Agama
Beranda » Berita » Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Ruwahan, Munggahan, dan Nyadran: Warisan Budaya Sarat Makna Ibadah

Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Ruwahan, Munggahan, dan Nyadran: Warisan Budaya Sarat Makna Ibadah

Kegiatan Ruwahan di antaranya diisi dengan semaan dan Khataman Al-Qur’an.

SAJADA.ID – Ramadhan selalu disambut dengan penuh suka cita oleh umat Islam. Namun di Indonesia, kedatangannya tidak hanya ditandai dengan kalender hijriah atau pengumuman resmi pemerintah. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki tradisi turun-temurun sebagai bentuk persiapan lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci.

Di tanah Betawi dikenal dengan istilah ruwahan. Di Jawa ada mungahan atau nyadran. Di Aceh ada meugang, di Sumatera Barat dikenal balimau dan malamang. Semua tradisi ini lahir dari kesadaran yang sama: membersihkan diri, mempererat silaturahmi, serta mengingat kematian sebelum memasuki Ramadan.

Ruwahan dalam Tradisi Betawi

Bagi masyarakat Betawi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, bulan Sya’ban sering disebut bulan Ruwah. Dari sinilah istilah ruwahan berasal.

Mahasiswa Kafilah Dakwah Dilepas, Kemenag Harapkan Dakwah Berdampak Nyata

Tradisi ini biasanya diisi dengan ziarah kubur, membaca Yasin dan tahlil untuk orang tua serta leluhur, membersihkan makam, serta mengadakan doa bersama di rumah. Tidak jarang keluarga juga membagikan makanan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah.

Secara historis, tradisi ini berkembang seiring proses Islamisasi di Batavia sejak abad ke-16. Para ulama menggunakan pendekatan budaya agar ajaran Islam mudah diterima masyarakat.

Dalam perspektif syariat, ziarah kubur sendiri memiliki dasar yang kuat. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

Ini 50 UPZIS dan JPZIS NU Care–Lazisnu Depok

“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)

Ziarah menjadi sarana muhasabah, menyadari bahwa kehidupan dunia sementara, dan mempersiapkan diri menghadapi Ramadan dengan hati yang lebih tunduk.

Munggahan dan Nyadran di Tanah Jawa

Di wilayah Yogyakarta, Surakarta, dan berbagai daerah Jawa Tengah serta Jawa Timur, masyarakat mengenal tradisi munggahan dan nyadran.

Jelang Ramadhan, NU Care–LAZISNU Depok Perkuat Tata Kelola Zakat Lewat Madrasah Amil dan Pengukuhan UPZIS

Kata “munggahan” berasal dari “unggah” yang berarti naik. Maknanya adalah menaikkan kualitas spiritual sebelum Ramadan. Biasanya diisi dengan makan bersama keluarga, pengajian, doa, serta saling bermaafan.

Sementara nyadran identik dengan ziarah kubur massal, membersihkan makam, lalu mengadakan kenduri atau doa bersama. Tradisi ini memperkuat hubungan sosial sekaligus menghidupkan nilai ukhuwah.

Al-Qur’an sendiri menganjurkan umat Islam untuk saling memaafkan dan membersihkan hati:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

Resmi Diumumkan, KH. Anwar Iskandar Pimpin MUI Periode 2025–2030

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)

Momentum munggahan menjadi ruang sosial untuk saling memaafkan sebelum memasuki bulan ampunan.

Tradisi Serupa di Berbagai Daerah

Musibah dalam Kehidupan Manusia: Ujian dari Allah dan Jalan Menuju Keberuntungan

Di Banda Aceh dan wilayah Aceh, masyarakat memiliki tradisi meugang, yakni memasak dan menyantap daging bersama keluarga menjelang Ramadan. Tradisi ini telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

Di Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat serta Riau, masyarakat mengenal balimau—mandi menggunakan air bercampur jeruk nipis sebagai simbol penyucian diri.

Sementara di Makassar, masyarakat Bugis-Makassar memiliki tradisi menyalakan pelita menjelang Ramadan sebagai simbol penerangan hati menyambut bulan suci.

Ini Perbedaan Masjid dan Mushalla

Walau berbeda bentuk, seluruh tradisi ini bermuara pada semangat yang sama: menyambut Ramadan dengan hati bersih dan hubungan sosial yang kembali hangat.

Ramadan dan Persiapan Spiritual

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan Ramadan adalah ketakwaan. Maka segala bentuk persiapan, termasuk tradisi ruwahan, munggahan, maupun nyadran, sejatinya adalah jalan kultural menuju tujuan tersebut.Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Agar Ramadan benar-benar menjadi momentum pengampunan, hati perlu dipersiapkan. Tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan syariat dapat menjadi sarana memperkuat niat, mempererat silaturahmi, dan membangkitkan kesadaran spiritual.

Pada akhirnya, esensi dari seluruh tradisi itu bukan pada seremoni, melainkan pada kesiapan jiwa. Ramadan bukan hanya datang dalam hitungan hari, tetapi harus hadir dalam hati yang bersih, relasi yang damai, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

(Syahruddin El-Fikri/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *