SAJADA.ID— Almarhum KH. Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen dikenal sebagai ulama kharismatik yang tidak hanya mendalam dalam ilmu, tetapi juga penuh kebijaksanaan dalam menasihati umat. Semasa hidupnya, Rais Aam PBNU itu kerap menyampaikan pesan-pesan sederhana, namun sarat makna dan relevan sepanjang zaman.
Salah satu pesan penting Mbah Moen yang hingga kini terus dikenang adalah tentang amalan paling hebat dalam Islam. Menariknya, amalan yang beliau maksud bukanlah shalat tahajud, bukan pula puasa sunnah, apalagi sedekah.
“Kalau memang tidak bisa menjalankan shalat malam, ya tidak usah dipaksakan. Kalau memang tidak kuat puasa sunnah, ya tidak usah puasa sunnah,” ujar Mbah Moen dalam salah satu nasihatnya.
Begitu pula dengan sedekah. Menurut beliau, ibadah tidak boleh menjadi beban yang justru melahirkan kepalsuan. “Kalau memang tidak bisa sedekah karena memang tidak punya, ya tidak usah sedekah,” kata Mbah Moen.
Menjaga Hati, Tirakat Paling Berat
Ulama yang wafat di Tanah Suci Makkah ini kemudian menegaskan bahwa tirakat yang paling “jos”, paling berat, sekaligus paling mulia adalah menjaga hati. “Tirakat yang jos itu ya selalu memiliki hati dan akhlak yang baik, tidak berburuk sangka kepada orang lain,” tutur beliau.
Pesan ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang menekankan pentingnya kebersihan batin. Allah SWT berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Menurut Mbah Moen, hati yang baik akan melahirkan amal yang baik pula. Sebaliknya, ibadah lahiriah yang tampak hebat bisa kehilangan nilainya jika tidak disertai kebersihan hati.
Ibadah Tanpa Hati yang Ikhlas
Dengan gaya tutur yang lugas, Mbah Moen mengingatkan bahaya ibadah yang hanya berhenti pada ritual. “Buat apa kaya kalau hati mencaci-maki orang miskin. Buat apa sedekah kalau hati tidak ikhlas. Buat apa zikir banyak kalau lisan masih suka mengumpat. Buat apa puasa, kalau hati tidak mampu menjaga diri dari syahwat duniawi,” pungkasnya.
Pesan ini senada dengan sabda Rasulullah ﷺ:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Jalan Menuju Keikhlasan
Nasihat Mbah Moen ini menjadi pengingat bahwa inti dari seluruh ibadah adalah keikhlasan dan kebersihan hati. Islam tidak hanya menilai banyaknya amal, tetapi juga kualitas batin di balik amal tersebut.
Karena itu, menjaga hati dari iri, dengki, prasangka buruk, dan kesombongan adalah bentuk jihad batin yang tidak ringan. Namun justru di situlah letak keagungan seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Pesan Mbah Moen ini kiranya layak menjadi cermin bagi umat Islam hari ini: bahwa ibadah terbaik bukan sekadar yang tampak di mata manusia, tetapi yang paling jujur di hadapan Allah—yakni hati yang bersih, lapang, dan penuh kasih.
(Syahruddin El Fikri, sajada.id)
Artikel Terkait:
Jasad Para Nabi Utuh Sampai Hari Kiamat
10 Golongan yang Jasanya Utuh Sampai Hari Kiamat



Komentar