun mereka. Karena itu pula, dia berhadapan dengan 'lawan' yang berusaha menyingkirkannya, hingga ia terbunuh di Karbala.

Hasan, memiliki kisah yang mengagumkan terhadap wong cilik, orang miskin. Sebagaimana dikisahkan, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, putra pertama Sayyidina Ali, hampir setiap hari di bulan Ramadhan, selalu menghidangkan makanan bagi orang miskin untuk berbuka.

Beliau melayani dan mengatur makanan yang diberikan pada para tamunya, untuk segenap orang miskin yang berada di Madinah kala itu.

Sebegitu populernya acara tersebut sampai hampir seluruh masyarakat yang ada mengetahui bahwa bila ingin berbuka dan menikmati makanan nikmat mereka boleh ke tempat Hasan bin Ali.

Semakin hari semakin banyak orang datang, dan walaupun demikian makanan yang disiapkan selalu mencukupi untuk semua tamu.

Di antara para tamu tersebut, ada satu orang yang pada hari itu membawa pulang makanannya tanpa menyentuhnya. Ia hanya membatalkan dengan sebuah kurma dan 3 teguk air. Dan ini tak luput dari pandangan Beliau.

Beliaupun tergelitik untuk bertanya:"Saudaraku tercinta, tidak seperti yang lain, engkau tidak memakan makananmu, apakah ada keluargamu yang sedang sakit ?. Bila iya, izinkan saya membantu atau minimal bolehkah saya menengoknya ?... Semoga saya bisa melakukan sesuatu."

Orang tua itu pun menatap Sayyidina Hasan, dan kemudian dengan wajah sedih ia menjawab: "Maafkan saya, wahai cucu Rasulullah SAW, saya hidup sebatang kara, dan saya tidak punya keluarga lagi. Tentang makanan ini, saya ingin berikan kepada seorang lelaki gagah yang selalu saya temui di perkebunan yang ada di dekat rumahku. Setiap hari saya melihatnya kerja di perkebunan itu, dan bila waktu berbuka tiba dia selalu hanya memakan sepotong roti kering yang dibasahi air. Ia bekerja dan bekerja, sepertinya tak ada kelelahan menghampirinya."

Image
SAJADA.ID

Partner of Republika Network. Official Media Yayasan Rumah Berkah Nusantara. email: infosajada.id, Silakan kirimkan info

× Image