Home > Hikmah

Bakul Pecel Naik Haji

Ia menabung Rp 10 ribu setiap hari selama 11 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji.
Jutaan jamaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah (Dok. Rumah Berkah)
Jutaan jamaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah (Dok. Rumah Berkah)

Namanya Siti. Lengkapnya Siti Indasah. Usianya 62 tahun. Wanita asal Pati, Jawa Tengah itu berhasil menunaikan ibadah haji di tahun 2022, bersama dengan 105 ribu jamaah haji asal Indonesia.

Tak disangka dan tak diduga. Saat panggilan haji itu tiba. Siti mengaku, dirinya hanya orang miskin yang kesehariannya dengan berjualan nasi pecel di pasar. Dari jualan pecel itu, ia berhasil mengantongi sekitar Rp 100 ribu sehari. Dari uang yang didapatkannya itu, selain diputar Kembali untuk modal usaha, sebagiannya ia sisihkan.

“Saya tabung Rp 10 ribu,” ujar Siti saat ditanya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat melepaskan rombongan pertama jamaah haji asal Jawa Tengah di Semarang, 3 Juni 2022.

Siti mengakui, setiap hari ia menyisihkan uang Rp 10 ribu dari hasil jualan pecel, untuk modal dia berangkat haji. “Ben dinten (setiap hari), pak,” ujarnya kepada Gubernur Ganjar Pranowo dengan malu-malu.

Mendengar hal itu, Ganjar pun terdiam. Ia terharu. Betapa tidak, sosok Ibu Indasah yang seorang perempuan, berjualan nasi pecel, mampu berangkat haji. Ia merelakan hidupnya mungkin dalam kesulitan setiap hari. Tetapi, demi menunaikan panggilan ilahi, menunaikan rukun Islam yang kelima, ia berusaha semaksimal mungkin, hingga akhirnya panggilan itu benar-benar datang.

“Labbaik Allahumma Labbaik, Aku datang, Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah,” demikian kiranya diungkapkan Ibu Siti.

Selama 11 tahun ia mengumpulkan uang, Rp 10 ribu setiap hari. Dan selama 11 tahun, terkumpul uang setidaknya sejumlah Rp 40.150.000,- dan uang itu ia gunakan untuk pergi menunaikan ibadah haji.

Dalam kekurangannya, dalam kesederhanaannya, bahkan mungkin dia kerap dicaci maki, dihina karena berjualan pecel, tapi siapa sangka, untuk panggilan Allah menunaikan ibadah haji, ia mampu dan sanggup.

Bagaimana dengan kita? Berapa banyak hasil kerja yang sudah kita lakukan? Apa yang kita perbuat dengan pekerjaan tersebut? Berapa biaya yang kita keluarkan untuk membeli mobil atau sepeda motor dengan cara mencicil?

Mungkin, kita lebih mampu dari Ibu Siti. Penghasilan kita sebulan bisa mencapai Rp. 7 juta atau bahkan lebih dari Rp 10 juta dalam sebulan. Tapi dari uang sebanyak itu, berapa banyak uang yang kita sisihkan untuk memenuhi panggilan Allah, menunaikan ibadah haji?

Terima kasih Ibu Siti, dalam kesederhanaanmu, engkau telah mengajarkan banyak hal. Memberikan inspirasi bagi orang lain untuk menomorsatukan panggilan Allah. Dalam kesederhanaanmu, engkau menunjukkan betapa berbahagianya dirimu. Betapa mulianya dirimu. Betapa hebatnya dirimu dalam menunaikan ibadah kepada Allah, engkau rela hidup serba kekurangan atau dalam kesederhanaan.

Terima kasih Ibu Siti, kami bangga dengan dirimu. Engkau menunaikan ibadah haji dengan jerih payah keringatmu. Setiap tetes keringatmu, mengalir kemuliaan. Allahu yubarik fiik. (Syahruddin E)

× Image