Hikmah
Beranda » Berita » Penyebab Manusia Mudah Tertipu

Penyebab Manusia Mudah Tertipu

Penyebab Manusia Mudah Tertipu

Manusia tertipu dengan kemewahan dunia dan kekhawatiran akan kematian.

Oleh Syahruddin El Fikri

Dunia Ladang Akhirat dan Pentingnya Menuntut Ilmu Agama dari Sanad yang Benar

Sahabat Rumah Berkah yang dirahmati Allah.

Siapapun orangnya, tidak ada yang mau tertipu atau ditipu. Tetapi adakalanya, entah dalam keadaan sadar atau tidak, seseorang tetap saja tertipu. Dan tertipu itu, rasanya tidak enak. Membuat seseorang gampang marah, mudah emosi, dan lain sebagainya. Maka, bila seseorang sudah tahu bahwa yang terjadi adalah hanya permainan dan tipu daya, tentu dirinya tidak akan mau masuk ke dalam permainan tersebut.

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al An’am [6]: 32).

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ 64

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut [29]; 64).

Mbah Moen: Tirakat Paling Mantap Itu Adalah…….

Dalam surah Muhammad [47] ayat 36 juga diterangkan;

Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu.” (QS. Muhammad [47]; 36).

Kehidupan dunia hanyalah tipu daya, maka sudah sepantasnya manusia berhati-hati. Dan orang-orang yang beriman, akan menyikapi kehidupan dunia yang penuh tipu daya ini dengan senantiasa memantapkan diri beribadah kepada Allah dan menyiapkan bekal di akhirat kelak. Yakni, kehidupan yang kekal dan abadi.

Khutbah Rasulullah Menjelang Ramadhan

Karenanya, mereka yang beriman akan bersikap tenang dalam menghadapi situasi demikian. Ada beberapa hal yang melandasi seorang beriman dalam kondisi ini.

Artikel Terkait:

Kisah Ulama yang Doanya Tertolak karena Sebutir Kurma

Kelompok yang Mengiringi Jenazah

Ramadhan Bagi Sayyidina Hasan, Cucu Nabi SAW

10 Golongan yang Jasadnya Masih Utuh Hingga Hari Kiamat

Buku Sehat dengan Wudhu

Dapatkan buku Sehat dengan Wudhu di Shopee, Klik disini

Satu Butir Nasi untuk 2750 Orang


Pertama, haknya tidak akan hilang. Jika dia bersikap merelakan harta itu untuk penipu, maka Allah SWT akan mengganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak.

Jika tidak merelakannya, maka bisa menuntutnya di akhirat sesuai kadarnya. Maka hak tetap terjaga dengan baik.

"Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya." (QS. At-Thalaq; 3).

Bakul Pecel Naik Haji

Maka yakinlah bahwa hak seseorang tidak hilang dan tidak tertukar meskipun telah ditipu. Ingatlah pada saat kita ditipu, maka saat itulah menikmati sebagian rezeki kita telah berakhir. Terjadinya penipuan ini sudah kehendak-Nya.

Kedua, doa yang mustajab. Seseorang yang tertipu sama posisinya dengan seseorang yang dizalimi. Dan doa orang terzalimi itu mustajab karena tidak adanya hijab antara doanya dengan Allah SWT.

"Waspadailah doa orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara ia dan Allah." (HR. Bukhari).

Dilanjutkan dengan hadis yang diriwayatkan Muslim yang artinya, “Orang yang bangkrut di antara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi, dia juga telah mencela orang ini, memakan harta orang itu, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang itu.

Lantas, orang yang dizalimi ini diberikanlah kebaikan-kebaikannya untuk orang yang dizalimi yang ini, diberikan pula kepada korban kezaliman yang lain. Hingga apabila kebaikannya telah habis, sedangkan kezalimannya belum semua terbayar, maka sebagian dosa-dosa orang-orang yang dizalimi akan dipikulkan kepadanya, lalu dia dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Ketiga, menerima terjadinya penipuan itu sebagai takdir Allah. Mereka yang bertawakal atas kondisi yang dialaminya, maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah, dihapuskan dosa-dosanya, dan kedudukannya akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah." (QS. Luqman; 33).

Artikel Terkait:

Kisah Ulama yang Doanya Tertolak karena Sebutir Kurma

Kelompok yang Mengiringi Jenazah

10 Golongan yang Jasadnya Masih Utuh Hingga Hari Kiamat

Buku Sehat dengan Wudhu

Dapatkan buku Sehat dengan Wudhu di Shopee, Klik disini


Godaan dan Pesona Dunia

Manusia mudah tertipu oleh gemerlap, godaan, dan pesona dunia. Mereka ingin menikmati kemewahan yang tampak secara kasat mata. Sehingga sesuatu yang menggiurkan, membuatnya mudah tergoda dan terpesona.

Lihatlah para koruptor. Mereka terpesona dengan kepentingan sesaat. Ketika ada kesempatan berbuat aniaya, maka mereka melakukannya walaupun ada ribuan atau jutaan orang sengsara akibat perbuatannya. Tertipu yang menyebabkan kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang disukai hawa nafsu.

Begitu pula dengan pesona wanita. Banyak di antara manusia yang tertipu dengan keindahan dan kemolekan wanita. Maka ketika kemolekan berada di depan mata, selagi ada kesempatan, mereka memanfaatkan hal itu untuk kesenangan sesaat.

Perbuatan demikian, merupakan perangkap iblis untuk menyesatkan manusia. Dalam surah al-Hadid ayat 14, Allah berfirman;

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”

Baca Juga:

Hadis Arbain Nawawi No. 1; Pentingnya Niat

Hadis Arbain Nawawi No. 2; Iman, Islam, dan Ihsan

Hadis Arbain Nawawi No. 3: PIlar Islam


Banyak Angan-Angan

Angan-angan dalam kehidupan seorang hamba selalu memberikan warnanya, membayangkan sesuatu yang belum terjadi (menjadi harapannya). Panjang atau banyak angan-angan disebut juga thulul amal, adalah banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia. Thulul Amal menjadi salah satu penyebab tertipu.

Disebutkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR Bukhari).

Panjang angan-angan ini betul-betul berdampak buruk karena akan merusak hati. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa hati orang yang sudah tua akan seperti anak muda saat cinta dunia dan panjang angan-angan.

Betapa beratnya ujian bagi orang yang sudah tua, semestinya mengumpulkan bekal perjalanan kekalnya bukan bersikap (hatinya) seperti anak muda karena cintanya pada dunia. Panjang angan untuk menjadi anggota DPR di semua tingkatan, menjadi anggota kabinet, dan keinginan menjadi presiden dan wakilnya.

Artikel Terkait:

Kisah Ulama yang Doanya Tertolak karena Sebutir Kurma

Kelompok yang Mengiringi Jenazah

10 Golongan yang Jasadnya Masih Utuh Hingga Hari Kiamat

Buku Sehat dengan Wudhu

Dapatkan buku Sehat dengan Wudhu di Shopee, Klik disini


Takut Mati

Godaan berikutnya adalah manusia gampang tergoda untuk hidup selamanya. Ketika mendengar kematian, mereka khawatir. Inilah yang disebut dengan karahiyatul mawt (takut mati). Yang muda takut akan menjadi tua, yang kaya takut menjadi miskin, yang cantik dan tampan takut menjadi jelek. Sebuah ketakutan yang kurang beralasan. Sebab, hakikatnya manusia itu pasti tua, pasti akan mati.

Kullu nafsin dza’iqatul mawt.” “Setiap yang bernyawa itu, pasti akan mati.” (QS. Ali Imran [3]: 185, juga QS. Al Anbiya [21]: 35, dan Al-Ankabut [29]; 57).

Firaun punya jabatan sebagai raja, akhirnya dia mati. Qarun, kekayaan sangat besar dan melimpah, akhir dia mati dan terkubur bersama hartanya ke dalam bumi. Ini adalah contoh.

Orang kaya, mati. Orang miskin, mati. Raja-raja, mati. Rakyat jelata, mati. Ustadz, kyai, ulama, juga akan mati. Presiden, menteri, dokter, hakim, guru, juga akan mati.

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat mencintai dunia (hubbud dunya) dan karahiyatul mawt.

(syahruddin el-fikri/rumah berkah)

Artikel Menarik Lainnya:

Kisah-Kisah Islami dan Inspiratif

Pembahasan Al-Quran

Tempat Bersejarah di Dunia Islam

Ulasan Seputar Buku dan Kitab Klasik

Cerita Abu Nawas dan Humor Lucu

Silakan beri komentar atas berita ini, dan monggo dibagikan bila bermanfaat.

Terima kasih.