Oleh: Syahruddin El Fikri
Suatu pagi di sebuah gang sempit, seorang lelaki tua memanggul dua kantong plastik hitam. Isinya sisa makanan dari hajatan semalam. Nasi yang dulu harum, kini basi. Lauk yang kemarin diperebutkan, hari ini dibuang. Tak ada lagi yang mau menyentuhnya.
Ia menatapnya sejenak, lalu berkata lirih, “Beginilah nasib harta yang dimakan.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghentak kesadaran. Harta yang kita makan, pada akhirnya akan menjadi kotoran. Ia masuk ke tubuh, memberi tenaga sesaat, lalu keluar sebagai sesuatu yang dibuang dan dijauhi. Tidak salah menikmati rezeki Allah.
Namun jika seluruh hidup hanya berputar pada apa yang masuk ke perut, maka manusia sedang menukar sesuatu yang abadi dengan sesuatu yang sangat fana.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan hal ini dengan sangat jelas. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim disebutkan:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟
“Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku! Padahal tidaklah hartamu itu kecuali yang engkau makan lalu habis, yang engkau pakai lalu usang, atau yang engkau sedekahkan lalu ia menjadi kekal.” (HR. Muslim)
Hadis ini seperti cermin besar bagi manusia. Kita merasa memiliki banyak harta, padahal yang benar-benar menjadi milik kita hanya tiga: yang dimakan, yang dipakai, dan yang disedekahkan. Selebihnya hanyalah titipan.
Harta yang dimakan akan habis. Bahkan ujungnya menjadi sesuatu yang kotor dan dibuang. Ia memberi kenikmatan sebentar, lalu hilang tanpa bekas.
Harta yang dipakai pun tidak jauh berbeda nasibnya. Baju yang mahal akan pudar warnanya. Sepatu yang bagus akan rusak solnya. Rumah yang megah akan kusam catnya. Mobil yang mewah akan aus mesinnya.
Waktu adalah “pemakan” paling rakus yang tak pernah berhenti menggerogoti segala yang kita miliki.
Lalu bagaimana dengan harta yang disimpan?
Banyak orang bekerja keras seumur hidup untuk mengumpulkan harta. Tabungan dijaga, aset ditambah, tanah dibeli, bangunan dibangun. Namun ketika pemiliknya dipanggil Allah, semua itu berubah status. Dari “milikku” menjadi “warisan”.
Tidak sedikit keluarga yang awalnya rukun justru retak karena harta warisan. Saudara kandung berselisih. Anak menggugat saudara. Bahkan ada yang sampai bertahun-tahun bermusuhan hanya karena pembagian harta.
Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa harta hanyalah ujian:
“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.”(QS. At-Taghabun: 15)
Di sinilah sedekah menemukan maknanya yang paling dalam.
Harta yang disedekahkan tidak basi seperti makanan. Tidak rusak seperti pakaian. Tidak menjadi sumber pertengkaran seperti warisan. Ia justru berubah menjadi amal yang kekal.Allah menggambarkan dahsyatnya pahala sedekah dalam firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Satu kebaikan bisa berlipat menjadi tujuh ratus bahkan lebih. Inilah investasi yang tidak pernah rugi.
Dalam sebuah riwayat yang sangat terkenal, Rasulullah ﷺ pernah menyembelih seekor kambing dan membagikannya kepada orang-orang. Ketika beliau bertanya kepada Aisyah r.a. tentang bagian kambing yang tersisa, Aisyah menjawab,
“Tidak ada yang tersisa kecuali bahunya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Yang tersisa semuanya kecuali bahunya.” (HR. Bukhari).
Logika manusia mengatakan bahwa yang dibagikan itu hilang. Namun logika langit mengatakan justru itulah yang tersimpan.
Sedekah bukan hanya soal memberi. Ia adalah cara membersihkan hati dari sifat kikir. Ia juga menjadi jembatan kepedulian sosial. Dari sedekah, orang yang lapar bisa makan, anak yatim bisa belajar, dan orang sakit bisa berobat.
Senyum orang yang menerima bantuan sering kali menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah. Doa mereka bisa melesat ke langit tanpa kita sadari.
Namun yang paling menggetarkan adalah ketika Al-Qur’an menggambarkan penyesalan manusia setelah kematian.Allah ﷻ berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُونَ مِنَ الصَّالِحِينَ
”Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’”(QS. Al-Munafiqun: 10).
Perhatikan ayat ini dengan seksama.Orang yang sudah meninggal tidak berkata, “Ya Rabb, kembalikan aku agar aku bisa shalat.”
Tidak pula ia berkata, “Agar aku bisa berpuasa.” Yang ia minta adalah kesempatan untuk bersedekah.
Para ulama menjelaskan bahwa sedekah disebut secara khusus karena manfaatnya yang luas dan pahalanya yang terus mengalir. Ia memberi manfaat kepada orang lain sekaligus menjadi bekal besar bagi pelakunya di akhirat.
Saat kematian datang, manusia baru menyadari bahwa harta yang selama ini dikumpulkan tidak bisa menolongnya. Rekening tidak ikut masuk ke kubur. Sertifikat tanah tidak menjadi cahaya di alam barzakh. Rumah dan kendaraan tidak menjadi teman di alam akhirat.
Yang menemani hanyalah amal
Karena itu para ulama sering mengingatkan dengan kalimat yang sangat dalam maknanya:Harta yang dimakan akan menjadi kotoran.
Harta yang dipakai akan menjadi rombengan.Harta yang disimpan akan menjadi warisan dan mungkin menjadi sumber pertengkaran.Tetapi harta yang disedekahkan akan menjadi keabadian.
Sebelum kita berada pada saat penyesalan itu, sebelum kesempatan tertutup dan ajal datang tanpa pemberitahuan, mari kirimkan sebagian harta kita untuk akhirat.
Sebab ketika tanah telah menutup tubuh dan manusia kembali sendiri, tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menunggu balasan dari apa yang pernah kita kerjakan di dunia.Dan salah satu amal yang paling terang cahayanya di akhirat adalah sedekah.
(SFR/sajada.id)





Komentar