
Mungkinkah Melihat Nabi dalam Keadaan Sadar?
sajada.id/–Sungguh kebahagiaan bagi mereka yang bisa melihat dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, baik dalam mimpi maupun sadar (terjaga). Yang menjadi pertanyaannya, karena Rasulullah SAW telah wafat 1400 tahun silam, mungkinkah saat ini bisa berjumpa dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga?
Pertanyaan ini mungkin sudah jamak diungkapkan. Apalagi pada beberapa tahun lalu ada orang yang mengaku dirinya berjumpa dengan manusia mulia tersebut.
Pro kontra menyikapi masalah tersebut. Yang kontra di antaranya menyatakan bahwa yang bisa berjumpa dengan Rasulullah adalah orang-orang suci dan terpilih. "Manusia biasa apalagi banyak dosa nggak mungkin bisa berjumpa," begitu di antaranya jawaban masyarakat.
"Mereka yang bisa berjumpa hanya orang-orang baik," timpal lainnya.
Yang pro menyatakan bahwa siapa saja bksa berjumpa. Apalagi mereka mengetahui orang yang mengaku berjumpa dengan Rasulullah itu adalah idola mereka. Entah itu ulama, artis, atau figur publik lainnya.
Benarkah demikian itu? Entahlah, semua punya argumen bahkan mungkin dalil untuk membenarkan pendapatnya.
Namjn, seperti disampaikan KH. Ma'ruf Khozin, ketua PW Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, dalil utama terkait keabsahan berjumpa dengan Nabi saat kondisi sadar (bukan mimpi) adalah hadis bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
«ﻣَﻦْ ﺭَﺁﻧِﻲ ﻓِﻲ اﻟﻤَﻨَﺎﻡِ ﻓﺴﻴﺮاﻧﻲ ﻓِﻲ اﻟﻴَﻘَﻈَﺔِ، ﻭَﻻَ ﻳَﺘَﻤَﺜَّﻞُ اﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺑِﻲ»
"Barangsiapa yang melihat saya dalam mimpi maka ia akan melihat saya dalam keadaan terjaga. Dan setan tidak bisa menyerupai saya." (HR Bukhari 6993)
Lebih lanjut, KH. Ma'ruf Khozin menyebutkan sejumlah penjelasan sejumlah ulama:
ﻭﺣﻤﻠﻪ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺟﻤﺮﺓ ﻭﻃﺎﺋﻔﺔ ﻋﻠﻰ اﻧﻪ ﻳﺮاﻩ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﻭﻳﺨﺎﻃﺒﻪ ﻭﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻛﺮاﻣﺔ ﻣﻦ ﻛﺮاﻣﺎﺕ اﻷﻭﻟﻴﺎء ﻭﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺃﻧﻬﻢ ﺭﺃﻭا اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﻨﺎﻡ ﺛﻢ ﺭﺃﻭﻩ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻟﻴﻘﻈﺔ
Hadis ini diarahkan oleh Abi Jamrah dan segolongan ulama bahwa melihat Nabi di dunia secara hakikat dan bisa berdialog dengan Nabi. Ini adalah karamah dari sekian karamah para wali.
"Telah diriwayatkan dari banyak ulama bahwa mereka melihat Nabi dalam mimpi lalu berjumpa dengan Nabi secara nyata setelah mimpi tersebut," ungkapnya.
ﻭﺃﻣﺎ ﺃﺻﻞ ﺭﺅﻳﺘﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ اﻟﻴﻘﻈﺔ ﻓﻘﺪ ﻧﺺ ﻋﻠﻰ ﺇﻣﻜﺎﻧﻬﺎ ﻭﻭﻗﻮﻋﻬﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﻣﻨﻬﻢ ﺣﺠﺔ اﻹﺳﻼﻡ اﻟﻐﺰاﻟﻲ ﻭاﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ اﻟﻌﺮﺑﻲ ﻭاﻟﺸﻴﺦ ﻋﺰ اﻟﺪﻳﻦ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺴﻼﻡ ﻭاﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺟﻤﺮﺓ ﻭاﺑﻦ اﻟﺤﺎﺝ ﻭاﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﻓﻲ ﺁﺧﺮﻳﻦ ﻭﻟﻲ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﺆﻟﻒ
Hal pokok tentang melihat Nabi dalam keadaan terjaga, kata Kyai Khozin, sudah dijelaskan oleh para ulama bahwa hal itu dapat terjadi. Di antaranya Hujjatul Islam Al Ghazali, Qadhi Abu Bakar Ibnu Arabi, Syekh Izzuddin bin Abdussalam, Ibnu Hajj dan Al Yafii. (Ad-Dibaj Syarah Muslim, 5/286)
"Soal karomah memang bukan untuk konsumsi umum. Kiai-kiai dan guru-guru saya yang alim dan ahli ibadah juga memiliki karomah, tapi saya tidak menceritakan pada orang lain. Sebab orang lain tidak akan percaya jika tidak melihat langsung kesehariannya."
Berdasarkan penjelasan di atas, biasanya orang yang mengaku berjumpa dengan Rasulullah, tak pernah mau menceritakan hal pertemuan itu. Dia akan menyimpannya rapat-rapat. Sebab, banyak orang yang akan menertawakan atau bahkan menjelaskan dia karena pengakuan itu.
Apalagi, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang berdusta tentang diriku, maka bersiaplah dia menempati neraka."
Wallahu a’lam
(Syahruddin El Fikrisajada.id/)


